Sertifikasi
ilmu
setoranyangtertunda
spesial_4@ilona
SERTIFIKASI ILMU
Mataku masih fokus, bolak balik memperhatikan lembar pemesanan dan layar monitor. Merunut beberapa kali dan mereceknya kembali, apakah sudah sama dengan yang kubuat.
"Permisi, Mbak." Sebuah suara menginterupsi, tapi aku tak mengindahkan.
"Permisi, Mbak." Suara itu makin keras. Terpaksa kuhentikan kerjaku.
Bukan menjawab, aku malah memandang sekeliling. Ruangan 5x6 ini tampak sesak. Dekat pintu masuk, satpam membantu beberapa pelanggan menuliskan pesanan. Meja Mas Agus pun dikelilingi pelanggan, wajahnya tampak berpeluh. AC satu peka sudah tak mampu membuat sejuk ruangan.
"Permisi! Sekali lagi, saya dapat payung, nih, Mbak!" Orang itu bicara lagi, tanpa nada emosi.
"Hahahah, maaf … tadinya berharap kamu bisa mengganggu yang lain. Ternyata malah saya yang paling sedikit pelanggannya." Akhirnya aku menjawab.
"Iya, Mbak … makanya saya ke sini. Boleh tanya sesuatu?"
"Boleh, Mas. Silahkan duduk, tapi sabar ya setelah Mbak yang ini."
Akhirnya lelaki perlente, yang mengenakan kemeja lengannya digulung sampai siku dan beransel hitam itu, duduk menunggu.
Selesai sudah urusanku dengan pelanggan satu.
"Ada yang bisa saya bantu. Tampaknya, Mas, tak hendak memesan," simpulku, melihat lelaki berkaca mata itu tak membawa kertas pesanan.
"Iya, Mbak. Saya wartawan, bermaksud menemui Pak Tyas, adakah?" Lelaki itu mengeluarkan sebuah kartu nama, tampak di pojok kanan atas, sebuah logo media cetak ternama ibukota. Kuambil, lalu membaca dengan saksama.
"Pak Tyas mau dijadikan nara sumber, ya? Temanya apa?" tanyaku.
"Pengusaha yang sedang naik daun," jawabnya.
"Loh, kenapa bukan Pak Rama?" jawabku, menyebutkan nama direktur utama perusahaan ini. Menurutku Pak Tyas hanya seorang manajer keuangan yang hadir setelah perusahaan edutainment ini berkembang.
"Dengar-dengar, Pak Rama itu tak tamat sarjana ya? Sedangkan Pak Tyas lulusan S3 Amerika."
Kutatap wajah wartawan itu.
"Jadi, Mas, ini … mau nyari pengusaha apa ilmuwan?" tanyaku ringan.
"Sebenernya nyari pengusaha, toh Pak Tyas juga pemegang saham di sini."
"Kalau cari pengusaha, harusnya Mas wawancara Pak Rama. Beliau yang memulai perusahaan ini dari nol. Pak Tyas datang hanya sebagai pemodal, dan sama sekali tak turut campur soal awal berdirinya."
"Harusnya begitu, sih. Namun, saya diatur sama pemred. Lagian maunya pembaca, mereka ingin sesuatu yang wah, mentereng dan serba ok."
"Harusnya Mas sebagai wartawan yang mengubah pola pikir seperti itu. Bahwa ilmu tak hanya bisa didapat dari ilmuwan, bahwa yang DO pun bisa menjadi nara sumber, bahwa ilmu itu bisa dari siapa saja," jawabku sedikit ngotot.
"Ish, si Mbak, ngotot. Besok-besok, Mbak aja yang jadi pemred saya, ya," ucap si wartawan sambil menampilkan senyum lebarnya, matanya mengerjap-ngerjap, seolah-olah mengejekku.
"Huh, terserah." Aku berdiri saat melihat Arul masuk ke dalam ruangan, aku memang hanya bertugas menggantikan posisi Arul saat makan siang.
"Kalau mau ketemu Pak Tyas, janjian dulu sama customer service di meja itu. Ini mah meja pemesanan," lanjutku sambil bergerak meninggalkan tempat. Sedangkan si mas wartawan tampak melongo.
Kuhempaskan badan ke kursi, menimbulkan bunyi yang mengganggu, sengaja!
"Kenapa, sih? Datang-datang bete, makan dulu, gih!" Suara berwibawa Pak Ito, Manajerku. Tidak mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang dipelajari.
"Banyak orang picik berpikir, yang bisa kasih ilmu itu cuma orang-orang yang punya pendidikan tinggi secara formal?" ocehku.
"Karena formalitas itu yang punya standart dan berhak mengeluarkan sertifikasi kemampuan," jawabnya santai.
"Tapi 'kan, di luar sana banyak orang yang tidak punya ijazah, memiliki kemampuan yang sama dengan orang yang berijazah!" Aku tak mau kalah.
"Bukti dia punya kemampuan, apa?"
"Yaaa … bisa kita lihat, lah!"
"Lihat dari mananya, menguji? Memang dia mau? Lalu kamu kira, orang-orang di pendidikan formal tidak diuji?" Pak Ito memandangku serius.
"Maksud An--."
"Dah, cerita! Kamu ada masalah apa?"
Bapak paruh baya berputra empat itu akhirnya serius mendengarkan ceritaku.
"Hmm, begitu." Kalimat pertamanya setelah mendengar ceritaku.
"Begini, An. Untuk hidup, kita memang bisa belajar dari siapa saja. Namun, untuk hal-hal tertentu, kita memang harus mencari dari orang-orang bersertifikasi. Kenapa? Untuk menjaga standarisasi ilmu. Kamu bayangkan jika para mahasiswa Fitkom belajar sama tukang reparasi komputer, bukan tak boleh, tapi disesuaikan tempatnya," jelasnya panjang lebar.
Aku manggut-manggut. Layar komputerku masih menyala, menampilkan deretan nominal hutang para agen retail. Sedangkan meja Anin, di sebelah, kosong. Tampaknya dia memilih makan siang sendiri daripada menungguku yang tak kunjung datang.
"Lalu apa pendapat Pak Ito dengan kasus yang Aan ceritakan tadi?"
"Ambil positifnya, anggap sebagai motifasi untuk menyelesaikan sekolah, mendapatkan sertifikasi formal yang dibutuhkan!"
"Harus, ya?" Suaraku masih bernada ragu.
"Aan, kita hidup di dunia manusia, yang butuh kepastian secara manusiawi. Sehebat apapun seorang konselor, dia tak akan pernah jadi referensi di sebuah seminar pendidikan kalau cuma lulusan SMU!"
"Iya juga, sih." Aku mulai menemukan benang merahnya.
"Jadi kalau ilmu mau bermanfaat lebih luas, amal jariyahmu lebih banyak. Sertifikasikan kemampuanmu!"
Aku mengangguk-angguk dengan pandangan menatap lurus ke barisan sofa merah, yang terletak persis di depan meja kerjaku. Pikiranku mulai merawang ke mana-mana.
Braaakkhh!
Aku terkejut, menatap Manajer Marketing yang selalu tampil rapi itu, tiba-tiba sudah berdiri di depan dan menggebrak mejaku.
"Makanya, selesaikan tuh skripsi! Jadi Sarjana Psikologi yang mumpuni, raih cita-citamu jadi konselor profesional. Bukan cuma jadi sasaran curhat doang … ya!"
Aku tersenyum lebar, tak menjawab apa-apa. Speechless.
-Samarinda, 6 Oktober 2019-
0 Response to "Sertifikasi"
Post a Comment