KONFLIK DALAM HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
KONFLIK DALAM
HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
I. Pengertian Konflik
Ada beberapa pengertian konflik menurut beberapa ahli.
Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977),
konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang berlaku dalam berbagai keadaan akibat
munculnya kondisi ketidaksetujuan, kontroversi atau pertentangan di antara dua
pihak atau lebih secara terus-menerus
Pace dan Fules (1994) mengatakan bahwa konflik merupakan ekspresi
pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain
karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya
perbedaan antara individu dengan individu atau kelompok dengan kelompok, yang kemudian
diekspresikan, diingat, dan dialami
Dipandang sebagai perilaku, Muclas (1999) mengatakan bahwa konflik
merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan individual,
interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi. Konflik ini terutama terjadi
pada tingkatan individual yang sangat dekat
dengan stres.
Sedangkan
menurut Myers (1982) konflik senantisa berpusat
pada beberapa penyebab utama, yakni tujuan yang ingin dicapai, alokasi sumber –
sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak
yang terlibat. Kesemua hal tersebut dapat menjadi penyebab konflik karena di
sampaikan atau di komunikasikan,.
Senada dengan Myers yang mengatakan salah satu syarat suatu kondisi
dapat disebut konflik adalah dikomunikasikan, maka pendapat Folger dan Poole
(1984) mengatakan bahwa konflik dapat dirasakan, diketahui dan diekspresikan
melalui perilaku-perilaku komunikasi. Sedangkan
Devito (1995) mengatakan interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang
satu dengan yang lainnya, tak dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam
level yang berbeda – beda
Kamus Besar
Bahasa Indonesia memberi pengertian yang lebih singkat tentang makna konflik,
yaitu memiliki arti pertentangan, perselisihan, ketegangan antara dua pihak
atau pertentangan antara dua kekuatan.
Jika kita
perhatikan semua pengertian konflik yang di jabarkan di atas, kita menemukan
benang merahnya yaitu konflik adalah pertentangan yang terjadi antara dua
individu atau dua kelompok yang dikomunikasikan akibat adanya perbedaan atau
ketidaksetujuan dalam suatu hal.
II. Konflik dan Nilai Positifnya
Seperti yang
telah diuraikan mengenai pengertian konflik, kita menemukan bahwa konflik
terjadi akibat adanya interaksi dan komunikasi antara dua individu ataupun
kelompok, artinya konflik tidak akan muncul jika tidak ada interaksi dan
komunikasi.
Dengan
interaksi dan komunikasi, manusia bisa membentuk sebuah hubungan antar manusia
yang bentuk hubungannya bisa di atur sendiri oleh manusia tersebut, misalnya
hubungan formal guru dengan siswa, hubungan pertemanan dengan semua teman kelas
atau bahkan hubungan sangat akrab dengan teman sebangku di sekolah.
Namun apapun
bentuk hubungan yang di bangun, jika didalamnya terdapat interaksi dan
komunikasi maka konflk dapat saja muncul. Hanya saja konflik tidak serta merta
muncul saat interaksi dan komunikasi dilakukan, harus muncul sebuah titik
perbedaan yang kemudian di komunikasikan yang akhirnya menyebabkan munculnya
konflik.
Kemudian
kedua individulah yang akhirnya bisa menempatkan konflik pada posisi seperti
apa. Apakah konflik diposisikan sebagi bumbu-bumbu pelezat hubungan sehingga
setelah konflik dapat di selesaikan hubungan akan semakin baik, atau bahkan
konflik di posisikan sebagai pemutus hubungan sehingga tidak ada lagi interaksi
dan komunikasi yang terjalin yang kemungkinan terbesarnya konflikpun tidak akan
pernah dapat diselesaikan
Kita kembali
dulu kepada proses perkembangan manusia, bahwa manusia akan berkembang secara
normal jika ada stimulus yang di berikan lingkungannya dalam hal ini orang lain
kepada dirinya. Proses interaksi dan komunikasi memberi banyak dampak positif
bagi manusia, selain bisa berkembang dengan normal, manusia juga bisa
mendapatkan banyak pelajaran yang belum tentu di terimanya di bangku sekolah
formal.
Begitu juga
dengan konflik, dengan berkonflik, manusia cenderung bisa di ajak berfikir
tentang dirinya, caranya berkomunikasi atau menyampaikan pendapat, menemukan
dan memperbaiki kesalahannya dan lain sebagainya. Ini memberikan dampak positif
bahwa manusia yang pernah berkonflik, jika ia mampu merenung dan melakukan self
awareness, akan memberikan masukan yang berharga guna membangun karakter diri
yang lebih bijak dan komunikatif.
Konflik juga
memberikan kemampuan pada manusia untuk lebih mengenal lingkungannya, karakter
manusia lain di sekelilingnya serta menemukan cara berkomunikasi yang lebih pas
dengan lebih banyak manusia. Dan inilah proses pembelajaran mengenal lingkungan
yang paling cepat dan tepat.
Satu lagi
nilai positif konflik adalah membuat subyek yang berkonflik mau saling membuka
diri atau Self Disclosure, pada saat
seseorang memutuskan untuk membuka lebih banyak sisi dirinya untuk di ketahui
orang lain maka makin baik hubungannya dengan orang tersebut, ini di dasarkan
pada teorinya Jauhari yang mengatakan bahwa setiap manusia memiliki 4 jendela
kepribadian
4 jendela
kepribadian tersebut adalah:
1. Open self; sisi
dimana individunya tahu dan orang lainpun tahu, contohnya adalah wujud fisik,
nama, anggota keluarganya, dll
2. Blind self;
sisi dimana individu tidak tahu tapi orang lain bisa melihatnya, contohnya
adalah perilaku kita saat gugup, ekspresi wajah kita saat mendengar sesuatu
yang tidak kita suka, dll
3. Hidden self;
sisi dimana individu tau dan berusaha menyembunyikannya dari orang lain,
contohnya adalah pengalaman buruk masa lalu, kebiasaan yang tidak sesuai dengan
usia (ex. Anak SMP yang masih ngedot), dll
4. Unknown self;
sisi dimana individu maupun orang lain tidak mengetahuinya, sisi ini biasanya
terungkap jika dilakukan tes proyektif
Jauhari
mengatakan, jika seseorang mau membuka sisi hidden
self-nya maka daerah open self-nya
makin luas, sehingga orang lain bisa lebih mengenal dan memahaminya. Atau jika
seseorang mau menerima kritikan atau masukan orang lain tentang Blind sel-fnya maka dia makin mengenal
dirinya yang tentu saja makin memudahkannya berhubungan dan berkomunikasi
dengan orang lain
III. Strategi Menghadapi Konflik
Manusia
mengatasi konflik dengan cara yang berbeda karena memang watak setiap manusia
berbeda. Manusia yang memiliki Self
Monitoring (SM) Positif memiliki kemampuan untuk Adaptif dan Fleksibel
yaitu mampu mengelola dirinya agar berperilaku sesuai dengan kondisi lingkungan
di sekitarnya, karena biasanya manusia dengan SM positif sangat sensitif norma
sehingga ia bisa memaksa dirinya untuk taat aturan, mengerti orang lain dan
menjaga perilaku agar dapat di terima oleh lingkungan.
Strategi manusia dengan SM positif saat
menghadapi konflik langkah pertama biasanya adalah Self Awareness, cenderung kembali kepada diri sendiri lebih dahulu,
berbicara pada dirinya tentang perilakunya, apakah sesuai norma, apakah
menyinggung orang lain hingga muncul konflik, baru kemudian mencoba
mendengarkan pendapat orang lain.
Setelah ia
mendapatkan data-data yang akurat, baik dari hasil perenungannya maupun
informasi dari orang lain, baru kemudian langkah selanjutnya Self Disclosure (SD). Menurut Morton
dalam Sears dkk (1989) SD adalah kegiatan membagi perasaan dan informasi yang
akrab dengan orang lain, informasi tersebut bisa deskriptif maupun evaluatif
maka dalam hal ini kegiatan tersebut haruslah bersifat evaluatif, mengevaluasi
apa yang terjadi sehingga muncul sebuah konflik bersama dengan orang lain yang
dengannya kita berkonflik.
SD memiliki
beberapa fungsi, namun dalam mengatasi konflik fungsi kita menjalankan fungsi SD yang nomor 2 yaitu
sebagai bentuk Self Clarification atau
mengklarifikasi benarkah pandangan orang lain tentang kita sama dengan kita
memandang diri kita, ini diperlukan agar dapat diketahui penyebab konflik,
betulkah karena adanya sebuah kesalahan atau hanya kesalahfahaman akibat adanya
pandangan yang tidak tepat dari orang lain terhadap kita?
Fungsi lain
dari SD yang kita gunakan adalah Relationship
Development, atau membangun hubungan, dalam hal ini jika memang hubungan
itu sudah ada namun terjadi konflik maka yang dilakukan adalah memperbaiki
hubungan tersebut, dengan harapan semakin munculnya saling pengertian sehingga
hubungan yang ada semakin harmonis
Sedangkan
manusia dengan Self Monitoring (SM)
Negatif biasanya tidak sensitif norma sehingga cenderung berperilaku sesuai
dengan norma yang di yakininya saja. Perilakunya cenderung konsisten dalam arti
manusia dengan SM negatif akan melakukan apapun yang dia anggap benar tanpa
peduli dengan pendapat lingkungan ataupun norma yang ada.
Manusia
dengan SM negatif biasanya tidak sadar saat konflik muncul, karena perilakunya
yang konsisten maka cenderung tidak menyadari jika manusia lain merasa tidak
nyaman atau tidak terima dengan perilakunya tersebut. Biasanya manusia dengan
SM negatif baru menyadari adanya konflik setelah konflik semakin membesar dan
meluas.
Untuk itu
manusia dengan SM negatif harus mengantisipasi kondisi konflik dengan
menerapkan strategi memasang orang lain yang cukup dekat untuk mengarahkannya,
karena sikapnya yang konsisten dan tak mudah berubah, manusia dengan SM negatif
membutuhkan orang lain yang kapasitasnya berada di atas dirinya , yang cukup
disegani dan dihormati sehingga ia mau mendengarkan masukan.
IV. Langkah-langkah Sehat dalam Menyelesaikan Konflik
Seperti yang
telah di uraikan dalam strategi menghadapai konflik, hal pertama yang harus
kita lakukan dalam berinteraksi dengan orang lain adalah kita memaksa diri kita
untuk menjadi individu yang Adaptif dan Fleksibel yaitu mampu mengelola dirinya
agar berperilaku sesuai dengan kondisi lingkungan di sekitarnya, atau dalam
pengertian singkat kita harus mampu membentuk diri kita menjadi seseorang yang
memiliki SM positif sehingga kita memiliki kemampuan untuk lebih sensitif
dengan perubahan perilaku orang lain yang merasa berkonflik dengan kita
Langkah kedua
adalah Self Awareness, berusaha untuk
kembali kepada diri sendiri lebih dahulu, berbicara pada dirinya tentang
perilakunya, apakah tidak sesuai norma atau apakah menyinggung orang lain
hingga muncul konflik. Lalu kemudian hasil perenungan tersebut di komparasi
dengan pendapat orang lain, saat inilah kita diharuskan untuk mendengar dan
berusaha untuk tidak menyanggah kritikan orang lain terhadap kita, hasil
perbandingan itulah yang akhirnya menjadi bahan kita instrospeksi diri.
Langkah
ketiga adalah Self Disclosure (SD),
mengajak orang yang berkonflik dengan kita, untuk sama-sama mengevaluasi apa
yang terjadi sehingga muncul sebuah konflik. Kita lakukan yang namanya Self Clarification atau mengklarifikasi
benarkah pandangan orang lain tentang kita sama dengan kita memandang diri
kita, ini diperlukan agar dapat diketahui penyebab konflik, betulkah karena
adanya sebuah kesalahan atau hanya kesalahfahaman akibat adanya pandangan yang
tidak tepat dari orang lain terhadap kita? Dengan cara ini maka dapat dibentuk
kembali sebuah Relationship Development,
atau membangun hubungan, dalam hal ini jika memang hubungan itu sudah ada namun
berkonflik maka yang dilakukan adalah memperbaiki hubungan tersebut, dengan
harapan semakin munculnya saling pengertian sehingga hubungan yang ada semakin
harmonis
IV. Kesalahan-kesalahan dalam Menyelesaikan Konflik
Kesalahan
dalam menyelesaikan konflik biasanya di dasari oleh adanya kesalahan dalam
mempersepsi, Bimo Walgito mengatakan persepsi terhadap manusia adalah proses
pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh
individu sehingga menjadi sesuatu yang berarti dan merupakan sebuah proses yang
menyeluruh dalam diri individu. Persepsi terhadap manusia dilandaskan terhadap
sikap dinamis manusia, dan bahwa manusia tidak hanya menanggapi hal-hal yang
terlihat namun juga yang tidak terlihat serta haruslah bersifat interaktif atau
hubungan dua arah
Jika melihat
landasan sebuah persepsi yang salah satunya adalah bahwa manusia tidak hanya
menanggapi hal-hal yang terlihat namun juga hal-hal yang tidak terlihat, maka
wajarlah jika manusia sering melakukan kesalahan saat melakukan proses persepsi
apalagi jika proses persepsi tersebut hanya dilandasi oleh keyakinan,
pengetahuan atau pengalaman pribadi kita saja.
Kesalahan
lain yang sering dilakukan individu yang berkonflik adalah Self Serving Bias atau mengutamakan diri sendiri, cenderung untuk
mengatribusi dalam hal ini konflik sebagai sebuah kesalahan pihak eksternal
tanpa mau melihat faktor lain dalam dirinya yang bisa jadi merupakan penyebab
konflik. Di tambah tidak adanya keinginan untuk melakukan sebuah proses
komunikasi untuk memperjelas penyebab terjadinya konflik dan bagaimana
menyelesaikannya.
****
Wallahu A’lam Bish-showwab ****
0 Response to "KONFLIK DALAM HUBUNGAN ANTAR MANUSIA"
Post a Comment