Pak Tua dan Kucing-kucingnya

Dari jauh sudah tampak tubuh tuanya, membagi makanan dan lauk menjadi beberapa tumpukan yang di letakkan pada sebuah kertas. Perlahan satu-satu diletakkannya semua kertas-kertas tersebut.

Satu diturunkan, semua kucing mendekat. Diturunkannya yang kedua, kucing yang tak merasa kebagian, bergeser segera. Kedua dan ketiga, sampai semua kucing yang kuperkirakan sekitar lima belas ekor, memiliki tempat makannya masing-masing.

Perlahan ikut berjongkok di samping si bapak tua.

"Kucingnya banyak ya pak." sapaku.

"Iya, tiap hari ada aja yang baru."

"Punya bapak?"

"Bukan, mereka datang sendiri, kucing liar."

"Bersih-bersih tapi ya pak."

"Iya, kalau ada yang kejebur got atau kena lumpur atau terlalu berdebu, suka saya mandikan di kamar mandi pukesmas." jawab si bapak sambil mengarahkan telunjuknya ke sebuah papan sebuah instansi kesehatan.

"Oo gitu ... Bapak, tinggal di mana?"

"Di sini, Nak." kali ini telunjuknya mengarah pada sebuah gerobak. Luasnya sekitar muat satu tubuh orang dewasa, dengan dua roda di depan dan dua topangan kayu di bagian belakang.

Aku tersenyum. "Jangan bercandalah, Pak!"

"Saya tidak bercanda, Nak. Ini rumah saya!" Sebuah senyum lebar tersungging di bibirnya, wajahnya tampak senang. Aku yang mengernyit, benarkah?

"Bapak ndak punya anak?" 

"Ada, tapi di kampung. Satu sudah menikah satunya masih SMU."

Terkejut saat mataku tak sengaja melihat benda bulat kecil di pergelangan tangan, pukul 07.45. Aku harus bergegas, jam kantor mulai pukul 08.00, terlambat lima menit, potong uang makan. Kejam!

"Saya harus kerja, Pak. Besok ngobrol lagi ya." Wajahnya sumringah, mengangguk.

*****

Kembali pagi ini rutinitas berjalan sepanjang jalan salemba tengah, demi menghemat ongkos satu kali naik kendaraan. Kantorku letaknya di pinggir jalan raya ini setelah berjalan kurang lebih 30 menit.

Serta kembali lagi bertemu dengan Bapak Kucing, itu julukan dariku untuk lelaki jompo yang berjalannya pun sudah sedikit bongkok, kaki dan tangannya kurus hingga terlihat tulang-tulang yang membentuknya.

Ikut berjongkok, membersamai, merasa takjub karena dikelilingi banyak kucing.

"Istri, Bapak, dimana? 

"Di kampung sama anak."

"Kenapa nggak ikut, Pak?"

"Kasihan, mau tinggal dimana?" Uhuk ... uhuk ... uhuk, si Bapak terbatuk.

"Maksud saya, kenapa, Bapak tak ikut jejak ibu, tinggal di kampung."

"Itu namanya nambah beban anak, hahaha!" tertawa yang tak lucu menurutku. Entah menertawakan apa. "Hidup seperti ini cukup, Nak. Aku mau tidur dimana pun, tinggal kudorong roda gerobakku."

Dan aku tak berani lagi bertanya.

Kuangsurkan bekal kotak makan siangku. Berharap ia mau menerimanya kali ini setelah beberapa kali kutawarkan tapi ia selalu menolak.

"Aku ada kok, Nak?"

"Mana?"

"Ya belum dibeli, baru buat kucing saja."

"Kalau gitu, terima ... jadi bapak nggak harus beli!"

"Kamu?"

"Bosku suka bawa masakan dari rumahnya dalam porsi besar, jadi kadang nggak kemakan." Kusodorkan sekali lagi. Akhirnya diterima.

"Aku jalan ya, Pak." Sambil berjalan mengitari gerobak roda dua miliknya.

*****

Pagi ini kulihat kucing-kucing itu masih di sana, mungkin berharap gerobak beroda dua milik bapak tua baik hati, akan segera datang ... memberi mereka makan, seperti yang dilakukannya setiap pagi.

Ya, memang kucing-kucing tak tau berita, bahwa dua hari yang lalu, petugas puskesmas menemukan bapak tua baik hati tertidur pulas dalam gerobak roda duanya. Tidur tenang dalam senyum yang abadi.

- Samarinda, 11 Jan 2019 -


0 Response to "Pak Tua dan Kucing-kucingnya"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel