SERAPUH SEPATU CINDYRELLA
Akhirnya mereka datang. Seorang perempuan berwajah teduh, matanya memancarkan ketenangan dan cinta. Bersamanya dua orang gadis sebayaku, pun nampak cantik dan bersahaja.
"Ini ibu sambungmu, Cindy." Laki-laki paruh baya, sang cinta pertamaku bicara sambil menyentuh lembut pucuk kepalaku.
Senyum paling ramah kuhadirkan untuk mereka. Sambutan santun dengan mencium punggung tangannya, disambut pelukan ala ibu penuh kasih. Begitu juga dengan kedua gadisnya. Mata mereka menatapku hangat, sehangat pelukan yang mereka rengkuhkan ke tubuhku.
"Aku Cindyrella, selamat datang di rumah, semoga kita bisa menjadi keluarga yang utuh," kataku dengan suara yang renyah.
"Terima kasih, Cindy, Aku Lady Tremaine, terserah kau mau memanggilku apa," jawab perempuan itu. Rambut pirangnya bergoyang-goyang mengikuti gerak wajahnya saat berbicara, cantik sekali. Wajar jika papa, yang sudah lama menduda, jatuh hati padanya.
"Saya akan memanggilmu, Mama Lady, bolehkah?"
"Tentu. Ini kenalkan saudara sambungmu, Drizella dan Anastasya."
"Selamat datang Kakak-kakakku, Aku akan sangat senang bisa beraktifitas dengan Kalian. Di sini banyak kamar. Silahkan pilih mau kamar yang mana."
Selanjutnya tugasku mengantarkan kedua kakak sambungku menentukan kamar mereka, menyusuri lorong-lorong dalam rumah, sambil berkisah tentang apa saja. Menceritakan tentang lukisan-lukisan karya pelukis terkenal, koleksi papa, yang terpajang sepanjang dinding lorong. Menunjukkan guci-guci mewah yang dibeli di setiap negara yang kusinggahi, apa saja.
Ah, sepertinya hidupku akan lebih berwarna
********************
Kecelakaan itu sungguh mengguncang jiwa. Kebahagiaan yang baru sesat kurasakan saat Mama Lady dan kedua anaknya hadir, terasa lenyap saat menghadapi kenyataan, bahwa Tuhan mengambil papaku. Rasanya aku belum siap ... bagaimana nasibku nanti?
Tubuh papa terbujur kaku di ruang besar yang megah. Pijaran kuning lampu-lampu yang tersusun simetri di atas langit-langit, menambah muram suasana. Aku masih menatap beku, tak percaya.
Orang-orang berbaju gelap berseliweran disekitarku. Sebagiannya berderai air mata. Sebagiannya mendatangiku, menyalami dan memberi pelukan. Tapi tak mampu mengubah rasa ini, hati ini tetap hampa.
Kedua kakak sambungku duduk di samping kiri dan kananku, sesekali tangan mereka mengelus lembut punggung, kadang meremas jari, menyentuh bahu. Aku tahu, mereka mencoba menyalurkan sebuah rasa ke dalam hatiku.
Mama Lady, tampak di seberang. Kepalanya tertunduk, bahunya terguncang-guncang. Beberapa kali tangannya menyapu wajah. Ah, dia sama sedihnya dengan aku.
********************
Hari-hari terus berlalu, entah kuhabiskan beberapa masa untuk bisa menghalau kemuraman. Yang jelas, kehadiran Mama Lady, Drizella dan Anastasya sangat membantu menopang hidupku.
Berbagai cara mereka lakukan untuk mengusir sepiku. Hati ini tak terlalu kosong karena ada mereka yang mengisinya.
"Kau tahu ... Mama sangat ingin Kakakmu Drize menikah dengan Pangeran kerajaan. Dia sangat tampan dan baik hati. Sangat pantas jika bersanding dengannya. Bagaimana menurutmu, Cindy, Tasya?"
Terbayanglah sesosok wajah tampan, dihiasi hidung mancung dan mata elang. Bibirnya tipis, yang saat bicara seperti tidak bergerak. Ah, tiba-tiba hatiku patah.
"Aku tentu mengalah, Ma. Hahahah, karena tentu saja Kak Drizella harus menikah lebih dulu." Anastasya menjawab
Rasanya ada yang menaburkan racun ke dalam hatiku. Rasanya pahit dan membuat sakit sekujur tubuh, Tapi aku tahu, aku harus tetap hidup dalam kesakitan itu.
"Aku setuju saja, Ma. Apapun yang terbaik untuk Kak Drize." Ada yang panas dipelupuk mata, kucoba menahan dengan menarik napas panjang. Tapi hati ini tak sanggup berbohong, terasa seperti diremas-remas.
********************
Aku menolak pergi, walaupun Mama Lady sudah membelikanku sebuah gaun mirip dengan yang akan dipakai oleh Drize dan Tasya, lengkap dengan topeng, hiasan rambut dan sepatu kacanya.
Kakak-kakakku berusaha membujukku, aku bergeming. Aku takkan datang ke pesta topeng itu, aku memilih tahu diri. Ada yang lebih pantas merasakan bahagianya, dan itu bukan aku.
Kuantar kedua kakakku menaiki kereta kudanya. Mama Lady memilih tidak hadir karena memang pesta itu diperuntukan untuk para gadis.
Setelah kereta kuda berwarna pink berhias ukiran-ukiran berwarna emas itu melaju, Mama Lady menggamit tanganku. Mengajakku masuk.
"Benarkah, Kamu, tak ingin pergi?"
"Benar, Mama. Aku masih merasa belum cukup umur untuk hadir di pesta itu."
"Hahahaha ...." tawa Mama Lady terasa renyah. "Tentu saja kau pantas, Cindy. Usiamu pun sudah pantas menikah."
"Kak Drize, lebih pantas, Ma." Suaraku menyakiti hati
"Ah, Mamakan sekedar berangan-angan. Jika sang pangeran memilihmu, Mama juga akan bahagia kok!"
Ah Mama, tak kau lihatkan binar mata Kak Drizela saat kau menyebut namanya. Bagaimana pipinya bersemu merah dan senyumnya mengembang. Aku tak sanggup menghancurkan itu
*********************
Mengurung diri dalam kamar adalah senjata yang ampuh menata hati. Mencoba berdamai dengan keadaan, mengalah demi cinta yang lebih hakiki.
Tapi sebagian hatiku memberontak. Mereka seperti memaki-maki.
'Bodohnya kamu, apa yang kamu lakukan? Berharap bahagia dengan menghancurkan cinta?'
Tanpa sadar kepalaku menggeleng, aku tak menghancurkan. Aku membangun! Membangun sebuah cinta yang lebih tinggi. Mengorbankan keegoisan demi kebahagiaan orang yang sayang padaku.
'Kalau begitu, datanglah saja ... untuk terakhir kalinya. Memandang wajahnya yang tak akan sama di hari-hari yang akan datang.'
Yah, baiklah ... aku harus datang. Mengurangi rasa penasaran agar hari-hari kedepan lebih lapang.
Secepat kilat kupersiapkan diri. Memakai gaun yang lain, menggunakan topeng pemberian mendiang bunda, dan memakai sebuah hiasan kepala berbentuk pita berwarna marun. Kuraih sepatu kaca pemberian Mama Lady.
Perlahan menuruni tangga yang melingkar mewah di ruang tengah sambil membawa sepatu kaca pemberian Mama Lady. Mendatangi kusir kedua yang biasa membawa kereta kuda berwarna marun.
"Kalau tak ingin Nyonya tau kepergian nona, maka kita harus pulang sebelum tengah malam." Kusir itu menjelaskan
"Mengapa?"
"Karena setiap lewat tengah malam, Nyonya biasanya keluar memantau kondisi sekitar."
"Okelah, aku akan keluar dari ruang pesta sebelum tengah malam."
Kemudian melesatlah kereta kuda menembus pekatnya malam. Sang kusir memacu kudanya kencang karena tahu pesta sudah dimulai. Menerobos jalanan yang berumput dan berbatu, mengguncang-guncang tubuhku.
Akhirnya sampai juga aku didepan istana. Kukenakan topeng dan sepatu kaca pemberian Mama lady, ukurannya pas sekali. Tampak anggun di kakiku.
Perlahan kujejakkan kaki menaiki anak tangga kerajaan. Sorot lampu-lampu menerangi istana. Memperlihatkan tataan apik taman-taman penuh bunga melati, hingga aromanya mendominasi udara malam ini.
Pintu besar itu kubuka, tampak deretan anak tangga didepannya, menuju sebuah arena luas yang dikelilingi pilar-pilar tinggi. Lampu-lampu mewah menghiasi langit-langit ruangan, dengan musik dansa lembut menghampiri telingaku.
Aku terlambat, yah ... saat ini semua mata tertuju padaku. Mengumpulkan keberanian menuruni anak tangga kemudian berdiri di ujung barisan para gadis. Mataku mencari ....
Tiba-tiba sosok itu terlihat, semakin lama semakin dekat. Sesaat tubuh menjulangnya berada dihadapanku. Sorot mata elang itu tampak dibalik topeng, sorot mata penuh kerinduan, sorot mata yang kurindukan. Tangannya meraih tanganku, menarik pelan mengajak berdansa, aku tak mampu menolak. Tubuhku tak bisa kuperintah, dia bergerak mengikuti gerakan pangeran.
"Kau, Cindy?"
"Bukan!"
"Bohong, aku kenal matamu, mataku tak mungkin tertipu."
"Tapi anda salah yang mulia, aku bukan Cindy."
"Lalu dari mana kau dapatkan hiasan pita rambut berwarna marun?"
"Pemberian seseorang."
"Itu pemberianku, saat kau hadir ke istana bersama ayahmu beberapa tahun yang lalu."
"Bukan, ini pemberian ibuku!" Aku memaksa, merasa lupa.
"Tak mungkin bisa begitu persis."
"Ada banyak penjual pita rambut, Yang Mulia."
"Tidak mungkin, itu kubuat khusus di penjahit kerajaan, untuk Cindyku."
"Tapi aku memang bukan Cindy, Yang Mulia!"
"Aku ...."
Teng ... teng ... teng ...
Aku tersentak, itu adalah penanda tengah malam. Aku harus segera keluar dari ruangan ini dan sampai rumah sebelum Mama Lady tau.
Kulepaskan tangan pangeran. Membungkukan diri.
"Maaf, Yang Mulia, waktu saya sudah habis. Saya pamit." Segera kularikan langkahku menuju pintu, berusaha secepatnya sampai ke kereta kudaku.
Mengangkat gaunku agar langkah lebih leluasa, menuruni anak tangga satu persatu, tak peduli kepayahan.
"Cindy, sepatumu tertinggal satu!"
Masih kudengar teriakan sang pangeran menyebut namaku sebelum kereta melaju menembus pekatnya malam.
****
Ah ternyata belum selesai ceritanya, daripada tak terposting, saya posting aja ya ... bersamaan dengan melajunya kereta Cindyrella
0 Response to "SERAPUH SEPATU CINDYRELLA"
Post a Comment