Akibat Lima Puluh Ribu

"Ada apa, Kek?"
"Ini sadel motor kakek nyangkut, Nak."

Barisan motor yang padat, tumpang tindih di parkiran, hingga beberapa sadelnya terkait. Kakek tersebut kulihat kepayahan mengeluarkan motornya.

Kususun ulang motor2 itu hingga membentuk sebuah ruang yang memudahkan menggeser motor sang kakek. Mengeluarkannya lalu kemudian mendorongnya sedikit ke tempat yang lebih lowong.

"Silahkan, Kek, Nek!"
"Makasih ya, Nak. Kamu kerja di sini ya?" Kakek bicara sambil menaiki 
motor di ikuti istrinya. Matanya menatap dadaku sebelah kanan.

"Iya, Kek. Office boy"
"Oiya, kerja yang rajin ya, Nak Rudi." Senyum kakek dan nenek itu melebar. "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya, Kek, Nek!" Mataku menatap sepasang manusia lanjut usia yang berlalu di depanku. Motornya melaju pelan.

Tiba-tiba mataku terpaku. B 5213 IS

Seperti tersadar, kuayunkan langkah kakiku mengejar, namun beberapa pengendara yang mengeluarkan motornya menghalangi, hingga akhirnya lenyap di tikungan.

Aku menarik napas kecewa. 

**********

Hampir setiap jam istirahat kuhabiskan duduk di parkiran rumah sakit. Berharap sepasang kakek dan nenek itu hadir. Tepat hari ketiga, kulihat kakek menggandeng nenek menuju parkir motor. Perlahan kudekati dan kusapa.

"Assalamu'alaikum, Kek." Kuraih tangannya, kucium penuh hikmad. Hendak kuraih pula tangan nenek, tapi nenek keburu menangkupkan tangan didepan dada, maka kulakukan hal yang sama. "Ingat, Saya, Kek?"

"Hmmm, Nak Rudi. Yang bantu keluarkan motor kakek kemarin."

"Iya, Kek."
"Sehat, Nak?" Langkah kakinya memaksaku mengikuti. 

"Kakek mau pulang?" Tak kujawab pertanyaannya.
"Iya, sudah mulai siang. Nenek mulai lelah."

"Ayo, saya bantu keluarkan motornya, Kek."

Sejak itu, setiap hari Senen dan Kamis, aku rutin menunggu pasangan manula tersebut. Terkadang kubawakan cemilan atau buah untuk mereka. Berbincang ringan saat mereka menunggu panggilan perawat untuk masuk ke ruang dokter.

Sebulan berkenalan dengan mereka. Aku tahu bahwa nenek penderita diabetes, beliau adalah pasien tetap dr. Diah, ahli penyakit dalam. Sedangkan hari kamis, jadwal nenek terapi lutut di bagian ortopedi.

Dari mereka juga aku tahu, motor dengan nomor polisi B 5213 IS adalah milik putri mereka yang sekarang tinggal di Samarinda. Mendengar kata Samarinda hatiku ciut. Menyeberangi lautan, hanya bisa menggunakan pesawat. Mungkinkah aku bisa menemuinya?

**********

Hari-hari berjalan cepat, jam tujuh pagi hingga jam lima sore adalah waktuku bekerja. Mengumpulkan lembaran rupiah.  Kemudian setelahnya bergegas memacu motor butut membelah kepadatan lalu lintas Jakarta menuju ke sebuah kampus di daerah Kampung Melayu. 

Kondisi sebatang kara tak membuatku lupa bahwa aku tetap harus punya masa depan. Maka kuliah malam adalah cara yang kupilih untuk memperbaiki masa depan. Jurusan psikologi kupilih sebagai sarananya. 

Pertemuan dengan kakek dan nenek masih berlangsung. Bahkan aku sudah berani bertandang ke rumah mereka. Membawakan berbagai macam buah tangan. Hingga hubungan kami semakin akrab.

Mereka memiliki dua anak yang tinggal jauh di perantauan. Si sulung, pekerja tambang di daerah Pekanbaru. Sedangkan si bungsu, guru yang tinggal di Samarinda. 

Kembali mengingat Samarinda, hasratku berpacu. Aku harus segera memampukan diri untuk terbang ke sana. Harus ... harus!

**********

Akhirnya lelahku terbayar. Hari ini adalah hari wisudaku. Ditemani foto mamak dan bapak didalam dompet, kulangkahkan kaki menuju altar, menerima surat kelulusan dan mendapatkan prosesi wisuda lainnya. Ada haru yang menyelinap dalam hati.

"Mak, Pak ... aku lulus." Hanya mampu kubisikan perlahan. Tak sengaja sebulir air mata menetes jatuh tepat di lenganku.

**********

Bekerja lima tahun sebagai office boy di RSUD Cengkareng ini, semenjak aku menempuh pendidikan paket C, membuatku kenal dengan hampir semua staf rumah sakit. 

Rata-rata mereka tahu kegigihanku meraih gelar sarjana. Bagaimana aku meminjam komputer mereka untuk bisa mengerjakan tugas-tugas kuliah di sela-sela jam istirahat. Bahkan meminjam buku-buku yang tidak mampu aku beli. 

Akhirnya, di sinilah aku. Seorang staf HRD rumah sakit. Allah tak pernah ingkar janji, Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang mencari ilmu.

Hubunganku dengan Kakek Amin serta Nenek Nuri makin akrab. Sering pulang dari terapi kuajak mereka makan soto atau gado-gado di kantin rumah sakit. Kuceritakan juga tentang perubahan posisiku.

Sungguh luar biasa saat mereka gembira untuk keadaanku, aku pun gembira. Padahal mereka bukan siapa-siapa.

Pendekatan yang intens membuatku bisa mendapatkan alamat rumah putri bungsunya. In sya Allah secepatnya akan kutemui, begitu tabunganku cukup untuk biaya pulang pergi naik pesawat.

**********

Seumur-umur tidak pernah terbayang rasanya naik pesawat. Mau kemana? Tidak punya sanak saudara. Saudara yang kukenal adalah anak-anak di rumah yatim dan dhuafa Istiqomah, daerah Cengkareng. Para pembimbingnyalah yang kuanggap orangtua.

Ternyata jika Allah berkehendak, manusia yang tak punya niat pun tetap akan ditakdirkan menyeberangi lautan. Inilah cara Allah membuatku merasakan indahnya  terbang. Bagaimana pesawat telah memperpendek jarak ratusan kilometer. Hanya dengan dua jam, kutempuh perjalanan Jakarta Samarinda.

Akhirnya disinilah aku, sebuah kompleks perumahan elit di Samarinda. Sepertinya satpam perumahan mengira aku adalah pekerja bangunan karena masuk bersamaan dengan mereka masuk.

Sesuai catatan alamat, kulangkahkan kaki memasuki sebuah rumah taman tanpa pagar. Rumah itu didominasi warna putih dan biru, dengan beberapa pohon pucuk merah yang mulai meninggi, sengaja ditanam mengelilingi batas taman.

Sebuah mobil Rush keluaran terbaru mengisi garasinya. Perlahan kunaiki tangga teras, terdapat satu set sofa dengan beberapa vas bunga kecil di sudut-sudutnya. Kuketuk pintu ... beberapa menit kuulangi, hingga tampak gerendel pintu bergerak. Muncul seraut cantik dalam balutan hijab marun, khas wajah ABG.

"Cari siapa, Mas?" katanya, masih posisi badan di dalam rumah.
"Ibu, ada, Dek?"

"Ada, sebentar ya, Mas ... silahkan duduk!" Pintu itu menutup kembali.

Beberapa jenak, pintu itu kembali terbuka. Kali ini seraut wajah paruh baya, anggun dalam balutan gamis hijau cerah dengan jilbab senada. Mendekati, memberikan senyum, kemudian duduk di sofa persis diseberangku dibatasi meja.

"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" Suaranya lembut keibuan.
"Tidak ada, Bu. Saya cuma mau bertanya ... Ibu, pemilik motor dengan nomor polisi B 5213 IS ya?"

" Iya, tapi motor itu di Jakarta, Mas, digunakan oleh orangtua saya. Ada apa ya?"
"Tidak ada apa-apa bu. Saya cuma mau mengingatkan ibu tentang seorang anak yang membawa gerobak, malam hari ditengah hujan ... Ibu, ingat?"

"Kapan?"
"Sekitar dua belas tahun yang lalu."

"Dimana?" Dahinya mengernyit, matanya seolah-olah menyatu.
"Kompleks Green Garden, perbatasan kompleks dengan perkampungan, di depan tempat sampah besar," jawabku lugas

Wajah itu sepertinya mulai ingat, matanya membulat, ada senyum di bibirnya.

"Lalu?"

"Sayalah anak kecil itu, Bu. Uang lima puluh ribu yang ibu berikan pada saya, menjadi jalan saya menemukan hidup yang lebih baik."

"Bagaimana, Mas, begitu yakin sayalah orangnya?"
"Nomor polisi motor ibu saya tulis di gerobak. Dengan uang lima puluh ribu yang ibu berikan, saya mengantar emak saya yang saat itu demam di dalam gerobak ke sebuah klinik dokter di komplek tersebut.

"Uang lima puluh ribu itu yang mempertemukan saya dengan dokter baik hati, yang akhirnya mempekerjakan ibu saya sebagai pembantu rumah tangganya. Hingga kami tak perlu lagi tinggal dalam gerobak dan mencari tempat berteduh jika hujan.

"Uang lima puluh ribu yang ibu berikan menjadi awal takdir manis dalam hidup saya. Perjuangannya tetap tidak mudah, namun dengan semangat ingin menemui ibu, saya mampu mewujudkannya. 

"Saya ingin mengucapkan terima kasih langsung pada, Ibu. Betapa, Ibu rela berhujan-hujan saat itu, demi memberikan uang lima puluh ribu pada saya. Yang bukan siapa-siapa, hanya pemulung yang sempat membuat motor ibu berhenti di tengah hujan yang lumayan deras."


- Samarinda, 23 Januari 2019 -

0 Response to "Akibat Lima Puluh Ribu"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel