Waktu
Sinar garang matahari masuk lewat celah-celah jendela, tepat menyentuh wajah. Sedikit demi sedikit panasnya mengigit kulit. Pelan kubuka mata, berserobok dengan silaunya, membuatku membuang badan ke sisi lain. Berusaha menjangkau penghitung waktu di atas meja, 12:23 ... waduh!
Terseok membawa badan, remuk terasa sampai ke tulang, mulutku kering, kaki lemah menopang hasil pergulatan melawan 3 pengumbar nafsu, tadi malam.
Berpakaian seadanya, membuka pintu kontrakan, melempar badan ke atas kursi kayu. Mencari posisi senyaman mungkin, kaki dilipat, diangkat, menopang lengan dan meletakkan dagu di atasnya.
"Mboookkk ...!" teriakku pada pemilik warung samping kontrakan.
"Mbok Juuummm ...!"
"Apaaa? Dah bangun lu? Dasar kebo!"
"Kopsu dong! Buruan nggak pake lama!"
Memang tidak lama, secangkir vanila latte kegemaranku, tau bener Mbok Jum. Sampai saat ini aku tetap tak tertarik untuk minum kopi hitam, terlalu kuno ... kukesap pelan, seteguk demi seteguh, mencicipi rasa manis bersemu pahitnya.
"Ada apa mbok?" tanyaku perlahan, menoleh pada Mbok Jum yang berdiri tepat didepanku.
"Maunya apa?"
"Mie instan ...!"
"Malem nggak makan, sarapan dah lewat, sekarang mau mie instan ... hancur perutmu, Mil!"
"Ya apa dong?"
"Nasi campur aja ya, mbok masak sayur nangka sama ikan layang dicabein."
"Yang lain?"
"Semur ayam?"
"Sayur nangka ma dadar telor aja deh!"
"Sebentar ...."
Tidak sampai sepuluh menit, terhidang sepiring nasi panas dengan telor dadar, sayur nangka dan sambel tomat, sederhana tapi menggiurkan ... perlahan kumasukkan sesuap demi sesuap.
"Dari kemarin nolak terus diajak pengajian, ikut yuk!" Mbok jum menatapku penuh harap.
"Heh, malu mbok! Orang kaya aku ikut pengajian ...."
"Yaaa, masa maksiyat mulu, biar dikit yang penting ada yang bisa ditimbanglah pas di akhirat!"
"Ih, Mbok ... kejem amat sih!"
"Lah, masih untung ada gue lu, Mil! Masih ada yang ngomongin ... ikut ya!"
"Kapan?"
"Nanti jam dua."
"Selesai?"
"Jam empatlah sebelum ashar."
"Ya, lihat aja nanti."
"Yeee, dasar bocah!"
*****
Mengais rizki di klub malam plus plus jelas bukan cita-citaku. Tangan bapaklah yang menghantarku menjadi penghuni kampung pelacur ini. Siang jadi malam, malam jadi siang, rotasi kehidupan yang tak wajar.
Tamat SMP dijual ke mucikari untuk melunasi hutang judinya. Kulit putih bersih, wajah imut dengan hidung mancung dan bibir agak dower, ternyata mampu menghasilkan puluhan juta rupiah untuk bapak.
Menjadi budak nafsu cukong pemilik puluhan toko elektronik di ibukota. Setahun hidup dalam penjara syahwat, sampai dia menemukan gadis lain ... untung untukku buntung untuk gadis itu. Aku dipulangkan dalam kondisi raga tanpa jiwa, bahkan air mata pun sudah tak punya.
Kondisi rumah tidak membuatku baik, bapak penjudi dan pemabuk menambah rusak pikiranku. Ibu yang sabar, atau bodoh? aku tak bisa membedakannya, selalu menjadi bulan-bulanan tangan bapak jika tak memberinya uang. Kehidupan macam apa ini?
Sampai kemudian untuk kedua kalinya aku dijual. Saat seorang tuan tanah turun dari mobil hitam mentereng bersama dua bodyguard. Kusambar tas kecilku, lompat jendela ... berlari, berlari, dan terus berlari ... sampai napasku engap, dadaku sesak.
Memberhentikan sebuah truk, numpang sampai ... terserah sampai mana. Tapi seperti lepas dari mulut harimau masuk mulut buaya. Tubuhku habis diterkam supir truk dan keneknya, dan dilempar di pinggir sebuah terminal bus antar kota.
Lalu apa yang kuharapkan dalam hidup?
Sudahlah, takdirku memang menjadi pelampias napsu. Maka saat akhirnya terdampar di sebuah klub malam plus plus, kujalankan saja hidup, yang penting tidak menyusahkan ataupun mengambil hak orang lain. Cukup!
*****
Dan disinilah aku, celana jeans hitam ketat plus kaos membentuk badan yang kusamarkan dengan jaket jeans dan selendang ala kadarnya pinjaman Mbok Jum.
Entah malaikat apa yang membuatku mau hadir. Atau sekedar perasaan tak enak pada ibu tua yang tak punya hubungan darah denganku namun luar biasa menyayangi.
Hampir setiap pekan Mbok Jum merayuku, dan akhirnya hari ini dia menang. Biarlah, toh besok-besok tak harus mengikuti lagi.
"Waktu, sesuatu yang abstrak, tidak dapat dilihat dan tidak dirasakan kehadirannya namun bisa dirasakan hilangnya. Bahkan Sang Pencipta pun bersumpah untuknya.
Dengan waktu anda bisa memutuskan untuk jadi baik atau jadi buruk, dengan waktu pula anda bisa mengakhiri hidup anda dengan baik atau buruk.
Seringkali kita merasa punya waktu, padahal sesungguhnya kita sama sekali tak mampu mengaturnya. Seolah-olah akan hidup sehat sampai tua, ternyata Allah tetapkan besok kita mati, karena syarat mati tak harus sakit dan syarat mati tak harus tua."
Singkat, jelas dan padat. Namun mampu memenuhi ruang pikiranku. Hingga aku tak mampu berpikir lain kecuali tentang waktu dan kematian. Benarkah besok aku mati? Merinding, rasa takut menyergap ....
*****
Tok ... tok ... tok ....
"Ada apa?"
"Om menyuruhku kesini, kenapa tidak ke klub?" Seorang pemuda berseragam biru berdiri didepan kamar kontrakanku.
"Nggak enak badan!" ketusku
"Kenapa?"
"Ya, nggak enak badan, musti ngomong apa lagi?"
"Ya sudah, permisi saya pamit."
Kubanting pintu, bersandar dan menerawang, apa yang terjadi padaku?
Klunting, suara ponsel pintarku.
(Kalau kamu nggak ke klub, tamunya kusuruh ke kamarmu)
(Aku nggak enak badan)
(Bercinta, kau akan sehat)
.....
(Klien besar, booking kamu buat semalam sepuluh juta, 80% buat kamu ... nggak mau?)
.....
(Kusuruh kesana! Dandan yang cantik!)
.....
Tidak kujawab satu pun, tapi aku tau itu adalah perintah, tak mungkin dibantah. Kupersipkan diri, membereskan kamar, menyemprotnya dengan wewangian.
Jika malam begini, kontrakan pelacur ini kosong, karena semua bekerja di klub. Warung Mbok Jum tutup, dia pulang ke rumahnya.
Sebuah fortuner metalik berhenti, kupandangi sambil bersender di bingkai pintu. Seorang berkaca mata hitam keluar, dengan jaket kulit dan jeans hitam. Posturnya tinggi besar.
Melenggang cantik kubawa diri kedalam tanpa menutup pintu. Orang itu masuk dan langsung mengunci pintu. Dibukanya kacamata dan jaket kulitnya. Seraut wajah manis terkesan innocent berkulit agak gelap.
Senyum paling indah, kubuka cardigan dan tersisa kaos ketat buntung sebatas perut. Duduk di pembaringan dengan paha tak tertutup saling menopang.
Pria itu bergerak mendekat, berdiri tepat didepanku, memandang tajam. Plakkk ...!
Pipiku memanas dan badanku terlempar ke lantai. Sakit yang teramat sangat mendera kepala. Ada cairan asin terasa oleh lidahku.
Belum sepenuhnya sadar, saat tangan kokohnya mengangkat badanku tinggi dan melemparnya ke dinding. Dahiku sobek, darah mengucur, menetes deras melewati mata. Aku meraung ....
Belum cukup, diraupnya rambutku, diseret, kakiku membentur benda-benda yang menghalangi ... Tangisku menjadi, memohon, menghiba, meraung.
Ditariknya bajuku hingga robek. Wajahku dijilati, habis semua darah dan keringat. Menggigit, menampar, menendang setiap inci tubuh ... tak hirau jeritanku. Dia makin menggila hingga tak terasa lagi sakit itu, sadarku menghilang mataku menggelap.
Tiba-tiba bayang hitam itu muncul. Menarik kepala, rasanya lebih sakit daripada yang tadi ... apa ini? Malaikat mautkah?
"Jangaaan mohoon, beri aku waktu sekali lagi! Aku mau tobat ... aku mau baik!" jeritku
Namun makhluk hitam besar itu lebih tidak menghiraukanku ....
- Samarinda, 10 Januari 2019 -
0 Response to "Waktu"
Post a Comment