SERAPUH SEPATU CINDYRELLA (2)

Setelah menempuh kegelapan yang menegangkan. Berhasil bertemu kembali dengan peraduan. Akhirnya mampu terlelap dalam buaian detak jantung yang sebenarnya tak punya rima. Dinina bobokan dalam resah hati yang tak bertepi.

Kokok ayam jantan menelusup memasuki cuping telinga, memberi getaran yang menghentak dan memaksa kelopak mata terbuka sempurna. Rasa itu masih tersisa dan semoga segera sirna bersamaan dengan luruhnya air mata.

Dan sinar matahari makin memerah, memaksa masuk melalui celah-celah tirai. Menyapa wajah dan tubuhku, mulai terasa hangat.

Tok ... tok ... tok ...

"Siapa?" teriakku

"Aku, Dek ... Drize!"

Kususutkan air mata, melap wajahku dengan selimut dan beringsut pelan. Menuju pintu.

"Masuk, Kak!"

"Matamu kenapa, Cin? Kok bengkak?"

"Aku tak bisa tidur semalam."

"Kenapa?"

"Entahlah, membayangkan berada dalam sebuah pesta dansa kerajaan ... sepertinya menarik."

"Lalu kenapa kau menolak untuk pergi?" Wajah Drize memandangku heran, matanya mengernyit, tetap tidak mengurangi kecantikannya.

"Ya, merasa belum cukup umur saja," jawabku sekenanya. 

"Wah, padahal jika saja kau hadir kau akan melihat sebuah istana besar yang megah dikelilingin taman melati, bahkan udara di sana terasa seperti beraroma melati. Ruangan dansanya luas, dikelilingi pilar-pilar besar serta lampu-lampu kristal yang mewah bergelantungan di langit-langitnya. 

"Puluhan gadis cantik datang dari berbagai pelosok kerajaan, gaunnya indah-indah, beberapanya menari bersama pangeran dan aku termasuk yang diajaknya berdansa, Cin! Kau tau rasanya? Luaaarr biasa!" Mata Drizella mengerjap-ngerjap, tangannya bermain ke kanan dan ke kiri mengikuti irama kosa katanya.

Tiba-tiba wajahnya melayu, mulutnya membentuk lengkung ke bawah. Kusentuh lengannya, "ada apa, Kak?"

"Dia berdansa lama dengan gadis itu." Mata itu mulai berkaca

"Gadis yang mana?"

"Gadis bergaun marun, berpita rambut marun. Dia datang paling terlambat, tapi malah yang mendapatkan kesempatan paling panjang. Bahkan pangeran mengejar saat gadis itu tiba-tiba berlari keluar." Ada getar dalam suara itu, mengirimkan sinyal kekecewaan ke dalam hatiku, menghujam dan memberi perasaan bersalah yang dalam.

"Siapa gadis itu?"

"Tidak tau, entah dari mana dia datang."

"Tenang, Kakak. Pangeran sudah mengatakan bahwa hari ini dia akan mencari gadis yang kakinya paling cocok dengan sepatu yang tertinggal tadi malam." Tiba-tiba suara Anastasya menjawab. Kami menoleh, tubuhnya yang tinggi semampai tampak bersandar di bingkai pintu kamarku.

Wajahnya menatapku dalam, matanya seperti menyelidiki, bergerak berputar-putar mencari sesuatu. Tubuh itu bergerak mendekati, menjatuhkan pantatnya di ranjangku.

Matanya tak lepas dari mataku.

"Pangeran membuat pengumuman, bahwa gadis yang kakinya paling cocok dengan sepatu tersebut, akan dijadikannya permaisury," lanjutnya, "Kamu tadi malam tidur lelap?"

"Tidak juga."

"Pantas matamu bengkak!"

Ada nada ketus dari kalimatnya, dan aku berdebar.

"Begini saja, lebih baik kakak-kakak mempersiapkan diri secantik mungkin untuk menyambut kedatangan pangeran. Siapa tahu kakak-kakaklah yang beruntung." Aku mengalihkan pembicaraan.

"Ah, mana mungkin, jelas itu bukan sepatuku!" jawab Drizella lemah.

"Jodoh tak akan kemana, Kak!" Aku memeluknya, memberi semangat, mengambil dari sisa-sisa kekuatan hati.

Kudorong keduanya untuk segera membersihkan diri. Dan aku?

Tetap mencoba menghancurkan hati dan merusak penampilan, agar pangeran tak mengenaliku.

***************

"Ada berapa gadis di rumah ini, Madame?" suara Pangeran terdengar lembut, dia bicara pada Mama Lady.

"Ada tiga pangeran, sebentar dia akan segera keluar," Mama Lady menjawab.

Dengan penampilan semrawut, kantung mata yang menghitam dan rambut yang diikat seadanya, aku muncul di ruang tamu. Tampak kedua kakakku sudah berdiri dengan wajah segar dan penampilan menawan. Aku segera berdiri di samping mereka.

"Kenapa kamu tidak berdandan, Dek?" tanya Drizella.

"Ah, malas, Kak. Aku masih di bawah umur, hehehe," jawabku seenaknya. "Bolehkah aku mencobanya lebih dulu pangeran?" kataku penuh hormat. Ada tatapan aneh di matanya, tatapan lekat yang tak bisa kutangkap artinya.

Segera kuraih sepatu kaca yang ada di tangan pangeran, membawanya menuju sebuah sofa tunggal. Aku duduk dengan tenang dan berusaha memasukkan kakiku, dan ternyata tidak bisa.

Tengadah wajah, sambil tersenyum kusampaikan "Tidak muat, Pangeran." 

Cerah itu menghilang, binar matanya meredup.

"Mungkin bisa dicobakan pada kakakku, Anastasya." Semua orang yang berada dalam ruangan memandang Anastasya.

Perlahan Anastasya berjalan mendekatiku, dan duduk disofa.

"Aku bantu ya, Kak!" Perlahan kupasangkan sepatu itu. Kekecilan

Anastasya berdiri, wajahnya menyiratkan sebuah tanda tanya yang tak terucap.

"Sekarang Kak Drizella, mari, Kak! Kubantu memasangkannya."

Beringsut perlahan, Drizella berjalan tak percaya diri. Duduk kemudian memberikan kakinya padaku.

"Pas! Pas, Pangeran ...! Dialah permaisurymu!" teriakku riang. Sedangkan mata Drizella membulat heran, wajahnya tak percaya. Namun takdir memang berpihak padanya.

Semua yang hadir tersenyum lega. Utamanya wajah Mama Lady, seperti kulihat matahari di wajah itu.

Kualihkan pandanganku pada pangeran, matanya masih bulat tak percaya, namun tak bisa berbuat apa-apa. Tak kuasa pada janji yang terlanjur terucap.

********************

Pesta pernikahan pangeran dan kakakku, Drizella, luar biasa mewahnya. Seluruh rakyat kerajaan diundang. Mereka boleh makan apapun yang tersedia.

Seluruh taman kerajaan dibuka luas, meja-meja bulat berpayung putih tersebar diseluruh taman. Wangi melati menjadi aroma khas hari ini.

Dan yang paling indah adalah pemandangan sepasang pengantin berpakaian serba mewah di atas singasana kerajaan. Seorang pangeran tampan dan seorang gadis cantik, gadis itu adalah kakakku. Yang mencintaiku dan aku mencintainya. Yang kuinginkan hal terbaik baginya. Semoga dia bahagia.

Sebuah hal lagi yang paling indah adalah bersinarnya wajah Mama Lady, yang berdiri anggun mendampingi anak gadisnya di atas singasana. Senyum sepertinya sudah melekat dibibir merahnya.

Menetes air mata bahagiaku, tak sebanding dengan retaknya hati ini, dia akan sembuh, suatu saat nanti, dan aku akan sabar menunggu.

Sebuah tangan lembut mengusap bahuku. Menarik tanganku menuju ke balik sebuah pohon besar di tengah taman. "Kenapa kau lakukan, Dek?" Mata Anastasya menatapku lembut.

"Memang apa yang aku lakukan, Kak?"

"Aku tahu apa yang kamu lakukan, Dek! Aku tahu kamu menempelkan sesuatu di telapak kakimu saat mencoba sepatu itu!"

Wajahku pias, aku terdiam.

"Aku tahu kau menukar sepatu itu saat semua orang memandangku! Itu sepatumukah, Dek?"

Aku masih diam, tak hendak menjawab.

"Jawab aku, Dek!" Tangan Anastasya meraih kedua bahuku, mengarahkan tubuhku menghadapnya. "Jawab!"

"Sudahlah, Kak! Semua sudah baik-baik saja." Air mataku menganak sungai. Nama yang sudah mulai terkubur, tiba-tiba muncul kembali dalam permukaan hati. Rasanya lebih menyakitkan daripada kemarin-kemarin.

Anastasya memeluk tubuhku erat. Terdengar suara isak perlahan. "Kau luar biasa, Dek ... luar biasa."

"Kalian yang luar biasa, Kak. Kalian! Mama Lady, Kak Drizella dan kau, sungguh luar biasa. Mau menerima seorang gadis yatim piatu tak berguna seperti aku. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan untuk membahagiakan kalian, Kak."

Kami pun terisak bersama.

- Loa Janan Ilir, 18 Januari 2019 -
SERAPUH SEPATU CINDYRELLA (1)




0 Response to "SERAPUH SEPATU CINDYRELLA (2)"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel