Cerita Mini: Tentang Mereka yang Di Jalan
Tentang Mereka yang Hidup di Jalan
(Veradina Rahmawati)
"Ini anak-anak kemana ya?"
"Iya, sudah satu jam lewat."
Kupandang benda persegi di dinding, menunjukkan pukul 15.05, biasanya anak-anak jalanan seputar daerah Koja akan datang sekitar jam dua atau setengah tiga dan selalu ada saja yang datang, walau pun hanya dua atau tiga orang.
"Kita susul aja yuk, Kak Ita!"
"Kemana?"
"Kolong jembatan layang itu loh, Kak. Depan Pasar Ular."
"Oo, situ. Oke ... habis ashar kita ke sana ya!"
**********
Tidak sampai sepuluh menit, aku dan Kak Ita sudah tiba di tempat tujuan. Memarkir motor seadanya. Kuedarkan pandangan mencari sosok-sosok yang kukenal.
Di seberang jalan tampak kakak beradik, Ali dan Ani, mencoba melompat masuk ke dalam sebuah bus dalam kota yang tak hendak berhenti untuk mereka. Jantungku berdegub melihat kaki kiri ali menggantung di luar dengan tangan menggenggam besi pintu bus.
Jika kaki kanannya terpeleset, tak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi.
Dibawah jembatan, agak jauh, tampak gerombolan pengamen jalanan sedang tertawa-tawa, diselingi gurauan kasar.
"Bagaaass!" seruku pada anak yang ada dalam gerombolan itu.
Yang dipanggil menoleh, matanya membulat mulut tersenyum, dan bergerak hendak bangun.
"Kak Heni, Kak Ita, ngapain kemari?"
"Nyari kalianlah! Kami tunggu hampir dua jam kalian nggak muncul."
"Kenapa, Gas?" tanya Kak Ita lembut
Bagus tampak salah tingkah, memandang gerombolan teman yang beberapanya kami kenal.
"Kenapa? Diancam lagi?" Kak Ita sudah jongkok menghadapi anak-anak itu.
Semua diam tertunduk. Kami tahu, Bang Bahar, dedengkot preman Pasar Ular memang tidak suka anak buahnya datang ke rumah singgah kami. Nanti dia nggak dapat setoran, begitu kata anak-anak.
"Ya sudah, nggak usah sedih ... kita makan buray yuk!" ajakku dengan suara yang dibuat gembira. "Kak Heni yang traktir!."
Anak-anak itu meloncat sambil berteriak kegirangan, ketahuan sekali kalau mereka lapar. Berjalan beriringan mendekati tukang bubur ayam, duduk di trotoar dan makan dengan nikmat. Aku dan Kak Ita pun melakukan hal yang sama.
Rata-rata anak jalanan yang kumpul di bawah jembatan ini adalah penduduk daerah koja. Berlatar belakang hampir mirip, tidak sekolah karena orangtua lebih memaksa bekerja, mencari uang untuk menyambung hidup.
Selesai makan anak-anak itu pamit, berhamburan menjemput rizkinya masing-masing.
Sebagian ada yang mengejar bus untuk mengamen atau mengasong. Sebagian mendekati tempat sampah untuk mencari barang bekas yang bisa dijual.
Kutarik tangan Bagas sebelum ia sempat berlari.
"Mana, Ahmad?"
"Hmmm ...." Wajahnya tampak serba salah.
"Nggak papa, Bagas. Kami nggak akan ke rumah Ahmad kok!" Kak Ita mencoba meyakinkan. "Cuma mau ketemu aja!"
Terakhir kami ke rumah Ahmad, habis anak berusia tiga belas tahun itu dihajar bapaknya, dianggap mengadukan urusan rumah tangga kepada orang lain. Namun kami tak bisa berkata apa-apa saat Ahmad menghiba untuk tidak memperkarai bapaknya.
"Ibu sudah tak ada, Kak. Kalau bapak di penjara ... kami sama siapa?" Begitu dulu ucapan Ahmad pada kami, disertai linangan air mata dan tangan yang menangkup di dada memohon-mohon.
"Tapi, Kak Heni dan Kak Ita, jangan bilang Bagas yang ngomong ya," ucapnya memelas. Kami berdua mengangguk.
"Biasanya kalau jelang maghrib begini, Ahmad suka ada di musholla pojok belakang Pasar Ular."
Setelah mengucapkan terima kasih dan mengingatkan Bagas untuk hati-hati, kami memacu motor menuju Pasar Ular, menyusuri jalanan tepi hingga tiba di bagian belakang, memarkir motor dan menyambungnya dengan berjalan kaki agar bisa sampai ke musholla.
Waktu maghrib masih setengah jam lagi. Tidak kulihat siapa pun di teras masjid.
"Coba lihat teras samping yuk!" ajak Kak Ita
Perlahan mengitari halaman masjid, di teras samping yang sempit tampak sesosok tubuh terbaring melingkar.
Dia Ahmad, anak kecil dari daerah kumuh yang punya cita-cita besar, ingin jadi presiden. Membantu rakyat miskin keluar dari kemiskinan. Karena itu Ahmad selalu rajin mengajak teman-temannya belajar di rumah singgah.
"Cuma ilmu yang bisa membuat kita keluar dari kemiskinan!" Itu yang selalu diucapkannya.
"Mad, Ahmad ...." Kak Ita mencoba mengguncang badannya.
Perlahan mata itu membuka, badannya bergerak perlahan, tegak. Tampak lebam-lebam di wajahnya. Bibirnya sobek, darah kering masih menghitam di sudutnya.
"Kak Ita, Kak Heni ....!" Senyumnya berat.
Ada sesuatu yang tergores di hati ini, perih rasanya.
"Ahmad sakit?" Tak sadar kusentuh lengannya.
"Aduh," ringisnya pelan. Lengan itu terkulai, tak berdaya.
"Kenapa, Mad?" Suara Kak Ita bergetar, tampak tak mampu lagi mengatur hati.
"Bapak?" Aku memburunya, berharap mendapat jawaban.
"Kata almarhum ibu, tantangan hidup setiap orang itu beda, Kak." Suaranya makin lemah. "Tantangan hidup Ahmad adalah mengembalikan bapak ke jalan Allah." Tubuh Ahmad oleng bersamaan dengan adzan maghrib berkumandang.
Aku berlari meninggalkan Ahmad dan Kak Ita, memanggil jemaah sholat untuk membantu kami. Beberapa mendengar panggilanku dan bergegas mendekat.
Aku tak mampu bergerak, saat seorang bapak mengusap lembut wajah Ahmad sambil berucap.
"Innalillahi wa inna ilayhiiraaji'uunn."
Serasa ada yang terlepas dari hatiku, mataku memanas dan air mengalir lepas darinya. Aku belum melakukan apa-apa buat mereka.
Kenapa harus Ahmad?
Kenapa?
- Samarinda, 30 Januari 2019 -
0 Response to "Cerita Mini: Tentang Mereka yang Di Jalan"
Post a Comment