Menulis adalah Terapi
Assalamualaikum, Gaeeess.
Semoga semua yang ikutan pembahasan Mommy malam ini, hidupnya berkah, rezekinya mudah, jauh dari hati galau dan resah.
Yang udah kenal ma Mommy, maafin aja kalo malam Minggu kek gini Mom memaksa klean ga keluar rumah buat ikutan pembahasan Mommy. Hehehehe ....
Yang belum kenal, nanti kita kenalan di belakang panggung, yaaa.
Judul materi malam ini Terapi Sehat dengan Menulis.
Ish, Mom koo ga pas ma judulnya, ya?
(Keknya Mom selalu bermasalah ma judul materi deh, ish)
Hahaha ... emang! Ribet aja keknya gitu, ga simpel. Mom pengen ubah judulnya, biar aja panitia ... setuju ga setuju, pokoe Mom ubah.
Judulnya "Menulis adalah Terapi".
Karena kalian berasal dari komunitas literasi, so ... Mom ga 'kan bahas soal menulisnya, yaaa.
Pertama, mari kita ngobrol dulu soal terapi.
Terapi dalam KBBI daring adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit.
Sedang di Wikipedia, terapi adalah remediasi masalah kesehatan, biasanya mengikuti diagnosis. Orang yang melakukan terapi disebut sebagai terapis. Dalam bidang medis, kata terapi sinonim dengan kata pengobatan. Dalam dunia psikologi, kata ini mengacu kepada psikoterapi.
Kalau klean minat masuk fak Psikologi, klean akan mendapatkan mata kuliah Psikoterapi sebanyak 3 SKS di semester enam.
Sekarang, apa itu psikoterapi?
Psikoterapi adalah terapi psikis yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan mental yang berasal dari kehidupan yang mempengaruhi emosi seseorang. Dilakukan secara sadar bersama tenaga ahli pada waktu-waktu yang ditentukan dengan menggunakan prinsip-prinsip psikologi. Biasanya dengan memberi sugesti-sugesti tertentu, yang membuat klien termotivasi dan mendapatkan aura positif dari sugesti yang didengarnya.
Nah menurut Mom, kata terapi pada judul di atas, mengacu kepada pengertian terapi yang ada pada kata psikoterapi.
Dengan semakin majunya perkembangan zaman, tehnologi yang semakin modern, informasi yang kian mudah dan cepat, berbanding lurus dengan tekanan yang diperoleh manusia. Semua ingin serba cepat, serba sempurna, maka setiap individu pun dituntut untuk melakukan yang terbaik dengan waktu sesingkat mungkin.
Inilah yang membuat gejala stres semakin mudah mendekati manusia.
Dulu, zaman Mom kecil, mana ada anak usia SD stres. Dunia mereka penuh dengan tawa, bermain dan bercanda.
Kita bandingkan dengan saat ini, di mana anak kelas dua semester satu sudah dituntut untuk mampu menyelesaikan perkalian dua angka ke bawah, yang dulu baru kami pelajari di kelas lima.
63
78
------x
Kali-kalian enam aja belum tentu hapal, hedeeeh.
Teruuus, orangtua pun ikut andil dalam memunculkan generasi-generasi stres, dengan memasukkan anak usia PAUD mereka ke les-les calistung. Buat klean yang masa kecilnya kek gini, ikhlaskan, yaa ... dan jangan lakukan lagi ke anak klean!
So, jangan heran kalau saat ini bermunculan generasi mudah stres, bergejala depresi, kita doakan semoga ga kehilangan kewarasan, dan, Mom pastikan tidak terjadi pada klean yang malam ini ikut pembahasan Mommy. Ok!
Oiya, jangan lupa yang mau ngasih pertanyaan, dari sekarang sudah siap-siap, ya! Karena Mom cuma buka satu termin untuk waktu buka grup lima menit saja.
Lanjuutt ... inget, Mom kalo bahas sesuatu pasti panjang kali lebar kali tinggi, sooo ga boleh bosan!
Kita sudah bahas tentang kata terapi, yang hasil bahasannya ke mana-mana. Ish, soale Mom pengen klean PINTAR!
Selanjutnya ... kita bahas soal hasil terapi menulis. Betulkah bisa menjadi sehat jiwa dengan menulis?
Kalau kalian Googling tentang jurnal penelitian yang mengaitkan kegiatan menulis, maka kalian akan menemukan banyak. Ada yang mengaitkan menulis dengan peningkatan percaya diri, ada yang mengaitkan dengan turunnya skala kecemasan sosial, ada yang mengaitkannya dengan kestabilan emosi, dan lain sebagainya.
Intinya ....
Secara ilmiah menulis memang dibuktikan mampu mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Menulis bisa menjadi salah satu sarana healing, dan menulis bisa menjadi terapi yang dipilih untuk menjaga kewarasan.
Seluruh emosi negatif yang ada pada manusia, bisa disalurkan dengan kegiatan menulis. Jika pun itu tidak berbentuk kalimat, misalnya hanya berbentuk coretan kasar, abstrak, tak berbentuk. Hal tersebut tetap bisa meredakan kondisi tekanan yang terjadi pada jiwa manusia.
Karena pada hakikatnya semua manusia butuh penyaluran emosi, hanya bentuk penyalurannya berbeda-beda. Menulis bisa dipilih sebagai salah satu sarana untuk itu.
Sekarang kita bicara hasil, yaa ....
Dengan gejala yang sama, terapi yang sama--dalam hal ini kita ambil terapi menulis-- hasil tiap orang tidak akan sama.
Nah ini juga jadi point yang ingin Mom bahas malam ini.
Mengingatkan kembali tentang sifat dasar manusia, Mom pernah membahasnya dalam salah satu materi, introvert dan ekstrovert.
Biasanya terapi menulis akan berhasil maksimal untuk teman-teman dengan sifat dasar introvert. Mengapa? Karena pada dasarnya orang-orang introvert jika membutuhkan energi untuk mengembalikan mood, atau mengembalikan ketenangan emosi, memang mengambil dari dalam dirinya sendiri.
Dengan kontemplasi, bermuhasabah, berdialog dengan pikiran dan hati sendiri, sudah cukup membuat orang-orang introvert "sembuh". Itulah kenapa menulis bisa menjadi sarana paling jitu untuk menyehatkan jiwa-jiwa orang introvert.
Berbeda dengan orang ekstrovert, yang memang Allah ciptakan butuh orang lain untuk bisa tetap normal. Menulis bisa jadi sarana healing, tapi sedikit sekali yang berhasil.
Dan, menurut Mom ... untuk klean para ekstrovert tak perlu iri, tak perlu memaksa tetap waras dengan menulis, tak perlu pura-pura kuat untuk bisa bertahan. Silakan ambil bentuk terapi psikologis yang lain, yang pas buat klean, karena ... jangan memandang kehidupan klean dengan lensa mata orang lain! (nyongkel lensanya aja udah creepy, gimana lagi tukeran lensanya, hiiiyyy ....)
Okeh?
Paham?
Paham ga paham, Mom anggap paham, hehehe.
Gitu aja materi Mom kali ini, jika benar datangnya dari Allah dan jika bermanfaat semoga jadi amal jariyah buat Mommy. Kalau ada yang salah, Mom mohon maaf, semoga klean tetap sayang ma Mommy, big huuuugg.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
0 Response to "Menulis adalah Terapi"
Post a Comment