Dendam | Veradina Rahmawati | Cermin Moral




Sudah lewat tengah malam saat aku sampai. Hawa dingin terasa mulai menusuk kulit. Lembut angin malam membelai wajah, meninggalkan jejak es di puncak pipi dan hidungku.

Kumasukkan anak kunci, putar perlahan, berharap tidak seorang pun terganggu oleh bunyinya. Saat pintu terbuka, ruang dalam sangat gelap. Dengan berjinjit, kuhantarkan tubuhku memasuki sebuah ruang seluas 3x3 mtr. Kemudian kembali menutup pintu, perlahan.

Berinsut sedikit dari pintu ....

"Baru pulang toh, Le?"

Kupicingkan mata, memaksa bekerja dalam gelap. Ibu? Membuat langkahku tertahan.

"Iya, Bu." Kuarahkan langkahku menuju ibu, kuraih tangan tuanya, kucium penuh hikmad. "Ibu belum tidur?"

"Duduk, Le! Kamu kerja dimana lagi?" tanya ibu, masih dalam keremangan ruang

"Bantu ankringan pak slamet, Bu ... tutupnya baru jam 12. Setelahnya aku harus bantu cuci piring, nyapu, beberes kursi, baru bisa pulang."

"Kamu ndak capekkah, Le? Dari pagi sudah kerja di pasar, sore sampai malam kamu kuliah ... sampai tengah malam begini, kamu masih kerja."

Aku terdiam, tak berani menatap wajah ibu. Orang yang membesarkanku semenjak ayah pergi meninggalkan kami duabelas tahun yang lalu.

"Apa yang kamu cari, Le?"

Ada yang mengalir perih dalam ruang dada, alirannya lambat ... tapi setiap inci gerakannya seperti menyayat, menorehkan luka tak berdarah.

"Apa yang kamu cari, Le?" ulangnya.

"Aku dendam, Bu." Akhirnya mulut ini terbuka, walaupun ucapannya tidak menjawab tanya ibu.

Ibu terhenyak, terdengar helaan panjang nafas ringkihnya.

"Kamu dendam sama siapa toh, Le?"

"Dendam sama kehidupan, Bu. Yang tak pernah ramah pada orang kecil seperti kita!" suaraku meninggi, mencoba membendung sungai netra.

Ah, badanku lelah, amat lelah. Duabelas tahun, bukan waktu yang sebentar untukku merasakan pahitnya kehidupan. 

Mulai dari sekedar ditinggal oleh manusia yang seharusnya menjagaku dan ibu, dibuly teman-teman sekolah karena hampir tiap pekan diumumkan belum bayar uang sekolah, diusir dari rumah kontrakkan karena tak mampu membayar, sampai menggelandang tidur di pasar sebelum akhirnya punya uang untuk bisa menyewa sepetak ruangan ... ya ruangan, bukan rumah!

Sampai kusadari, kepayahan hidup bersama ibu, cuma bisa diatasi dengan rupiah dan perubahan status sosial.

"Le ... hidup terlalu indah untuk kamu isi dengan dendam. Masa depanmu akan lebih cerah jika kau warnai usahamu dengan ikhlas, bukan dendam."

"Kehidupan tidak pernah berpihak padaku, Bu! Dia terlalu kejam!"

"Kehidupan itu ujian, Le! Mau susah mau senang, semuanya ujian ... karena dalam susah ada sabar dan dalam senang ada syukur. Bahkan dalam sabar akan selalu muncul syukur dan dalam syukur akan selalu ada sabar, itu sunatullah, Le."

"Tapi Ibu taukan, pada kenyataannya kehidupan tak semudah itu! Tak kurang-kurang usaha agar kehidupan sedikit berpihak padaku, tapi hasilnya apa?" Air mataku mulai mengalir, lebih karena lelah yang tersumbat.

"Ya, memang tidak semudah itu, Le ... makanya jangan dendam, jangan berniat menyelesaikan! Karena kamu tidak akan sanggup!"

Wajahku makin basah, lemah ... terhempas tubuhku ke lantai, kuraup seluruh wajahku. Berharap dapat mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku

"Dia yang akan menyelesaikan, Le ... Allah! Kita cuma disuruh sabar dan sholat, cuma itu, Le!"

- Daan Mogot, 28122018 -

Baca Juga: 

0 Response to "Dendam | Veradina Rahmawati | Cermin Moral"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel