Pengantin Kematian | Veradina Rahmawati | Cermin Kehidupan
"Pengumuman lagi ya, Na?"
"Iya, Mak."
"Siapa lagi tuh?"
"Mbak Widah, yang jualan sayur di depan."
"Masih muda ... kemarin sehat-sehat aja yah. Ini Mamak udah setahun kaya gini, kok ga dipanggil-panggil, ya?" Mengalir air dari sudut matanya.
"Ish, nggak boleh ngomong gitu, Mak! Allah mah ga pernah salah manggil." Tiba-tiba bapak bicara, entah sejak kapan beliau hadir.
"Udah sakit semua, Pak! Kadang nggak tahan lagi, huhuhu ...." Terdengar sedu sedan emak. Sakit, sedih, pilu, merasa tak berguna, itu yang selalu diucapkan.
Kangker tulang tak membutnya ciut, emak tetap ceria, berusaha mengurus dirinya dan bapak. Namun dua bulan ini, rasa sakitnya hanya bisa dibantu morphine, karena sudah tak ada lagi obat pereda nyeri yang mampu mengatasi.
Ditambah, pengumuman dari speaker masjid, yang corong speakernya menghadap ke rumah kami. Menghantarkan berita-berita kematian, dan Emak makin melow.
"Urutan mati itu jelas, Mak! Bukan kita yang ngatur. Siapa tau nanti Bapak malah yang duluan."
"Husss, Bapak ngomong apa sih," ujarku tak senang
*****
Waktu Isya udah lewat, bapak masih belum muncul.
"Mana, Bapak, Na?"
"Bentar lagi juga datang. Emak makan dulu ya," kataku sambil menyuapkan bubur cair dicampur parutan wortel.
"Kenapa cari Bapak, Mak?" Lagi-lagi suara bapak mengagetkan.
"Darimana?"
"Pulang masjid, mampir bentar ke rumah, malah ketiduran."
"Dah makan?"
"Udah, noh barusan bareng Fadhil. Kamu nggak nemenin suamimu makan, Na?"
"Kan nyiapin makan emak, Pak."
*****
23.10 wib
"Pak, sakittt ... nggak tahan."
"Istighfar, Mak."
Kalimat-kalimat thoyyibah mengalir dari mulut bapak, disambut komat-kamit bibir emak. Aku terpaku di sudut kamar, pelukan penguat dari Bang Fadhil tak terasa menguatkan.
"Allaaahhhh ...." kalimat terakhir keluar dari mulut emak, kemudian dadanya tak lagi turun naik.
"Innalillahi wa-inna ilayhiraaji'uun ... tunggu Bapak, ya, Mak!" bisik Bapak di telinga Emak, kemudian menarik selimut dan menutup wajah Emak.
Aku terduduk, terisak, dalam rengkuhan tangan Bang Fadhil, yang wajahnya pun basah.
*****
02.00
Perlengkapan sudah di siapkan, bunga, daun pandan, kapur barus. Beberapa tetangga pun sudah hadir membantu merangkai bunga dan pandan, yang lainnya terpekur menghadap qur'an.
Dengungan surah yasin memenuhi ruang tamuku, menemani kelayuan hatiku. Terpekur aku, di pojok ruang menatap jenazah emak.
"Bapak pulang dulu ya, Na."
"Barusan, Bapak dari mana?"
"Dari masjid, bareng Fadhil ma bapak-bapak yang lain, ambil keranda sama perlengkapan memandikan jenazah."
"Trus?"
"Bapak pulang sebentar, mau tidur sebelum subuh ... ngantuk."
*****
Ba'da subuh
Suara corong masjid kembali bergema, ada nama Emak di situ, air mataku tak berhenti mengalir.
"Yang mandikan mau datang jam enam katanya, Dek." Mas Fadhil duduk di sampingku. Menggenggam tangan, seolah ingin memberi tambahan kekuatan.
"Iya, Bang."
"Ngomong-ngomong bapak ketiduran kali ya, nggak subuhan di masjid. Tadi beliau pulang jam berapa?"
"Jam tiga lewat. Abang susul gih!"
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di halaman.
"Nana, Fadhil ...." Suara Pak Rt terdengar nyaring.
Kami berdua berlari keluar, nampak wajah-wajah tegang.
"Ada apa Pak Rt?" tanyaku.
"Sabar ya, Na! Tadi habis subuh, saya inisiatif ke rumah, soalnya tumben Bapak nggak subuhan di masjid ... rumah nggak di kunci."
"Lalu?" Bang Fadhil tak sabar
"Bapak, masih hangat tersenyum di tempat tidur, tapi sudah nggak ada."
Serasa melayang jiwaku. Terpana, sedih yang tak terukur, terjerembab ... jatuh.
"Sabar ya, Dek!" pelukan Bang Fadhil terasa hampa.
Tak lama, sebuah keranda dibuka ... mengantarkan jenazah bapak mendampingi jenazah emak.
Mereka seperti pengantin, pengantin kematian.
- Depok, 30 Desember 2018 -

0 Response to "Pengantin Kematian | Veradina Rahmawati | Cermin Kehidupan"
Post a Comment