Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 1)


Pesona Gadis Melayu
(alih bahasa: Bagaskara Andhika Aryan)

Taman Damansara, menjadi lokasi yang kupilih untuk sekedar duduk menikmati malam dan sekantung kentang goreng. Melepas penat setelah seharian bekerja.

Duduk berselonjor dalam sebuah gazebo, memandang berbagai macam manusia yang sedang bercengkrama dengan pasangan dan keluarganya.

"Ra ... aku rindu," lirih, hanya terdengar oleh telingaku sendiri.

Perempuan cantik yang kutinggalkan di tanah air, merantau jauh ke Malaysia, demi memberi kehidupan yang lebih layak untuknya.

'Adakah rindu kita sama, Ra?'

Tiga bulan sudah kami tak bertemu, jiwa ragaku mulai mengering, seperti lahan tak tersiram hujan. Namun logikaku melawan hati ... harus kuat! Demi dia yang terindu.

Tung

Kuambil gawai dari saku T-shirt, sebuah pesan dari wanita yang namanya memenuhi setiap ruang hatiku.

(Mas, lagi ngapain?)

(Sedang cari angin di taman depan appartmen, Dek)

(Cari angin apa cari perempuan?)

(Perempuanku hanya kamu, Dek)

(Gombal!)

(Apa lagi yang harus kubuktikan? Badan mengering jauh di rantau, demi memperjuangkan keinginanmu. Masih belum cukupkah?)

(Merantaunya saja yang jauh, kirim uangnya jarang)

Nanar kutatap tulisannya, ada perih merasuk, tapi kucoba membaikkan sangka.

(Persentase kerjaku belum mencukupi, jadi aku belum gajian. Kan sudah kusampaikan pembayaran di sini berdasarkan target kerja)

(Mas, bohong! Mas fikir aku ndak tau apa yang terjadi padamu?)

(Memang apa yang terjadi?)

Mengalirlah berbagai prasangka dalam bentuk aksara. Lelah mataku membacanya, lelah pun hatiku menghadapi kecemburuan yang tak berdasar.

(Kenapa mas tak jawab?)

(Kalau kujawab pun, kau tak percaya)

(Berarti benar?)

(Sudahlah, Ra, percayalah padaku)

....

....

....

Ra menghilang. Kuacak-acak rambutku mencoba mengurai penat.

"Excusme, nak dudok kat sini boleh ?" 
(Permisi, bolehkah saya duduk di sini)

Dalam kondisi menunduk dan kedua tangan meremas rambut, terdengar suara lembut berdialek melayu. Kutengadahkan wajah. Sesosok gadis manis berdiri menjulang di hadapanku. 

"Excusme, nak dudok kat sini boleh, Abang?" ulangnya. 
(Permisi, bolehkah saya duduk di sini, Mas?) 

"O, iya ... mai sila dudok!" gugup kujawab. 
(O, iya ... mari silahkan duduk)

Gadis berwajah sentimentil itu duduk agak jauh dariku, membuka sebungkus makanan ringan, dengan santai mengunyahnya.

"Nak ke?" sapanya ramah, sungging di bibirnya seperti bulan sabit terlentang, manis.
(Mau kah?)

"Bulehlah," jawabku tanpa basa-basi. 
(Bolehlah)

"Nampak abang tengah runsing, apasal?" 
(Saya melihat mas sedang bingung, ada masalah apa?)

"Eh, camna adik buleh kira?" 
(Eh, bagaimana adik tahu?)

"Adik ternampak la, sorang-sorang je kat sini , bila malam terlintas adik selepas keje." 
(Adik sering lihat mas duduk sendirian disini, pas malam adik sepulang bekerja)

"Yang adik care kat abang tu sebab apa?" 
(Kenapa adik perhatian sekali?)

"Korang unik la bang, tak nampak budak lain cam kat sini, handsome, cergas, sukalah tengok abang." 
(Mas tampak berbeda, tak seperti orang di sekitar sini, mas tampan, bugar, senang rasanya melihat mas)

Kuperhatikan wajahnya, perempuan ini tidak sedang bercanda.

BERSAMBUNG

- Samarinda, 17 Maret 2019 -

0 Response to "Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 1)"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel