Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 2)
Pesona Gadis Melayu - part 2
(Alih bahasa: Bagaskara Andhika Aryan)
Noor, nama gadis melayu itu, kulitnya putih dengan wajah sentimentil. Seorang karyawan mini market, yang terletak persis di seberang pintu masuk Taman Damansara.
Tak terasa sebulan sudah kami berteman. Hampir setiap pukul sembilan malam, kami bertemu di gazebo Taman Damansara. Kecuali jika aku kena overtime*. Sekedar berbincang sambil menikmati cemilan ringan yang kubeli dari pasar malam dekat taman.
Malam ini, langit cerah bermandi cahaya purnama, dengan angin sepoi yang menyejukkan.
Taman tampak ramai. aku menunggu Noor. Dua kantung rongkong ** telah kusiapkan.
Kriiing ...
Ponselku berbunyi, Ra!
"Mas, dimana?"
"Di Malaysia."
"Jangan bercanda, ah!"
"Kamu sensitif sekali sekarang, Ra. Aku rindu suara tawamu."
"Aduh, Mas! Aku ga butuh gombalmu ... pekan depan kita harus bayar sewa rumah!"
"Iya, Ra ... aku sedang mengusa--"
"Mas! Sepekan yang lalu mas bicara begitu juga. Mana hasil usahanya?"
Kembali aku harus mendengar keluhan-keluhan Ra dan memilih setia untuk menjawab dengan kata iya, he-eh, maaf. Mencoba menetralisir hatinya.
"Bang ...!" Tiba-tiba sosok Noor sudah berdiri di hadapanku, wajahnya semringah dengan senyum lebar, di tangannya sudah mengepul coffee cup dan milo cup. Segera kuisyaratkan untuk diam.
Ah, bukan aku takut. Lebih karena menjaga perasaan Ra. Mendengar kabar tak jelas saja dia marah, apalagi mendengar suara perempuan bersamaku.
Akhirnya Ra menutup telepone. Noor menyodorkan coffee cup ke arahku.
"Ai tengok muka abang tak sedap la, apahal?" tanya Noor. Wajahnya mendekati wajahku, ah aku jengah.
(Kenapa wajah abang murung?)
"Tak de lah, Noor. Mai dudok sini, jom makan rongkong."
(Tidak apa-apa, Noor. Mari duduk sini, kita makan rongkong)
Noor menurut. Dijatuhkan tubuhnya persis di samping tubuhku, hingga bahu dan paha kami bertemu.
Ada yang berdesir dalam dadaku.
'Astaghfirullah, apa-apaan Noor ini.'
Tanpa sungkan, Noor memakan sekantung rongkong yang kuberikan padanya.
Kami berbincang tentang pekerjaan, cuaca, apa saja. Sesekali tangan Noor menyentuh pahaku, tangan, bahkan pipi. Tak hendak menolak, bahkan aku menikmati.
"Dah malam pun, Noor. Balik la!"
(Sudah malam, Noor. Pulanglah!)
Gadis manis itu tertunduk, entah apa yang dipikirkannya. Tangannya gelisah memilin-milin ujung jilbab.
"Noor ...."
"Ye, Bang."
(Iya, Bang)
"Balik la!"
(Pulanglah!)
Dengan malas Noor berdiri, melangkah satu-satu menuju gerbang taman. Kurendeng langkahnya.
Tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku. Ada rasa aneh menjalar di seluruh tubuh. Sekali lagi, aku menikmati.
Saat berada di bawah lampu taman, kaki Noor berhenti melangkah, memaksaku juga berhenti.
Menghadapku, memegang kedua tanganku. Tubuhnya yang hanya sedagu, membuat wajahnya harus menengadah.
"Ai sukakan awak, Abang."
(Aku suka kamu, Bang)
Aku bisa membaca dari setiap sikap dan perkataannya, namun untuk mendengar langsung sebenarnya aku belum siap.
"Ai dah ada bini, Noor."
(Aku pria beristri, Noor)
"Ai tak kesah."
(Aku tak apa-apa)
"But--" Jari lentiknya menutup mulutku.
(Tapi--)
"Satu sahaja soalan , Abang ada tak rasa selesa ngan ai?"
(Cukup jawab pertanyaanku, Abang nyamankah bersamaku?)
Aku terdiam, terjebak dalam situasi yang aku tau salah, tapi terlanjur menikmatinya.
"Selesa tak abang bila-bila masa ngan ai?" ulang Noor.
(Nyamankah abang jika bersamaku?)
"Ye." Akhirnya terucap jawabanku.
(Ya)
Dibawah lampu taman, terbias sinar purnama. Aku dapat melihat wajah putihnya merona, mata bulatnya memancarkan sinar dan lengkung senyumnya seperti terpatri ... membius pandanganku.
- Samarinda, 18 Maret 2019 -
* Over time: lembur
** Rongkong: ayam goreng garing dengan saus khusus
0 Response to "Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 2)"
Post a Comment