Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 3)

Pesona Gadis Melayu (part 3)
(alih bahasa: Bagaskara Andhika Aryan)

Pagi ini cerah, walau pandangan terhalang dinding appartemen sebelah, namun sinar mentari mampu menelisik memasuki celah-celah tirai jendela.

Hari ini aku dan noor menyengaja off bersama, bermaksud menghabiskan waktu berdua, menghilangkan penat. 

Setelah memastikan penampilan, aku bergegas turun melalui tangga appartmen menuju flat di blok berbeda. Tidak sampai sepuluh menit, aku sampai di depan pintu rumah Noor.

Tidak butuh waktu lama saat pintu terbuka. Sesosok perempuan mungil berkulit putih, nampak cantik dalam balutan jilbab corak bernuansa toska, yang disandingkan dengan gamis hitam dan outer toska.

Mataku terpana, kesederhanaan wajahnya tanpa make up, membangkitkan hasrat cinta yang rasanya hampir sekarat.

"Dah pripare ke?" tanyaku
(Sudah siapkah?)

"Dah."
(Sudah)

"Jom pegi."
(Berangkat yuk)

Berjalan bersisian, menuruni tangga demi tangga. Tangan Noor menelusup dalam lenganku, kepalanya bersender ringan di bahu. Sampai kami tiba di lantai paling dasar.

Meneruskan langkah menyusuri jalan setapak khusus pejalan kaki. Ditemani pohon rindang, rumput hijau dan warna-warni bunga di kanan-kiri. Walau matahari jelang siang kurang bersahabat, namun angin sepoy mampu menetralisir teriknya.

Menjalin kata, sambil bercanda. Sesekali suara tawa Noor mengalun merdu di telingaku, bahagia rasanya saat keberadaanku dihargai. Sesekali jemari lentiknya mencubit manja lenganku. 

Lama dalam kesendirian di tanah rantau, kehadiran Noor menjadi air sejuk bagi dahagaku ... aku merasa kembali hidup. Tak terlalu berfikir tentang esok, menikmati saja alunan rasa yang telah lama hilang.

********************

Noor memilih sebuah restoran Indonesia sebagai lokasi makan siang kami. Makan siang yang kesorean, karena benda persegi yang menggantung di dinding resto tampak menunjukkan pukul 14.30.

Noor pula yang memilih tempat duduk kami, agak di sudut, jauh dari hiruk pikuk meja pemesanan dan pembayaran.

"Kena romen sikit la," ujar Noor
(Biar romantis)

Makan siang berjalan menyenangkan, Noor gadis periang, mampu membuat suasana menjadi menyenangkan. Berbeda dengan aku yang dilahirkan dan dibesarkan di tanah Jawa, lebih cenderung tenang dan pendiam.

"Adik, ada soalan abang nak bincang," kataku setelah menyelesaikan makan siang kami
(Dik, ada yang mau Abang bicarakan)

"Apahal, Bang?"
(Kenapa, Bang?)

"Masa dua pekan ni, Ai nak pegi balik Indon, nak tengok bini kejap."
(Dua pekan lagi, Aku akan kembali dulu ke Indonesia, menjenguk istriku)

"What? Mestikah?." Wajah Noor berubah murung.
(Hah? Haruskah?)

"Dah one year, Noor." 
(Sudah setahun, Noor)

"Lama tak?"
(Berapa lama?)

"Satu bulan kira."
(Sekitar satu bulan)

"Lamanya masa." Tiba-tiba netra itu membentuk kubangan, seperti mata air yang alirannya terus mengalir membasuh pipi putihnya.
(Wah, lamanya)

Tak sadar, tanganku bergerak. Menyentuh pipi dan mengusap alirannya. Melihat itu, ada nyeri yang merasuk dalam dadaku, membuat ngilu hingga ulu hati.

"Ai janji balik la, Noor."
(Aku berjanji akan kembali, Noor)

"Noor nak tunggu Abang."
(Noor akan menunggu Abang)

********************

Bukit Indah, sebuah tempat favoritku merenung. Terletak di belakang jajaran apartemen. Tidak terlalu tinggi namun dari puncaknya, bisa terlihat kota Kuala Lumpur, indah dihias pijaran-pijaran lampu di beberapa sudut.

Di sinilah kami sekarang, berdampingan dalam diam. Hening, ditemani gemerisik dedaunan serta bayangan pohon yang bergerak-gerak tertiup angin.

Waktu semakin malam, namun kami tak jua hendak beranjak. Pikiran dan hati seperti tak rela berpisah. 

Tiba-tiba jemari lembutnya menggenggam tanganku, mencium dan meletakkannya di pipi. Terasa basah. Jantungku berdetak cepat, memunculkan rasa sesak yang menyentak. 

"Ai nak tunggu Bang, Balik la, jangan tinggal ai."
(Aku akan menunggu, Bang. Kembalilah, jangan tinggalkan aku)

"Ai tak kesah Abang ada bini kat Indon, janji Awak sayangkan ai, Noor tunggu Abang ...."
(Aku tak masalah Abang punya istri di Indonesia, asalkan abang sayang aku. Noor akan tunggu Abang)

Malam merayap makin ke tengah, dingin udaranya pun makin menusuk. Namun tak sedingin aliran sesak yang mengalir dalam hatiku.

- Samarinda, 23 Maret 2019 -

0 Response to "Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 3)"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel