Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 4)
Pesona Gadis Melayu - part 4
(Kolab: mas Bagaskara Andhika Aryan)
Melayang selama enam puluh menit di udara, meretas jarak Kuala Lumpur menuju Jakarta.
Tak kupungkiri, tidak dengan bahagia kali ini perjalananku, ada serpihan hati yang tertinggal di sana. Bayangan wajah manis seorang gadis melayu, senyum cerah dan ocehan cerianya, yang belakangan mengisi hari-hariku. Mengembalikan tawa dan semangatku.
Ah, belum dua puluh empat jam, aku sudah rindu. Tak mampu membayangkan tiga puluh hari tanpanya.
Akhirnya, informasi dari kockpit pesawat, sepuluh menit ke depan, pesawat akan landing di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Banten.
Pesawat mendarat mulus, kulirik benda bulat di pergelangan tangan, pukul lima sore. Menunggu sekitar sepuluh menit untuk bisa keluar dari badan pesawat, setelah sebelumnya kuambil ransel hitam dari kotak bagasi di atas kepala.
Melanjutkan dengan berjalan kaki menuju zona kedatangan international, artinya aku harus melewati imigrasi untuk pengecekan paspor dan langsung melangkah menuju konter penerbangan transit, menuju Jogja.
Tersadar, ponselku mati sejak pesawat take-off dari Kuala Lumpur. Kuaktifkan, dan puluhan pesan masuk. Satu persatu kubaca.
Beberapa pesan Noor menanyakan kondisiku. Setelah beberapa kali berbalas chat, Noor mengakhirinya dengan kalimat ....
(Abang, hari bulan lepas Noor ada tunggu Abang kat KLIA aeport, harap Abang tak kecewakan Noor, Noor cintakan Abang - Tanggal yang sama di bulan depan, Noor akan jemput Abang di bandara. Jangan kecewakan Noor ya, Bang. Noor cinta abang)
Kutarik napas panjang, berusaha menetralisir rasa dalam dada. Kubalas.
(Abang janji tak kecewakan Noor, kita jumpa kera sebulan lepas - Abang tak akan kecewakan Noor, kita bertemu satu bulan lagi)
Kemudian beralih kepada susunan pesan istriku, diantaranya menanyakan jam keberangkatan, jam landing, berapa jam transit dan jam keberangkatan menuju Jogja. Entah kenapa, semua pesan itu mampu membuat bibirku tersenyum.
'Ternyata kau merindukanku ... aku datang, Ra.'
Dalam ruang tunggu selama satu jam berikutnya, aku mencoba menata hati, mencari-cari kembali kepingan rindu untuk istriku. Mengembalikan ingatan bahwa karena cinta padanyalah, aku rela terbang ke negeri tetangga. Mengais rezeki demi memenuhi semua permintaannya.
Rindu itu masih ada, tersimpan rapi dalam laci yang paling bawah. Setidaknya, aku masih bisa mengambilnya dan meletakkannya kembali dalam lakuna hati yang hampir penuh terisi nama Noor.
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh pengumuman maskapai, bahwa penerbangan ke Jogja yang harusnya pukul 19.00 di cancel sampai waktu yang tidak ditentukan karena gangguan tehnis. Sebagai kompensasi, maskapai memberikan fasilitas menginap bagi para penumpangnya.
Dengan lesu kukirimkan pesan pada istriku, bahwa pesawat delay dan mungkin besok pagi baru bisa terbang menuju Jogja.
Pengurusan cek-in hotel transit, dibantu oleh maskapai. Para penumpang menunggu di ruang transit. Setelah hampir dua jam menunggu, para penumpang malah mendapat informasi bahwa pesawat pengganti siap terbang dalam waktu tiga puluh menit ke depan.
Terpikir untuk memberi informasi kepada istri, namun kuurungkan.
'Ah, biar saja ... bikin surprise buat Ra.'
Jarum jam menunjukkan pukul 21.45 saat pesawat take off menuju Jogja.
'Ra, aku pulang.'
*******************
Sepuluh menit jelang jam sebelas malam, aku masih di dalam bandar udara Adhi Sucipto Jogjakarta, menunggu di ruang pengambilan bagasi.
Badanku mulai terasa letih, kepalaku sedikit berdenyut, mungkin karena kelelahan dan efek terlalu banyak duduk.
Bergegas keluar bandara dan memilih taksi, kuhempaskan badan ke jok bagian belakang. Kepalaku bertambah sakit, mungkin badanku belum terbisa kembali dengan udara malam Indonesia.
Menyebutkan sebuah alamat, taxi perlahan meninggalkan bandara. Kupijit pelan pelipis, berharap rasa sakitnya berkurang. Akhirnya memilih memejamkan mata dan tertidur.
Jarak bandara ke rumah sekitar satu jam.
Aku tersadar saat supir taxi menepuk pahaku.
"Sudah di jalan Jagalan, saya harus kemana?"
Memberi petunjuk kepada supir taxi dan sampailah kami di depan sebuah rumah mungil bercat ultramarin. Halamannya masih sama seperti setahun yang lalu, saat aku tinggalkan. Penuh dengan pohon mawar, kesukaan Ra, istriku.
Setelah membayar, bergegas aku memasuki halaman rumah. Sebuah mobil avanza hitam terparkir, menebak-nebak siapakah yang bertamu sampai selarut ini. Dua puluh menit lewat dari tengah malam.
Merogoh sesuatu di kantong ransel, sebuah kunci. Kami memang memiliki dua kunci dan terbiasa mencopot anak kunci saat pintu dalam kondisi terkunci.
Perlahan pintu kubuka, meletakkan semua barang bawaan dan melangkahkan kaki menuju kamar.
Sayup kudengar suara rintihan dan erangan di dalam kamar, seperti desahan dua manusia yang sedang mereguk kenikmatan, dan aku mengenal salah satu dari suara-suara itu.
Letih badan dan rasa sakit di kepala tak kurasakan, kalah oleh bara emosi yang tiba-tiba terbakar dan hendak meledak.
Dengan marah, kuterjang pintu di hadapan. Mata nanar menatap dua sosok manusia berjiwa setan di atas ranjang pengantinku.
"Kaliaaan ...!" teriakanku memecah hening malam.
- Jogjakarta/ Samarinda, 24 Maret 2019 -
0 Response to "Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 4)"
Post a Comment