Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 5)


Pesona Gadis Melayu - Part 5
(alih bahasa: Bagaskara Andhika Aryan)

Sayup terdengar suara adzan, menelusup dalam gendang telinga dan turun menukik menghentak hati. Perlahan kubuka mata, mencoba beradaptasi dengan sekeliling.

Kutegakkan badan, menyenderkannya pada sofa. Seluruh tubuh terasa ngilu dan pandanganku nanar. Tak sadar tangan menyentuh sudut bibir, ada luka robek yang terasa perih.

Perlahan berdiri, tiba-tiba tubuhku terhuyung ke samping, kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas sofa. Denyut di kepala masih sedikit terasa. Akhirnya memutuskan untuk duduk sejenak, menghimpun kekuatan. 

Melayang ingatanku pada kejadian semalam.

Entah setan apa yang membantuku. Dalam kondisi letih, mampu mengangkat laki-laki selingkuhan Ra, dan membantingnya ke lantai. Kami sempat beradu fisik, tak sia-sia kemampuan karateku, walaupun lelaki itu lebih besar tidak membuatku sungkan menghajar.

Lelaki itu lari, sempat kukejar namun mobilnya melesat pergi meninggalkanku dalam amarah. Saat kembali masuk, kamar telah dikunci dari dalam oleh Ra, yang dari awal kedatangan sudah sangat ketakutan

Beberapa kali kuketuk, tak berniat mendobrak kembali. Hanya terdengar isak tangis dan berkali-kali ucapan "maafkan". Hatiku terenyuh tak hendak melanjutkan.

Memilih membaringkan diri di atas karpet ruang keluarga beralas bantal sofa, dan akhirnya tertidur.

Pandanganku beralih ke pintu kamar, masih tertutup seperti semalam. Mencoba melangkah mengambil air wudhu, rasa perih menjalar ke seluruh wajahku, terutama luka robek di bibir.

Penuh khusyuk menjalankan ritual subuhku, rasanya belum pernah menjalankannya se-khusyuk ini. Air mata meleleh, menyadari bahwa dosa-dosaku turut andil dalam menghadirkan penghianatan ini.

Melangkah mengetuk pintu kamar, tak ada jawaban. Kugerakkan handel, pintu bergerak. Kamar kosong. 

Terduduk di ujung ranjang, ada nyeri yang tiba-tiba menyerang, perlahan kuusap dada, memejamkan mata dan menarik napas panjang, lalu mengembusnya. Mencoba menghilangkan perih yang kian lama kian terasa sakit.

Menyadari bahwa Ra, perempun yang membuatku rela mengering di tanah rantau, telah memilih meninggalkanku. Tepat dihari pertama aku bertemu dengannya setelah satu tahun berpisah.

********************

Sejak kejadian malam itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan Ra, menghilang tak tentu rimba, bahkan orangtuanya pun tak tahu keberadaan Ra.

Sialnya, Ra mengambil semua berkas-berkas legalitasku. Ijazah, pasport, dokumen-dokumen penting. Hanya tersisa KTP,  itu pun karena Ra masih berkenan meninggalkan dompetku.

Lebih parah, ponselku pun di ambilnya. Tak tersisa data nomor telepone penting. Semua kontakku hilang, hingga hubungan dengan agen tenaga kerja terputus. Begitu pun dengan semua teman-teman di Malaysia, termasuk Noor.

Ah ... mengingat Noor, ada rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak, menggelitik hati terdalam. Ada janji yang akhirnya tak mungkin kutepati. Aku pasrah, mungkin kami memang tak berjodoh.

Kini aku tinggal bersama orangtuaku. Pagi saat aku menyadari Ra memilih pergi, saat itu pula aku putuskan keluar dari rumah. Tak hendak berpanjang sedih, aku mencoba menata kembali hidupku. Memperbaiki langkah yang mulai tersarang maksiyat.

Di rumah orangtua, aku mulai rajin mengkaji islam. Membuatku sadar bahwa setiap perilaku buruk yang dilakukan, maka efeknya akan kembali ke sipelaku, begitu pun sebaliknya.

Aku semakin percaya, tidak ada yang sia-sia, hanya Allah Sang Maha Pengatur, Dia selalu menyiapkan hikmah dari setiap kejadian yang ditetapkan untuk hamba-Nya.

********************

POV Noor

Hari ni, ngam satu bulan lepas Abang balik kat Indonesia. Janji dah pon di buat bila hari bulan same masa dia pegi
(Hari ini, tepat sebulan yang lalu Abang pulang kembali ke Indonesia. Sudah terucap janji dia akan kembali di tanggal yang sama saat dia pergi)

Meskipon tak de pekhabaran sikitpun perihal dia. Meski satu mesej pon tak de balasan, ai kena harap dia balik, Abang ai balik.
(Walau tak tau sedikit pun kabar berita tentang dia. Walau tak satu pun pesan yang kukirim mendapat balasan. Aku tetap berharap dia kembali, Abangku kembali)

Semacam ini lah ai, dudok sorang je kat waiting room KLIA. Terpandang gate ketibaan international je
(Dan di sinilah aku, duduk terdiam di salah satu sudut ruang tunggu penjemput di Kuala Lumpur International Airport. Tak lepas memandang pintu kedatangan international)

Semasa perkhabaran ketibaan plane dari Indon, ai tegak semula, penuh harap kedatangan seseorang yang ai rindukan
(Setiap pengumuman akan landingnya pesawat dari Indonesia, aku berdiri menatap penuh harap, hadirnya sosok yang ku rindu)

Bila malam dah pon tiba, ianya tak nampak pon sorang je mematung, harap tlah pon menguap, tak terase ayer matapon mengalir
(Sampai malam menjelang, sosok itu tak pernah hadir. Dan aku masih diam, terpaku. Sedikit demi sedikit harap itu mulai menguap, tak terasa air mataku mengalir)

Kat mana awak, Abang saye?
(Di manakah kau, Abangku?)

- Samarinda, 25 Maret 2019 -

0 Response to "Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 5)"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel