Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 6)


Pesona Gadis Melayu - Part 6
(alih bahasa Bagaskara Andhika Aryan)

Matahari dhuha tak terlalu menyengat. Lalu lalang manusia di depan toko, mulai berkurang. Sergap kubuka gerendel toko, membersihkan dan merapikan barang serta ruangannya.

Setelah terpuruk, enam bulan yang lalu, aku mencoba bangkit. Menyadari bahwa aku hanya manusia tanpa surat legalitas,  tak mungkin diterima bekerja di perusahaan. 

Dengan sisa tabungan yang ada, ditambah bantuan dana dari Bapak, aku membuka kios perangkat dan reparasi komputer, sesuai latar belakang pendidikan juga pengalaman bekerja.

"Le, Ibu ke pasar dulu, ya." Suara ibu, tampak beliau berjalan melewatiku menuju halaman. 

"Ya, Bu ... mau Bagas antar?"

"Ndak, Le. Jalan kaki saja."

"Hati-hati ya, Bu."

Menatap ibu berjalan menjauh, tiba-tiba ada nyeri yang menyergap di kepala bagian kiriku. Kupicingkan mata mencoba menetralisir rasa, namun tak jua hilang. 

Tak sadar tangan bergerak meremas kepala, mencoba menghalau rasa, namun nyeri makin tak tertahankan. Tiba-tiba tubuhku mengejang, jatuh bersimpuh di lantai kios mencoba mencari pegangan agar tak jatuh.

Menarik napas panjang berkali-kali, sambil memijit bagian yang terasa sakit. Sedikit demi sedikit, sakit itu mereda.

Sudah dua bulan belakangan, nyeri itu sering menyerang. Aku berpikir, mungkin aku kelelahan atau masuk angin. 

Untuk membuktikan kepada Ayah bahwa aku sungguh-sungguh dalam mengelola kios, tidak segan membuat brosur yang kubagikan dari rumah ke rumah, serta proposal penawaran perangkat keras kepada beberapa perusahaan di sekitar kota ini.

Alhamdulillah setelah berjalan enam bulan, kiosku ramai. Beberapa perusahaan kecil memberikan order lumayan. Aku bisa membuktikan pada orang tua, walau tanpa ijazah formal dan sempat mengalami trauma pernikahan, aku bisa bangkit.

Orang tua sering mendesakku untuk mengurus surat cerai, tapi entah mengapa aku masih enggan menyandang status duda secara formal. Pada kenyataannya aku memang laki-laki tanpa istri. Namun untuk menjadikan hal tersebut legal, aku masih belum siap.

"Ayolah, Le. Kapan kamu mau urus surat ceraimu? Sudah enam bulan, Ira pergi. Tidakkah kamu ingin menikah lagi?" Pertanyaan Bapak tadi malam.

"Ingin, Pak. Tapi bukan sekarang. Sekarang Bagas hendak membuktikan dulu pada Bapak, bahwa Bagas serius menjalankan usaha ini," jawabku mencoba meyakinkan Bapak.

"Bapak kenal kamu, Le. Kamu memang orang yang selalu sungguh-sungguh ... sejak kecil. Itu juga yang membuatmu menikahi Ira dan membawa langkahmu ke Malaysia."

Aku terdiam, mengingat bahwa Bapak dan Ibu memang tidak sepenuhnya menyetujui pernikahanku dengan Ra. Saat kutanya mengapa, mereka tak pernah mau menjawab. "Hanya perasaan orang tua saja, Le." Itu selalu jawabnya.

"Saat setahun di Malaysia, Bagas tak bisa menyenangkan hati Bapak dan Ibu. Hampir semua penghasilan dikirim ke Ra, hanya menyediakan sedikit untuk kehidupanku. Maafkan ya, Pak."

"Kami cuma orangtua, yang ingin anaknya bahagia, Le."

********************

Alhamdulillah hari ini kios ramai, bahkan di penghujung senja, aku masih sempat mengantarkan dua buah printer yang telah selesai diperbaiki.

Sampai di depan rumah, tampak kios sudah tertutup, mungkin Bapak yang membantu menutupnya. Kuparkir motor di garasi samping. Melihat langit, jingganya sudah mulai berubah menjadi magenta.

Berjalan masuk rumah, terasa letih sekali badanku, rasanya ingin berbaring. Belum sempat masuk ke kamar, terdengar ucapan salam dari arah pintu.

"Assalamu'alaikum." Seorang Bapak yang sudah cukup berumur

Enggan kulangkahkan kaki mendekati pintu, 

"Walaikumsalam."

"Maaf encik, betol ke ini romah Bagas?" tanyanya dengan dialek khas Melayu
(Benar di sini rumah Nak Bagas?)

"Betol encik. Saye Bagas. Adakah cik terjumpa sebelom masa ni?" Aku kembali bertanya. 
(Benar, Pak. Saya Bagas. Apa kita kenal sebelumnya?)

Namun rasa letih badan rasanya tak bisa diajak kompromi, mengundang rasa nyeri seperti tadi pagi, sekuat tenaga kutahan.

"Tak de lah Bagas, ai ponya budak pompuan , Noor!"
(Bukan saya yang Nak Bagas kenal, tapi anak saya, Noor!)

Dari arah remang muncul sosok yang sangat kukenal, dalam diam kurindukan tapi telah kuikhlaskan ketidakberdayaan menjangkaunya.

"Ape khabar, Abang?"
Noor melangkah mendekatiku
(Apa kabar, Abang?)

Aku ingin menjawab, tapi rasa sakit itu semakin mendominasi, mengatup mulutku hingga tak mampu bicara. Badanku menegang, pandanganku nanar. Mencoba mengusirnya dengan meremas kepala, namun pandanganku mengabur. Masih terdengar teriakan Noor sebelum semuanya menjadi gelap.

"Abaaang!"

********************

Pov Noor (kilas balik)

Hampir enam bulan berlalu sejak kepergian Abang. Tak sekali pun dia memberi kabar. Apakah dia baik-baik saja.

Aku seperti perempuan muda yang hilang akal, tahu dia punya istri tapi tak mampu menahan diri dari mencintai.

Sampai saat ini, aku masih menyimpan segudang rindu untuknya.

"Ezlin, bawa semua berkas penyata kewangan kat bilik keje ai!" seruku kepada Manajer Store.
(Ezlin, bawa semua laporan keuangan ke ruang kerjaku ya!)

Menjadi pewaris tunggal perusahaan retail bukanlah hal yang mudah. Abah menyerahkan lima belas mini market di sekitar Kuala Lumpur di bawah pengawasanku.

Memastikan suplay dan demand berjalan seimbang, memastikan kualitas barang sempurna, mengawasi alur keuangan dan memastikan kesejahteraan karyawan, adalah tugasku.

Bahkan demi memastikan tegaknya rasa keadilan, aku menggunakan seragam karyawan juga dalam keseharian dan memilih rumah flat untuk tempat tinggal. Selain lokasinya di tengah kota, aku bisa lebih bebas menjadi diriku sendiri tanpa orang lain tau siapa orang tuaku.

Teringat pembicaraan kemarin dengan Abah.

"Noor tak nak kahwin sesiapapon, Abah. Noor kena pastikan dahulu ade tak kesempatan jadi bini Abang?"
(Noor tak mau nikah dengan siapa pun, Abah. Sebelum memastikan, betulkah Noor tak punya kesempatan menjadi istrinya Abang?)

"Kau dah bermimpi, Noor. Bagas ni dah pon punyai bini kat Indon. Tak de lah dia nak balik!"
(Kamu mimpi, Noor. Bagas sudah punya istri di Indonesia. Dia tak mungkin kembali!)

"Noor tak caye, Noor ada rasai cinta Abang macam cinta Noor kat dia la."
(Noor tak percaya, Noor rasakan cinta Abang sebesar rasa cinta Noor padanya)

"Apa yang korang nak?"
(Lalu kamu mau apa?)

"Noor kena pastikan, ada tidak Abang nak berkahwin ngan Noor."
(Noor harus pastikan, benarkah Abang tak mau menikahi Noor)

"Cam na korang buat? Korang pon tak de dia bagi nombor talipon, addres pon tak de."
(Bagaimana caranya? Kamu tak punya nomor telponenya, tak tahu alamatnya)

Aku terdiam, ini pertama kali aku benar-benar merasakan jatuh cinta. Aku tau, Abang pun punya cinta yang sama padaku, walau dia tak betul-betul mengenalku dan tidak tau latar belakangku.

Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang mendekatiku, karena kedudukan dan harta. Aku bisa merasakan ketulusan cinta Abang.

"Okela, Noor. Abah nak cuba cari tahu adrres Bagas. Kite kena jumpainya, pon semasa berjompa dia tak nak kahwinkan korang, awak mesti mahu berkahwin ngan budak laki yang Abah tunjok."
(Okelah, Noor. Abah akan coba mencari keberadaan Bagas. Kita akan menemuinya. Namun jika ternyata dia tak mau menikahimu, maka kamu harus menikah dengan calon yang Abah tunjuk)

Mataku berbinar.

"Iyekah, Bah? Abah nak tolong Noor?"
(Iyakah, Bah? Abah mau bantu Noor?)

"Pekan hadapan,insya Alloh kite terbang ke Indon."
(Pekan depan, insya Allah kita terbang ke Indonesia)

Harapanku kembali menyala.

- Samarinda, 27 Maret 2019 -

0 Response to "Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 6)"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel