Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 7)
Pesona Gadis Melayu - part 7
(Alih bahasa: Bagaskara Andhika Aryan)
Kesadaran mulai menghampiri saat mencium aroma khas rumah sakit. Namun mata terasa berat, tak mampu membuka. Kucoba menggerakkan jari-jari, seperti ada yang tersentuh.
Sayup terdengar suara
"Doktor, pesakit dah tersedar!"
(Dokter, pasiennya sadar!)
Suara itu sangat kukenal, tapi mengapa jaraknya jauh sekali. Mendengar suara berisik, beberapa orang seperti berdiri di sekitarku. Berusaha membuka mata, namun tak mampu.
Tiba-tiba kurasakan benda dingin menyetuh dada, beberapa kali. Kemudian kelopak mata dibuka, dan sinar terang menembus netra. Aku terkesiap.
Suara-suara di sekitar makin menjauh dan aku kembali masuk ke dalam alam bawah sadar.
*********************
Merasakan hawa begitu dingin menusuk kulit. Mencoba membuka mata, sekuat tenaga dan kali ini berhasil.
Tersilau dengan cahaya lampu, mengerjapkan mata mencoba membiasakan. Akhirnya tampak ruang serba putih. Di hidung dan tanganku terpasang selang. Di dadaku terpasang kabel-kabel yang menuju pada sebuah mesin.
Aku sendirian. Kedinginan. Sekelilingku sepi.
Tak berapa lama, seorang perempuan yang sangat kukenal, mengenakan jubah khas ICU berwarna hijau, berjalan mendekat. Wajahnya sumringah dengan senyum seperti sabit.
"Alhamdulillah, Abang dah tersedar pon."
(Alhamdulillah, Abang sudah sadar)
"Dingin ...," lirihku hampir tak terdengar.
"Abang, cakap ape?" Dia mendekatkan telinga ke wajahku. Ada jengah yang muncul.
(Abang, bicara apa?)
"Ibu ...." Itulah yang akhirnya terucap.
"Abang, mencari ibu ke? Kejap Noor pegi memanggil Ibu."
(Abang, cari ibukah? Sebentar Noor keluar panggil Ibu)
Dalam keheningan ruang ICU, aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi.
Pintu ICU terbuka, muncul seraut wajah Ibu, perempuan yang paling kucinta. Menyusul Noor di belakangnya.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Le. Masih ada yang sakit?"
Perlahan kugelengkan kepala, "Dingin."
"Setau ibu tidak boleh membawa apa pun dari luar, Le. Ini ICU. Sabar ya."
Noor mendekat, menggenggam jemari. Namun perlahan kuingsutkan lengan, hingga genggaman Noor terlepas, bisa kurasakan Noor terkejut.
*****
Hari ketiga di rumah sakit, aku dipindahkan ke ruang rawat reguler. Kondisi makin stabil, dan rasa nyeri di kepala sudah tidak pernah hadir walau stamina masih sangat lemah.
Setiap hari Noor hadir, sejak pagi sampai malam tidak sedikit pun pergi dari hadapanku. Jika malam menjelang, Noor kembali ke hotel bersama Ayahnya.
Tapi aku berusaha untuk tidak berada dalam ruangan berdua. Setiap Noor ingin menyuapi atau melakukan sesuatu, aku menolak, aku lebih meminta ibu melakukan. Aku tahu Noor sedih.
Namun aku ingin menjaga diri. Tiga bulan terakhir aktif di pengajian masjid, sadar terlalu banyak perilaku yang tidak sesuai dengan agama.
Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, itu nasihat ustad dalam sebuah ceramahnya.
Aku sudah pernah gagal dan tidak hendak gagal untuk kedua kali.
********************
Ibu baru selesai menyuapiku, Noor duduk di hadapan memandang penuh arti. Ada guratan sedih di wajahnya. Aku tak hendak juga bertanya.
Pintu kamar terbuka, Ayah dan Ayah Noor masuk kemudian duduk di samping pembaringan.
"Besok kamu sudah boleh pulang, Le." Ayah membuka percakapan.
"Alhamdulillah."
"Kamu tak hendak tau kondisimu?"
"Tidak untuk konsumsi publik, Ayah. Nanti saja membahasnya."
"Tapi Noor dan Ayahnya sudah tau."
Ada rasa tidak terima dengan informasi itu.
"Mengapa bisa tahu?" Suaraku meninggi, di sudut mataku tampak Noor menunduk, tangannya terangkat menyeka mata.
'Maaf Noor, mungkin aku mencintaimu, tapi bukan hakmu mengetahui pribadiku'
"Mungkin Ayah Noor mau mengatakan sesuatu padamu, Le. Silahkan tuan."
"Bagas, budak pompuan saye ni dah cintakan awak. Masa enam bulan tak de jumpe tak buleh buat Noor lupakan awak, lagi banyak die rase kehilangan awak. Die lagi tambah percaye yang korang cintakan die macam dia cintakan awak.
(Anakku mencintaimu, Nak Bagas. Waktu enam bulan tidak bertemu bukannya membuat Noor lupa, malah semakin dia kehilanganmu. Dia yakin kamu mencintainya sebesar cintanya padamu)
"Saye telah cuba cari tahu kewujudan engkau sempena ramai kaki tangan perhubongan saye kat Indon. Last saye ade terjumpa romah korang tu.
(Saya berusaha menemukan keberadaanmu melalui relasi-relasi saya di Indonesia. Akhirnya bisa sampai ke rumahmu beberapa hari yang lalu)
"Noor ade perjanjian ngan saye, jika awak tak de sembarang niat nak kahwinkan Noor, maka saye kena kahwinkan Noor ngan budak jantan pilihan saye." Panjang lebar laki-laki paruh baya itu menerangkan.
(Noor punya perjanjian dengan saya, jika kamu tidak berniat menikahinya, maka saya akan menikahkan Noor dengan laki-laki pilihan saya)
Wajahku menoleh pada Noor.
"Ai sayangkan, Abang. Ai ade cakapkan ai nak tunggu. Walaoupun abang ingkarkan janji, rasa tu tak boleh mati." Wajah Nur basah
(Aku sayang, Abang. Sudah kukatakan aku akan menunggu. Walau abang ingkar janji, rasa itu tak bisa mati)
Hatiku trenyuh, ingin rasanya mengatakan, 'Aku pun mencintaimu, Noor.' Namun lidah terasa kelu.
"Kemarin, dokter memanggil ayah dan menerangkan kondisimu. Trauma kecelakaan saat kamu SMA, muncul lagi. Dokter memprediksi, kepalamu terbentur. Namun Ayah tak bisa memberi keterangan apa-apa karena memang tak tahu."
Aku teringat adu fisik enam bulan yang lalu dengan selingkuhan Ra. Memang beberapa kali manusia bejad itu berhasil membenturkan kepalaku.
"Tuan Abdul Razak telah menerangkan maksud kedatangannya, dan ayah wajib menyampaikan kondisimu. Tak boleh ada yang ditutupi dari sebuah pernikahan, bukan?"
"Kiranya, Abang dah berjanji nak balik?" Suara Noor menyentakku.
(Bukankah, Abang berjanji akan kembali?)
'Ya, aku memang berjanji Noor. Tapi pantaskah aku?' Lagi-lagi pertanyaan itu hanya sebatas dalam pikiranku.
"Saye sakit, Noor." Justru pernyataan ini yang terucap.
(Aku sakit, Noor)
"Noor cintakan, Abang, tak kesah camna kondisyen Abang. Masih tak cukupkah mase enam bulan ni untok tunjokkan?"
(Noor mencintai, Abang, apa pun kondisi Abang. Kurangkah waktu enam bulan untuk membuktikannya?)
"Aku masih terikat pernikahan."
"Maksud Abang?" tanya Noor
"Apa maksudmu dengan terikat pernikahan, Le? Kesendirian ditinggal kabur istri, itu yang kamu bilang pernikahan? Perempuan yang berselingkuh saat suaminya bekerja, itu yang kamu anggap istri?" Ibu menyela, suaranya meninggi.
Aku tersentak. Seumur hidup belum pernah Ibu bicara setegas itu. Kupandang wajahnya, ada marah yang terbaca. Disamping ibu, Noor memandang penuh tanda tanya.
"Ibu bisa membedakan mana perempuan yang hatinya bersih, Le. Ibu menerima Noor jadi menantu ibu."
Ibu memeluk Noor dan menangis.
"Ibu melamar, Noor. Maukah, Noor, menjadi istri dari anak ibu yang bernama Bagas?"
Wajah Noor tetap penuh tanda tanya, memandang wajah ibu yang basah oleh air mata. Sejenak kemudian wajahnya beralih memandangku, seperti mencari arti sikap dan ucapan ibu.
"Mak ai cakap, Mahukah Noor jadi anak pompuan Mak?" Aku memberi jawaban.
(Ibuku bilang, maukah Noor menjadi menantu ibu?)
Wajah Noor memerah, pipinya yang putih merona. Dipegangnya tangan ibu.
"Noor, mahu nak jadi anak pompuan Ibu!" jawabnya mantap.
(Noor, mau jadi menantu Ibu!)
- Samarinda, 29 Maret 2019 -
0 Response to "Cerita Bersambung: Pesona Gadis Melayu (Part. 7)"
Post a Comment