Cinta yang Tak Mungkin | Cermin
Peluh membasahi rambut. Napas sudah terasa berat. Kipas angin besar yang dipasang di atas mesin-mesin pemotong pola, tidak mampu mengalahkan hawa panas yang menguap dari mesin.
Terik panas yang membuat silau, tertangkap mataku dari celah jeruji jendela. Atap seng pabrik, meneruskan panas matahari dan menambah tinggi derajat celcius di dalam ruangan ini, makin membuat deras bulir-bulir peluhku.
Akhirnya pluit tanda istirahat berbunyi. Cepat kumatikan mesin. Mengusap peluh dan melangkah menuju loker karyawan, mengambil sebungkus makanan yang kusempatkan beli di warung tegal di samping pintu masuk pabrik.
Kubawa bekal menuju sebuah taman di salah satu sudut halaman pabrik. Melewati gerombolan karyawan lain yang mulai menyantap makan siangnya, diimbuhi celoteh dan suara tawa di sana sini.
'Hiburan khas buruh rendahan!'
Mengarahkan langkah ke bawah pohon trembesi, yang daunnya dari jauh membentuk payung, memberi kesejukan di tengah panas matahari yang menyengat.
Kujatuhkan pantatku sembarangan, membuka bekal, mencuci tangan seadanya ... dan nikmat menyantap nasi berlauk telor, tempe orek dan sayur oseng. Sederhana, tapi nikmat.
Menyambung dengan sebatang rokok, melepas riuh asapnya ke udara, dengan posisi punggung menyandar ke batang pohon. Dunia serasa kosong ... hingga sebatang rokok habis dan mataku mulai menyipit dibawa semilir angin.
Samar-samar sebelum mataku terpejam sempurna ....
"Permisi, ikutan duduk sini ya?"
Akhirnya mata terbuka lebar kembali, saat terlihat seorang perempuan mungil berambut sebahu, menenteng sebuah bungkusan. Mataku melotot.
"Boleh nggak duduk di sini?" katanya mengulang.
"Eh, iya ... iya, silahkan, heheh maaf ya, bengong," jawabku gugup. "Kok baru makan?"
"Tadi sholat dulu, lagian kalau langsung makan pasti susah nyari tempat, penuh!" jawabnya sambil membuka bungkus makannya, seporsi nasi pecel ayam.
"Makan yuk!"
"Aku sudah kenyang, malah sudah hampir tidur waktu kamu datang."
"Hehehe, iya ... maaf ya, ganggu tidur siangmu."
"Kamu anak baru ya? Namamu siapa?"
"Aku, Ratih. Baru masuk seminggu yang lalu di bagian sewing line tujuh. Namamu siapa?"
"Panggil aja aku, Boy!"
"Hah? Boy? Kok bisa?" kata Ratih disela-sela kunyahannya.
"Ya bisalah, memang orang pabrik kenalnya, Boy!"
Dan mengalirlah obrolan kami, hingga tak terasa, terdengar pluit tanda berakhir jam istirahat. Aku berjanji pada Ratih akan mengantarnya pulang setelah jam kerja berakhir, dengan motorku, dan kami berjanji untuk bertemu kembali di bawah pohon trembesi.
**********
Hari berlalu begitu cepat, tanpa terasa hubunganku dengan Ratih sudah berjalan tiga bulan. Hampir setiap hari, aku antar Ratih pulang. Kadang menyempatkan mampir untuk sekedar minum teh dan ngobrol.
Ratih, 18 tahun cuma lulusan SMP. Sudah dua kali menikah, pertama diusia 14 tahun hanya bertahan dua tahun, berpisah karena lebam-lebam di seluruh tubuhnya.
Suami kedua, baru tiga bulan yang lalu pergi tanpa jejak. Persis saat ia baru masuk pabrik sepatu tempatku bekerja. Meninggalkan seorang anak yang sekarang dititipkan pada orangtuanya di desa.
Kedua mantan suaminya adalah type laki-laki tak bertanggung jawab, penikmat wanita penggerogot harta orangtua. Hasil balas budi bapak dan ibu Ratih dengan anak juragan-juragan kampung yang membantu mereka membeli beras saat musim kemarau melanda desa.
Nasib khas rakyat jelata pedesaan ... darah ekonomi terhisap lintah darat, hingga akhirnya berusaha membebaskan diri dengan merelakan hartanya yang paling berharga, anak!
"Kamu masih mau nikah lagi, Tih?" tanyaku
"Hmmm, nggak tau."
"Masih ngarep sama laki-laki?"
"Kan fitrahnya memang begitu."
"Dengan kemungkinan ditinggal lagi?"
"Memangnya semua laki-laki begitu ya?"
"Mungkin tidak, tapi sepertinya yang kita temui semuanya begitu!" ujarku nelongso. Mataku lurus menatap pintu yang posisinya terbuka sedikit. Tampak guyuran air dari langit jatuh berdebam ke bumi.
"Kamu nyaman nggak sama aku?"
"Nyaman ... nyaman banget." Suara Ratih lirih, hampir tenggelam oleh suara hujan
"Kenapa nggak sama aku aja?" Kualihkan wajah menatapnya lekat, mulai menggerakkan tangan menyentuh pipi. Menyusuri bingkai wajah, mengusap pelan bibir merahnya.
Wajahku mulai bergerak, memperpendek jarak dengan wajahnya. Saat bibir kami mulai bertemu, tiba-tiba Ratih mendorong pelan dadaku.
"Nggak boleh, Boy ... nggak boleh begini!" Suara Ratih mirip rintihan, ada isak di selanya.
"Kenapa? Aku mencintaimu ... kita saling cinta, Tih! Buktinya kamu nyaman sama aku."
"Betul, mungkin kita saling cinta ... tapi hubungan ini salah, Boy! Salah secara agama, salah secara adab kemanusiaan!"
"Kita perempuan, walau pun kita sama-sama korban laki-laki, tapi bukan berarti kita boleh menentang kodrat kita, Boy! Kita butuh laki-laki ... bukan perempuan!"
- Palaran, 15 Januari 2019 -
----
Baca juga: Pengantin Kematian
0 Response to "Cinta yang Tak Mungkin | Cermin"
Post a Comment