Jejak Misterius

Memeluk erat dengan meletakkan kepala dipunggungnya bagian atas, adalah posisi favoritku. Kadang guncangan yang terjadi justru membuatku serasa diayun-ayun, membuat berat kelopak mata bagian atas. 

"Dek, sudah sampai ... bangun! Bisa aja deh tidur di atas motor. Berat tau!"

Mataku mengerjap-ngerjap tersadar, lalu memberikan senyum semanis mungkin.

Turun dr motor, kuaduk-aduk isi tas mencari kunci kontrakan, tampak olehku benda mungil berwarna perak yang melingkar di lengan menunjukkan pukul duapuluh satu lebih duapuluh menit. Lingkungan sekitar sudah sepi, halaman yang rimbun pepohonan hanya diterangi sebuah lampu dipojok jalan tampak remang.

Masuk rumah, dalam kondisi lelah. Alhamdulillah pulang kantor, abang mengajak makan di warung tenda kaki lima, dan sholat isya di masjid sekitar situ, jadi sampai rumah tinggal beberes badan dan tidur. 

Melepas semua yang harus dilepas, ambil handuk kemudian melangkahkan kaki ke kamar mandi.

"Dek, kok anggur tinggal setengah ya?"

"Mana Ade tau, Bang ... yang ngabisinkan, Abang!"

"Aku nggak ngabisin, kok! Tadi pagi sepiring masih penuh! Aku yang masukkan dalam kulkas."

"Trus siapa yang makan? Setan?!"

"Hus! Sembarangan aja kalau ngomong!"

Sepuluh menit, selesai sudah. Keluar kamar mandi dengan berbalut handuk dan kondisi segar. Kugantungkan handuk baru di leher abang dan mendorongnya masuk kamar mandi.

"Mandi buruan! Asyem!"

"Tapi suka, tiap malam maunya tidur dibawah ketekku, wee ....! Si Abang bicara sambil memelukku, menebar aroma tak sedap.

"Asyeeemmm!" kataku kelabakan, berlari menjauh.

*****

Selesai sudah, babydoll pink kesayangan, sisir rambut dan mengikatnya keatas, sedikit parfum beraroma lembut, ritual malamku setiap hari. Kewajiban untuk abang tercinta.

Beranjak menuju peraduan, mataku terpaku.

"Kenapa, Dek?" 

"Dek ....!"

Tersadar saat tepukan lembut menyergap bahu.

"Ada apa?" suara abang mampir di telingaku, rupanya dia sudah selesai mandi.

Tak merubah posisi, kutunjukkan sebuah jejak samar di atas sprey polos ungu tua, berbentuk setengah kaki bagian atasnya saja.

Bulu kudukku meremang, wajah memanas dan debaran hati terasa seperti gendang yang ditabuh bertalu-talu. Mata tak bisa lepas dari jejak itu, walaupun hatiku ingin.

Perlahan abang mendekati jejak itu, memperhatikan dengan seksama, kemudian duduk di tepi ranjang. Wajahnya pias ... ini adalah kejadian ketiga kalinya.

"Ambil sapu kasur, pukul sambil baca ta'awudz! Aku mau pakai baju dulu," suara abang berusaha menetralisir hatiku. 

Berusaha menguatkan tubuh mengatasi rasa takut. Kakiku gemetar serasa tak berpijak pada bumi.

"A'udzubillahiminasy-syaithoonirrajiim" lafadzku kencang. Berkali-kali kupukulkan sapu ke arah kasur seperti orang kehilangan akal.

Berhenti saat lenganku tertangkap sosok lengan kekar, menarik tubuhku dalam pelukannya.

"Baca qur'an yuk!"

- Samarinda, 8 Januari 2019 -

0 Response to "Jejak Misterius"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel