Abadi
"Mas ... berapa, Mas?!" Suara Rena sedikit tinggi sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkahku.
"Memang kenapa sih, Yang?"
"Iya, jawab aja, tadi ngasih berapa?" tegas Rena berkali-kali, mendesakku menjawab pertanyaannya.
"Nanti maraaah ...!" Kakiku mulai masuk kedalam rumah, mengarahkan langkah menuju sofa.
"Jawab aja!"
"Duduk ayo duduk," jawabku tetap tenang, tak hendak terpengaruh dengan emosi Rena.
"Ada apa sih, Lang, Na?" Suara ayah mertuaku, yang muncul dari pintu kamarnya.
"Ini lo, Yah. Mas Elang!"
"Masmu kenapa?"
"Masa ngasih tukang parkir aja sepuluh ribu!" jawab Rena sewot, bibirnya mulai monyong-monyong. Jadi pingin kumakan ... ups!
"Apa lihat-lihat?!"
"Ih, kok sewotnya jadi kemana-mana sih?" jawabku sambil tersenyum
"Itu tadi ngapain, Mas, senyum-senyum?"
"Lah kan senyum sama istri sendiri."
"Aku lagi sewot, jangan disenyum-senyumin!"
"Jadi kamu sewot karena Elang memberi uang sepuluh ribu ke tukang parkir?" kata ayah.
"Ayah ... tukang parkirnya tuh bukan cuma satu. Dari supermarket ke Bank, dari Bank ke Kantor Pos. Tiga, Yah, Tiga!"
"Lalu?"
"Boros! Harusnya cuma ngasih sembilan ribu jadi tiga puluh ribu. Ya ampun, Ayaaah, seperti orang kebanyakan uang aja sih, Mas Elang, itu!
Ayah terdiam menatapku, sepertinya berharap aku buka suara. Baru saja mulut ini mau bicara ....
"Di Kantor Pos pun begitu, uang kembalian nggak diterima dikasih buat kasirnya. Ngasih pengamen aj dua puluh ribu, gimana aku nggak sewot!"
Aku tetap duduk dengan tenang, sempat melirik ke wajah ayah yang pias. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Kamu sudah sewotnya?"
"Habis, Mas Elang, ngga jawab-jawab!"
"Ya gimana mau jawab, kamunya nyerocos terus!" tegas ayah, mampu membungkam mulut istri manisku.
"Lang ...."
Kuawali dengan mengambil nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Masih tampak wajah sewot Rena yang duduk di seberangku.
"Ayahku profesinya satpam, Yah. Uang gajinya diberikan semua ke ibu, cukup untuk makan kami sebulan, bayar uang sekolah dan kebutuhan pokok lainnya.
Ayah sering dapat tips dari tamu-tamu kantor kalau membantu mengatur lalu lintas saat mobil mereka keluar halaman kantor. Dengan uang itulah ayah membiayai ongkosnya pulang pergi bekerja, kadang kalau lebih, kami dibelikan oleh-oleh, kadang gorengan, kadang bolu kukus, apa saja yang pas dengan uang yang ada.
Kalau kami request minta belikan martabak telor, ayah akan menabung sisa ongkosnya selama beberapa hari. Jadi kami bisa makan martabak telor, paling cuma sebulan sekali," ucapku pelan tanpa emosi. Kulirik wajah manis Rena, emosi itu menghilang.
"Pernah Bunga sakit, dan ibu sudah tak pegang uang sama sekali. Saat ayah pulang, beliau membawa uang dua puluh ribu, dengan uang itu Bunga bisa dibawa ke dokter."
Wajah Rena tertunduk, mulai tersirat penyesalan. Ah, sebenarnya bukan itu niatku bercerita.
"Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan rizki. Saya ingin meneruskan kebaikan orang-orang yang pernah baik pada ayah. Mungkin kami tak saling kenal, tapi kebaikan mereka abadi dalam ingatan saya, dan saya ingin mengabadikan kebaikan itu terus sampai anak saya merasakannya.
Apalagi saat saya memberi lebih, saya merasakan aura bahagia dari mereka, dan kebahagiaan itu mengalir menembus hati saya, membuat saya pun bahagia. Buat orang seperti mereka, seperti ayah saya, kelebihan lima ribu itu sesuatu yang luar biasa, karena bisa jadi dengan lima ribu, ada keinginan anak-anak mereka yang bisa mereka belikan.
Apalagi sesaat setelah saya memberi, doa-doa meluncur dari mulut mereka, terkadang doa orang-orang seperti mereka lebih tulus, Yah. Dan bisa jadi doa itulah yang Allah ijabah buat saya hingga saya bisa makin sukses seperti sekarang."
Tiba-tina Rena berdiri dan menubruk kakiku, bersimpuh dan meletakkan kepalanya di pangkuanku. Menangis ....
"Maaf ya, Mas. Aku buta, aku terlalu perhitungan, aku sombong!"
Kuusap kepalanya lembut.
"Nggaklah, mana mau aku nikah sama orang sombong ... kamu cuma lupa."
Kepala Rena menengadah, wajahnya basah.
"Makasih ya, Mas sudah memberikan sebuah pembelajaran hidup yang sangat berharga buat aku. Aku akan membantu, Mas, mengabadikan kebaikan."
- Samarinda, 14 Januari 2019 -
0 Response to "Abadi"
Post a Comment