Cerita Seri: Hiking (2)

Hiking
(Veradina Rahmawati)

Benda bulat di pergelangan tangan menunjukkan pukul 10.30 wib, kupilih sebuah dahan pohon besar yang sudah mati dan duduk meluruskan kaki. Sementara Fajar, si ketua rombongan sedang melakukan pendaftaran ulang di pos penjagaan satu Gunung Gede Pangrango.

"Napa, Li?" Fikri tiba-tiba sudah menjulang di hadapan.

Tengadah wajahku, mata menyipit tertimpa sinar surya jelang siang yang menembus celah pepohonan. Jengah.

"Apanya yang kenapa?"

"Mukamu itu, Say!" Sapaan Fikri yang sering membuatku kesal.

"Apaan sih say say, mang gue sayur!" Kesal kuangkat badan, bermaksud meninggalkan. Namun badan besar itu berusaha menghalangi, dan  tangannya menarik tanganku.

"Heeiii, apa kamu pegang-pegang, ngajak gulet ya?!" Volume suaraku poll. Ini orang cari gara-gara terus sama mantan bendahara OSIS SMU Bintang, namun wajah Fikri tetap cool, bibirnya tersenyum tipis.

"Eits, kalo marah jadi tambah imut."

"Ada apa, Li?" Suara Fajar menengahi kami

Tersadar, ternyata suaraku menarik perhatian semua orang yang sedang menunggu. 

"Maaf, Jar ... nggak sengaja. Fikri nih, konyol." Sedang yang dituduh sudah tampak mencangklong ransel besarnya, bibirnya masih tersenyum, sesekali matanya melirik.

Kemudian rombongan mulai berjalan menuju puncak Gunung Gede. 15 orang mantan pengurus OSIS SMU Bintang yang baru lulus UN, sebagian lain tidak mendapatkan izin dari orangtua karena memang hiking kali ini bukan atas nama sekolah, lebih sebagai kegiatan pelepas penat setelah UN dan sebelum menempuh ujian masuk perguruan tinggi nanti.

Track selama 1,5 jam pertama lumayan mulus, karena jalur track lebih berbentuk jalur wisata daripada jalur hiking. Jalurnya dibuat dari beton-beton bersusun yang dibangun 1-1,5 meter di atas permukaan tanah.

Di persimpangan Air Terjun Cibeureum, beberapa teman perempuan mencoba merayu Fajar untuk singgah. Namun si mantan ketua OSIS itu tak bergeming, langkahnya tetap lanjut menuju arah Kandang Batu.

Hampir empat jam perjalanan. Track pendakian sudah berubah menjadi jalan setapak, penuh batu-batu dan tanah licin bekas hujan. Terkadang berundak dan terhalang akar-akar pohon besar. 

Hawa semakin dingin, tekanan udara juga sepertinya makin menipis, beberapa kali aku harus menelan ludah akibat kuping yang terasa tuli. Sinar matahari jelang sorepun mulai kepayahan menembus lebatnya dedaunan.

Sampai di kandang batu, Fajar menggelar flysheet-nya.

"Kita sholat jamak di sini ya, jangan terlalu banyak makan dan minum. Jaga stamina, sepertinya kita akan mendaki malam," tegas ucapannya. 

Hanya dua puluh menit kami istirahat, mengejar cahaya matahari agar bisa berjalan lebih leluasa. Pukul 15.30 rombongan mulai bersiap berjalan kembali. 

"Mau dibantu, Say?" Kembali suara Fikri mengganggu, kutarik napas panjang memberanikan diri memandang wajah coolnya.

"Mau kamu apa sih?" kataku pelan tapi tegas, berusaha tidak mengganggu anggota rombongan yang lain.

"Mau bantu."  Senyumnya tak lepas.

"Liaaa ... ayo! Nunggu apa lagi?" Suara Aya mengeluarkan dari situasi sulit. Kuangkat ransel, melengos.

Gerimis menghiasi pendakian sore kami, rasa dingin mulai menjalar, alur track yang makin menantang, membutuhkan kolaborasi kaki dan tangan, menjaga keseimbangan badan di atas jalur tanah yang licin. Sinar matahari makin redup. 

Setiap anggota sibuk dengan dunianya. Yang terdengar hanya suara langkah kaki yang terkadang diseret, goyangan ranting yang dijadikan pegangan atau deru nafas yang memburu.

Aku berjalan sambil menunduk, berusaha mengatur napas yang mulai tersenggal dan kerongkongan yang mulai kering. Makin lama tak terdengar suara apa-apa. Sepertinya aku terlalu fokus pada gerak tangan dan kaki.

Berhenti sebentar, kulepas pandangan mengeliling, hanya berisi barisan pohon-pohon berakar besar, ilalang tinggi, batu dan tanah basah. Sepertinya aku tertinggal.

Kaki tetap melangkah perlahan, berharap teman-teman sadar. Hati mulai gundah, ah ini akibat tak dapat izin mama ... pandangan yang terhalang gerimis  makin memudar dengan mengembangnya air mata.

"Liii ...!"

Terkejut dengan panggilan Fajar. Segera kuusap air mata dan bergegas ke arahnya.

"Ya ampun, Jar. Kusangka tersasar!" jeritku riang. Langkah melebar, mengatasi ilalang dan perdu-perdu liar. Namun sepertinya jarak tak kunjung pendek. Fajar malah berbalik arah, mulai berjalan kembali.

"Tunggu, Jar!" teriakku, ingin mempercepat langkah namun tak kuasa. Terasa jalur track mulai asing, tidak tampak lagi jalan setapak. Punggung Fajar masih nampak jauh di depan. 

Tetap mencoba melangkah, kusibak ilalang dan ranting-ranting pohon, tangan mulai tersayat ranting, perih tertimpa air hujan. Napas mulai satu-satu dan bayangan Fajar makin memudar.

Tiba-tiba tersentak, seseorang menarik ranselku, tersadar. Di depan tampak sebuah turunan tajam, selangkah lagi tubuh ini akan terguling jika saja tak terhuyung ke belakang. Kemudian jatuh terduduk.

Mataku nanar memandang, jantung berdegub kencang bersamaan dengan suara napas yang tersenggal-senggal. Nyaris saja terjun ke jurang. Terbayang wajah mama, papa dan kakak-kakak, tiba-tiba tersedu.

"Kamu mau kemana, Li?"

Perlahan membalikkan badan. Sosok itu bersimpuh di hadapan, wajahnya tampak khawatir. 

"Makasih ya, Fik," kataku pelan disela-sela sedu sedan.

- Samarinda, 28 Januari 2019 -

0 Response to "Cerita Seri: Hiking (2)"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel