Cerita Seri: Hiking (1)


HIKING (1)

Benda persegi di atas meja belajarku menunjukkan angka 21:35, saatnya matikan lampu, tarik selimut dan diam.

Tok ... tok ... tok. Suara ketukan halus di pintu kamar.

"Liii ...." suara mama, tidak terlalu kencang, tak kujawab. Terdengar pintu dibuka, tidak lama kemudian ditutup kembali. Kemudian senyap, sepertinya mama sudah turun ke bawah. Kulirik lagi si penunjuk waktu, 21:51. 

'Sepuluh menit lagi kali ya.'

22.05
Kusingkap selimut, berjinjit perlahan menuju pintu. Kubuka pelaaaaan, khawatir menimbulkan suara. Mengendap keluar menuju pagar pembatas lantai 2. 

'Sepi, semua lampu sudah mati, sisa lampu ruang tamu ... sepertinya sudah tidur. This is the time!'

Masuk kembali ke dalam kamar, kututup perlahan. 

Cekreek ....

Ups, masih bunyi juga ternyata. Gugup, kusandarkan badan di belakang pintu, menunggu ... sekian menit tak terdengar apa-apa. Aman!

Perlahan kuangkat tas ransel dan menarik tas kecil berisi uang, ponsel dan dompet, kemudian menyelempangkannya.

Melangkahkan kaki ke jendela, kubuka perlahan, mengeluarkan tas ransel lebih dulu baru mengeluarkan tubuh sendiri. Sampailah di teras samping lantai 2 yang temaram. Cahaya lampu hanya berasal dari lampu di pojok teras, agak jauh. 

Berjalan mengendap menuju pohon belimbing yang tumbuh persis di samping kamarku. Celingak-celinguk memperhatikan sekeliling, lihat ke bawah ... sepi! Jalanan depan rumah pun sudah mulai sepi, hanya sekali-sekali motor ojol lewat. 

Bbrruuugh!

Kulemparkan tas ke bawah, cepat meraih ranting belimbing, menjejakkan kaki ke dahannya yang lumayan kokoh. Bergelantungan hampir lima menit. Meloncat, dan sampai.

Membuka aplikasi ojol, mengetik perlahan, menentukan titik pertemuan. Sip ... selesai semua. Tas ransel sudah tersampir di pundak, bergegas melangkahkan kaki menuju titik pertemuan dengan mamas ojol.

Tidak menunggu lama, mamas ojol nongol. Ringan kuangkat badan dan menghempaskan bokong dibelakangnya. Ojol menderu, membelah pekatnya malam. Angin meninggalkan efek dingin pada wajahku yang tak terlalu tertutup helm karena penutup transparannya kubuka.

Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit. Akhirnya terlihat rumah mungil bercat putih, bertameng pohon mangga rimbun di depannya.

Kuselesaikan kewajiban pada mamas ojol. Melangkahkan kaki memasuki pekarangan, kemudian ke teras dan kuketuk pintu perlahan. Tidak menunggu lama, pintu terbuka.

"Ya ampun, Liaaa ... jadi beneran nekat lu yah?" suara Aya, menjerit tertahan. Tangannya memegang pipi dan mulutnya ternganga. Asli deh, ga ada cakep-cakepnya.

"Udah ah, gue capek!" Melengos, dengan cepat berlalu meninggalkan sang tuan rumah yang memandangku takjub. 

Sebelum sempat lancang membuka pintu kamar Aya.

"Liii ...!" suara mama Aya pelan, tapi dalam. "Kok malem?"

Senyumku mengganti jawaban.

"Jadi mau kemping besok?" 

Kuanggukkan kepala, mengiyakan.

"Mami ngasih izin?"

Kali ini, gelengan kepala yang menggantikan jawaban. Perlahan tanganku digamitnya, mengajak duduk di sebuah sofa coklat muda.

"Kamu tau, Lia. Peristiwa penting dalam hidup mamimu adalah memilikimu setelah hampir lima tahun menunggu. 

Namun ada lagi peristiwa paling penting yang menunggu mamimu. Mempertanggungjawabkan kehadiranmu pada Penciptanya. Maka permudahlah dengan menjaga sikap dan perbuatanmu, Sayang!"

Kepalaku tertunduk, rasa sesal menelusup.

'Maaf ya, Mi.'

- Daan Mogot, 2 Januari 2019 -

0 Response to "Cerita Seri: Hiking (1)"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel