Cerita Mini: Saat Aku Memilihmu
Saat Aku Memilihmu
Panas garang menghantar perjalananku. Setelah perjuangan terakhir memohon orangtua merestui pernikahan, tak juga mendapat tanggapan. Akhirnya memutuskan untuk berjalan sendiri, toh aku laki-laki tak butuh wali.
"Kamu, akan menyesal? Bagaimana jika orang tuanya pezina? Pembunuh? Darah mengalir dalam tubuhnya, Ryan!" Suara papi, saat terakhir aku mengatakan tetap akan menikahinya.
"Kalau pun iya, Allah Maha Pemaaf, Pi. Lalu siapa kita?" kataku pelan tak hendak menambah kemarahannya dan mencoba tegar mendengar calon istriku kembali dihina.
Persis satu bulan setelah kusampaikan keinginan melamar seorang gadis pemilik toko roti sekaligus asisten Bu Ranti, pemimpin panti yatim piatu. Gadis yang tak pernah tinggal di mana-mana selain di panti.
Sepanjang satu bulan aku mencoba mengenalnya, sepanjang itu pula perkataan tak enak keluar dari mulut papi, pengusaha sukses pemilik ratusan outlet roti yang berlokasi di berbagai mall terkemuka hampir semua kota besar. Papi tak hendak menemuinya. Aku putus asa.
Ah, sudahlah ... cukup sudah kuraih dunia, dia yang telah Allah kirim untuk meluruskan hidupku. Dia yang kupilih menjadi calon ibu dari anak-anakku.
"Bismillahirrahmaanirrahiimm, God please help me," ucapku pelan menyemangati diri sendiri.
Tak terasa mobil sportku tiba di depan panti, berbelok memasuki halaman dan memarkirnya.
Sebuah tenda kecil dipasang, sangat sederhana buat standart pernikahan Ryan Pratama Sasmita, seorang anak konglomerat. Aku sudah memilih, maka akan kutunaikan pilihan itu.
Rasanya seperti pengelana saat sendirian berjalan menuju panggung tempat akad nikah diselenggarakan, tak bersama siapa pun, bukan seperti pernikahan yang diharapkan. Tapi, kembali lagi ... aku sudah memilih.
Akad pun terlantunkan, janji sudah diucapkan.
Saat kusematkan cincin di jari mungilnya ... dengan khidmat diciumnya punggung tangan.
"Terima kasih sudah memilih saya di saat bahkan orang tua pun tak memilih. Saya tak pernah punya siapa-siapa, mohon ajarkan arti memiliki dan bagaimana merawatnya."
Terasa aliran dingin membasahi punggung tangan. Spontan kuelus perlahan kepalanya yang berbalut jilbab putih, ingin menyalurkan rasa cinta yang luar biasa. Wajahnya tengadah, basah, namun tak melunturkan apapun.
Kutatap dalam mata bulatnya, bolanya hitam legam, ingin kuhantarkan kehangatan ke dalamnya.
"Barakallah wabaraka'alaik wajama'a baynaa kumma fii khayr." Sebuah suara berat yang sangat kukenal
"Pak Gun!"
Perempuan dihadapan, yang baru kunikahi beberapa menit yang lalu menyebutkan sebuah nama. Perlahan kubelokan pandangan ke arah pandangannya.
"Papi?"
Dan beberapa wajah di belakangnya tersenyum haru ... wajah mama, Mas Rendy, Reni, adikku dan oma ... dengan latar belakang gerimis yang entah kapan mulainya.
Aroma tanah basah terbawa angin masuk ke dalam indera penciumanku, mengingatkanku atas sebuah awal.
*****
"Kenapa, Pak?"
Wajah polosnya tertutup jilbab putih tampak bercahaya di bawah payung biru.
"Kehabisan bensin."
"Oo, mau saya bantu? kalau bapak ke arah sana nggak akan ada tukang bensin. Tukang bensin terdekat justru di arah berlawanan."
Tubuhku sudah letih, mendorong motor besar di bawah gerimis dengan sebelumnya harus menyaksikan kekasih hati berselingkuh di hadapan. Lelah lahir batin ... tanpa sadar kuanggukkan kepala.
Tak sampai sepuluh menit, dia sudah hadir kembali dengan sebotol bensin. Ah, selamat aku.
Kukembalikan botol sambil menyerahkan selembar warna biru kepadanya.
"Nggak usah, Pak! Silahkan lanjutkan perjalanan, Bapak."
"Panggil Ryan, jangan bapak," sapaku sambil mengulurkan tangan.
Gadis itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum, ah senyum pertama yang melekat dalam ingatanku. Menghapus rasa sesak di dada.
"Permisi ya, Pak." Dan dia berbalik diiringi rintik tipis gerimis dan aroma tanah basah.
- Samarinda, 1 Februari 2019 -
0 Response to "Cerita Mini: Saat Aku Memilihmu"
Post a Comment