Pentigraf: Memenuhi Sapa Ombak


Memenuhi Sapa Ombak

Mataku menatap beku, tiga jenazah di hadapan tertata rapi dalam balutan kain putih, wangi. Air mata ini seperti beku, menyisakan wajah kaku dan hati yang sendu. Semua pelayat berkata, "Sabar ya, Na." Entahlah, apakah mereka paham dengan apa yang mereka ucapkan. Ini tak hanya tentang sabar, namun lebih dalam dari itu. Kalian tak tahu rasanya, takkan pernah tahu, kecuali kalian merasakannya sendiri.

Aku berdiri di bibir pantai, menatap rumah mungil yang kau hadiahkan tepat di tanggal pernikahan kita yang ke sepuluh, sebulan yang lalu. Rumah itu masih baru, catnya bahkan masih harum. Namun kini tak lagi sama. Tak ada lagi suara mesramu memanggilku setiap pagi, "Dek, aku mau coklat hangat ya!" Atau suara anak-anak kita tertawa, berteriak, dan berlarian menghambur rumah. Aku sendiri ... senja ini.

Namun aku tetap suka senja, saat anak-anak berlarian di pantai dan kau akan berusaha menjaga mereka. Aku akan tertawa melihat kalian berkejaran di bawah langit yang mulai jingga.  Saat ini pun masih dapat melihat kalian melambai dan berteriak memanggil. Bersama senyum melangkahkan kaki mendekat, aku juga ingin bermain dengan kalian, bersama kita berkejaran di bawah ombak. Akhirnya, kedamaian itu tiba.

- Samarinda, 5 Februari 2019 -

0 Response to "Pentigraf: Memenuhi Sapa Ombak"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel