CERITA ANAK: Tentang Putri

Musholla Khayru Ummah, siang setelah Sholat Dzuhur ini, penuh dengan siswa Sekolah Islam Kreatif yang belajar membaca Alquran.

Beberapa anak kelas dua tampak asyik mewarnai gambar, menunggu giliran dipanggil oleh Ustadzah Rahma. Ada pula yang sudah selesai, tapi masih asyik mewarnai.

"Main di halaman belakang aja, yuk!" kata Asa, kepada tiga sahabatnya; Nahda, Husna dan Putri. "Aku bawa puding coklat sama spageti, lo."

"Aku belum setor, Sa!" jawab Putri.

"Nanti setelah setor, kamu langsung aja ke sana!"

"Oke, deh," ucap Putri semangat.

Tiga siswi yang bersahabat itu pun bergegas keluar musholla, lalu memakai sepatu.

"Hai, tunggu!" teriak Husna yang kesulitan memasang sepatu, sedangkan kedua temannya sudah berdiri.

Lalu Asa berjalan cepat menuju markas ilmu --gedung sekolah mereka-- yang jaraknya sekitar dua ratus meter dari musholla.

"Ayo dulu-duluan, yang pertama sampai, berarti cantik," ujar Asa.

"Curaaanngg!" jerit Husna, sedangkan Asa dan Nahda sudah berlari meninggalkannya sambil tertawa-tawa.

Husna pun segera berlari, berusaha menyusul Asa dan Nahda.

"Menang, berarti aku cantiiikk," teriak Nahda, napasnya terengah-engah.

Asa dan Husna tertawa, melanjutkan langkah menuju loker tas di depan kelas mereka. Kemudian, Asa mengambil tas bekalnya.


Halaman belakang sangat sejuk, pohon-pohon besar menghalangi masuknya cahaya matahari. Ukuran halaman tak terlalu luas, tapi di sana terdapat beberapa alat permainan.

Nahda dan Husna, berlari ke arena bermain. Nahda memilih ayunan, sedangkan Husna langsung memanjat tangga untuk bermain papan seluncur.

Asa berjalan menuju meja kayu yang terletak di bawah pohon rindang. Meletakkan tas bekalnya, lalu berlari menuju permainan kandang macan. Yaitu persegi besar yang terbuat dari besi, dicat warna-warni. Dipakai untuk latihan memanjat dan menjaga keseimbangan.

Setengah jam berlalu. Asa, Husna dan Nahda mulai lelah, bulir keringat menetes di dahinya. Letak jilbab yang dikenakan pun mulai tak beraturan.

"Saa! Mana Putri? Aku laper, nih!" Nahda berjalan menuju bangku kayu, wajahnya memelas.

"Iya, lama amat, ya," jawab Asa, menghentikan gerakannya, lalu berdiri di puncak kandang macan.

"Heh, turun, Sa! Nanti dilihat Ustadzah, kita diomeli!" jerit Husna.

Dengan gerakan gesit, Asa sudah menjejak tanah, lalu berjalan mendekati Husna dan Nahda.

"Kita ke kelas aj, yuk! Siapa tahu Putri menunggu kita di sana," ujar Asa.

Ketiganya berjalan menuju kelas. Dari ujung teras, mereka bisa melihat pintu kelas yang terbuka, menunjukkan tidak seorang pun berada di dalamnya.

"Waah, Putri ga ada." Suara Asa, kecewa.

"Locker-nya kosong!" kata Husna, bibirnya maju ke depan.

"Dah ditungguin, malah ninggalin!" ujar Nahda, kesal.

"Ya udah deh, kita makan aja spageti sama pudingnya di kelas," ajak Asa.

"Kalo tau, kita makan aja dari tadi, Sa!" ketus suara Husna, sebelum akhirnya mengambil sesendok puding coklat.

"Besok kita cuekin aja!" kata Asa, sambil tangannya sibuk memutar-mutar garpu di atas spageti.


"Kemarin … Putri itu dijemput mbahnya," kata Ustadzah Dian, walikelas dua Khadijah. Beliau berusaha mendamaikan empat sahabat yang hari ini tampak tidak akur.

"Putri ga izin ma kita, Ustadzah!" Asa menyampaikan unek-uneknya.

"Iya, Ustadzah. Padahal kita udah nungguin," sambung Nahda.

"Jelaskan pada mereka, Put" kata Ustadzah Dian lembut.

"Putri dah bilang ke mbah, mau pamit ma teman-teman, tapi kata mbah … ibu jatuh di kamar mandi, jadi kami harus segera sampai rumah sakit." Nada suara Putri terdengar sedih.

Ketiga sahabat itu kaget, "Iyakah, Put?" tanya mereka serempak. Memandang lekat Putri, sedang yang dipandang malah menunduk.

"Iya, Sa, Da, Na … maafin Putri, ya,"

"Ya Allah, Maafin kita, ya, Put. Kita nggak tau," ucap Husna, lalu menggenggam tangan Putri, diikuti Nahda dan Asa.

"Anak-anak Ibu yang sholihat, Allah melarang kita berprasangka karena sebagian prasangka itu dosa. Biasakan, kalau ada teman yang sikapnya aneh, tanyakan dulu apa sebabnya. Jangan langsung menuduh, ya!" ujar Ustadzah Dian lembut, lalu mengusap kepala Asa, Nahda dan husna bergantian.

Keempat sahabat itu kemudian berpelukan.

Samarinda, tanggalnya lupa ....

0 Response to "CERITA ANAK: Tentang Putri"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel