Cerita Pendek: Bertahan
bertahan
Tung
Sebuah pesan mendarat, persis saat jempol siap menekan tombol start di motor. Akhirnya tangan beralih ke saku baju, mengeluarkan kembali ponsel pintar 7 inci itu.
Sebuah pesan dari seorang sahabat, Fikri.
(Kalau mau kerja, mampir kostku, dong!)
Kulirik jam dipergelangan, 15 menit jelang jam masuk kantor.
(Ntar siang aja, ya, Bro. Gue dah telat)
Segera kumatikan jaringan data, dan bergegas melajukan motor menuju tempat kerja.
Sepagi sampai siang ini, aku sibuk berat. Data barang masuk dari gudang bertumpuk menunggu entri. Nanar mataku menatap monitor, ditambah remasan perut yang melilit minta jatah.
Benda persegi di samping layar menunjukkam lima menit menuju waktu istirahat. Ah … saatnya meregang otot.
Kuraih ponsel yang sedari tadi tergeletak tak berdaya, teracuhkan. Membuka jaringan data dan bertubi-tubi bunyi pesan masuk.
Kubuka pesan dari Fikri.
(Sebentar aja, Bro. Gue titip bubur ayam … sejak kemarin belum makan. Nanti kalau sampai, masuk aja, pintu nggak gue kunci)
Deg, ada yang menghantam dadaku membaca pesan itu. Ya … Fikri sedang sakit dan tinggal sendiri di kamar kostnya yang sempit.
Kemarin sore pun dia telah minta aku mampir, namun kerjaan tak bisa kompromi. Saat harus meninggalkan kantor pukul delapan malam, aku lebih memilih pulang.
Bergegas kusambar jaket dan kunci motor.
"Yan, gue duluan ya. Ada urusan penting," pamitku pada Iyan, teman kerja yang mejanya persis di sampingku.
"Nggak bareng aja?"
"Sorry, gue buru-buru."
"Hedeh, kek ada yang sekarat aja, lo!" sahutnya asal.
Menenteng sebungkus bubur ayam, langkahku percepat. Menapaki teras, menaiki tangga dan berlari menuju kamar paling ujung.
Kugerakkan gerendel pintu, benar tak dikunci. Mataku mencoba membiasakan diri dengan keadaan kamar yang gelap. Perlahan kucari stop kontak.
Seonggok tubuh berselimut hampir seluruhnya, tergeletak tak berdaya. Di atas kasur tipis yang tergelar di atas lantai. Hanya terlihat rambut hitamnya. Hatiku terenyuh.
Fikri, teman kampus yang tak mampu menyelesaikan kuliah dan akhirnya harus DO, karena tak punya biaya. Kedua orangnya berpulang hanya dalam kurun waktu satu tahun, meninggalkan hutang rumah sakit, yang menjadi sebab tergadainya rumah.
"Pik …," panggilku sambil menuangkan bubur ke dalam mangkok.
Hening, tak ada sahutan.
Kuamati tubuh itu, tak bergerak. Otakku mulai berpikir macam-macam. Kusibak sedikit selimut yang menutupi, teraba tangannya … dingin! Bagian lain kusibak, tampak seraut wajah pucat dengan mata terpejam serta darah mengering di sekitar hidung dan mulut.
"Pik, bangun, Pik!" Kuguncang perlahan badannya, aku mulai panik. Perlahan mata itu terbuka, pandangannya lemah.
"Ya Allah, Pik. Maafin gue … please bertahan, lo harus tetep sadar." Ada yang memanas di kantung mata, hatiku perih.
Sesaat mata itu kembali hendak terpejam.
"Jangan tidur, please, bertahan … gue cari bantuan, ya! Lo nggak boleh tidur!" Suaraku bergetar, gerak badanku sudah tak karuan.
Bergegas berdiri lalu berlari. Mengetuk beberapa pintu kamar, tapi tak kutemui siapa pun. Siang seperti ini, tampaknya semua penghuni sedang berada di tempat kerjanya masing-masing.
Aku panik, berlari menuruni tangga, mencoba mencari pertolongan. Tampak dari jauh, sosok Pak Ahamd penjaga kost-kostan memasuki halaman.
Kuseret Pak Ahmad sambil mulut mengoceh tak karuan, Pak Ahmad yang awalnya heran mengikuti saja sambil mendengar ceracauku. Jarak kamar Fikri jadi terasa jauh.
Aku terpana di ambang pintu, saat Pak Ahmad menggeleng sambil menutupkan selimut ke seluruh badan Fikri.
Aku luruh, bersimpuh. Air mataku perlahan luruh. Wangi kuah bubur ayam masih tercium, menambah rasa bersalah, berdentam memukul jantung. Tak mampu menahan isak.
"Maafin, Gue. Pik," bisikku.
- Rumah Cinta, 24 Agustus 2019 -
0 Response to "Cerita Pendek: Bertahan"
Post a Comment