Kisah Umar: Sang Pemimpin yang Menjadi Pelayan
Sang Pemimpin yang Menjadi Pelayan
Pernah membaca kisah Umar bin Khatab, yang memanggul sekarung gandum lalu diberikan kepada salah satu rakyatnya?
Saya mencoba googling kisah itu, dan sederet judul saya temukan. Cerita satu berbeda dari cerita yang lain. Ada yang menuliskan sekarung beras--agak aneh sebenarnya, atau mungkin sudah diadaptasi dengan perut masyarakat Indonesia?Entahlah ....
Subjeknya sama, Khalifah Umar bin Khatab dan asisten pribadinya Aslam. Objeknya pun sama, seorang Ibu dengan beberapa orang anak, yang sedang pura-pura memasak untuk mengelabui anak-anaknya yang kelaparan. Namun, saya tidak menemukan satu cerita pun yang menuliskan jumlah anaknya.
Yang saya temukan berbeda adalah tempat tinggal si Ibu. Ada yang di tenda di tengah padang pasir, ada yang di gubuk reot di pelosok kampung yang jauh dari ibukota pemerintahan, Madinah.
Satu lagi yang saya temukan berbeda adalah apa yang dimasak si Ibu. Ada yang menuliskan si Ibu "hanya" memasak air, ada yang menuliskan si Ibu memasak batu.
Sepertinya kita harus segera membaca buku siroh khusus Umar bin Khatab.
Apapun alur yang dituliskan, ada hikmah yang akan kita dapatkan saat membaca kisah itu. Seorang pemimpin yang "merasa" lalai memperhatikan rakyatnya, hingga di tengah kesejahteraan Kota Mekah, masih ada masyarakat pinggiran yang kelaparan.
Wajarkah kelalaian Umar bin Khatab?
Saya sebagai masyarakat kelas bawah, sangat-sangat memahami, bahwa apa yang terjadi lebih karena "ketidaksengajaan" dan bukan kelalaian. Apalagi saat itu belum ada ponsel pintar dan sosial media, yang bisa mengabarkan apapun dari manapun.
Keseharian Umar hanya melihat masyarakat kota Madinah, yang makin maju dan sejahtera di bawah kepemimpinannya. Tidak ada informasi yang sampai tentang satu dua penduduk yang kekurangan.
Padahal jelas, tugas Khalifah itu banyak, dan Umar pasti mengandalkan staf-staf untuk memberi masukan demi perbaikan kinerjanya, serta informasi tentang wilayah mana saja yang harus menjadi prioritas kerjanya.
Ada dua hikmah yang bisa saya simpulkan dari kisah Umar ....
1. Bahwa pemimpin membutuhkan staf yang jujur untuk memperbaiki kinerja dan berbuat adil pada seluruh rakyatnya. Bukan staf penjilat, yang justru menekan rakyat demi mendapat pujian dari atasan, atau menyunat bantuan pimpinan demi memperkaya dirinya sendiri
2. Bahwa rakyat membutuhkan pemimpin yang tak mudah mencari kambing hitam dari sebuah kondisi yang dianggap sebagai "kelalaiannya". Segera bertindak mencari solusi, dan tidak menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain
Lalu ada di mana posisi kita? Pemimpin, bukan ... rakyat yang menderita juga bukan. Apakah itu berarti kita tak punya tanggung jawab memperbaiki keadaan? Tak harus peduli pada banyak kesulitan yang terjadi?
Di masa pandemi ini, saat banyak orang membuat slogan "PPKM, Pelan Pelan Kita Mati ... entah karena terpapar atau karena lapar", di mana posisi kita?
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ
"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 7)
Walau pun hanya dengan segenggam beras, apa lagi dengan sepotong gaji ....
Cengkareng, 12 Agustus 2021
(Veradina Rahmawati// Reli-Kaltim)
0 Response to "Kisah Umar: Sang Pemimpin yang Menjadi Pelayan"
Post a Comment