Cintai Dirimu, dan Jadilah Positif
Love Your Self, and be Positif
Assalamualaikum
Kenalkan saya Vera, ibu dari tiga putri, dari satu orang suami. Saat ini berdomisili di Samarinda, berprofesi sebagai ibu rumah tangga, nyambi kerja di yayasan pendidikan dan koperasi. Kalau di rumah dipanggil Ummi, kalo di literasi dipanggil Mommy. Buat yang udah nikah, boleh pangggil Kakak atau Uni.
Saat ini sedang berusaha menyelesaikan sesuatu yang pernah dimulai, walau mulai lelah dan hampir menyerah. Doakan, semoga tahun ini bisa selesaikan skripsi dan lulus jadi sarjana psikologi.
Malam ini, Mommy dapat judul, Love Yourself dan Positif Thinking yang Begitu Penting. Hehe, agak njlimet ya ... jadi Mom pendekin biar enak bacanya:
LOVE YOURSELF AND BE POSITIF
Semoga apa yang akan Mom sampaikan, pas sama keinginan panitia, ya 😊
Love yourself?
Jika malaikat yang selalu baik--hingga tak punya obsesi, senantiasa menerima apapun yang menjadi takdirnya. Lalu bagaimana mungkin ia bisa membangun bumi ini menjadi lebih maju?
Dan, syetan yang selalu penuh obsesi, hingga keinginannya melangit menembus batas haknya. Hingga Allah merasa ia telah durhaka, lalu Allah usir dari syurga.
Maka manusia adalah makhluk unik dengan kebaikan dan obsesi yang menyatu dalam satu wadah. Berkumpul tapi tidak pernah bercampur. Walau terus bertemu, saling mempengaruhi, tapi tidak akan pernah menjadi satu adonan.
Jika manusia dan hewan sama2 memiliki otak dan hati, maka nilai lebih manusia adalah memiliki akal dan perasaan, dan sesungguhnya akal dan perasaan itulah sebaik-baiknya modal dalam hidup.
Lalu apa yang membuat kita tidak mencintai diri kita?
Hidung yang tak mancung?
Kulit yang gelap?
Rambut kribo yang tak pernah panjang?
Otak yang pas2an?
Sifat yang terlalu pemalu?
Attin: 4
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,"
(QS. At-Tin 95: Ayat 4)
Jika manusia sebaik2 bentuk, lalu apa yang harus membuat kita malu? Yang menciptakan saja sudah membuat pernyataan, bahwa kita dilahirkan dengan bentuk terbaik. Jadi apapun bentuk hidung kita, itulah yang paling pas dengan wajah kita.
Kalau kita berharap punya hidung semancung @Aenul, bisa jadi kita tidak semenarik ini, tidak se-pas ini. Mungkin wajah kita jadi tak simetris.
Atau kalau kita ingin punya kulit seputih @fani ... mungkin kita malah jadi aneh. Mom aja yang gelap ga pernah iri sama Inaf, karena buktinya Inaf masih jomlo sampe sekarang ... hehehe ....
So, cintai dirimu apa adanya. Seikhlas Allah menciptakanmu dan memberi segala fasilitas hidup, seikhlas itu jugalah harusnya kita menerima.
Namun, tidak mencintai diri, kadang bisa disebabkan oleh lingkungan. Keluarga dekat, teman bermain, guru, atau yang lainnya.
Sedikit Mom cerita, tak bermaksud untuk membuka aib, cuma agar bisa diambil ibroh ....
Sejak kecil Mom tak pernah dibilang cantik, bahkan jika diperbandingkan dengan anak tetangga, Mom selalu diletakkan di posisi bawah. Sampai kuliah pun begitu, dengan tinggi 155 berat cuma 335-37, dengan kulit gelap pula. Pernah lihat Mr. Skeleton di lab biologi? Yah, mirip2 itulah ... masih mending Mr. Skeleton kulitnya putih, hehe.
Jadi wajah Mom saat itu, mungkin 10 tahun lebih tua dari usia seharusnya. Duh, menderitanya gue, yaaa 🤣🤣
Alhamdulillah, walau tak Allah beri fisik yang cantik. Otak Mommy bisa diandalkan, jadi soal juara 1 or 2, bukan yang aneh lah, buat Mommy. Plus memaksa diri untuk rajin, jadi soal PR, teman2 sekelas selalu mengandalkan Mommy. Makanya sekelas pernah di-setrap, gegara Mom lupa ngerjain PR.
Tapi kalian tahu, buah dari sabar saat dulu dianggap tua, sampai saat ini teman2 Mom tidak melihat perubahan signifikan dari wajah Mommy. Kalau ketemu mereka selalu hilang, "Wajah lu dari SMA ga berubah2." 🤣🤣 bukan karena awet muda, tapi karena sudah tua dari SMA.
Jadi apapun yang dilakukan oleh lingkungan kita, penentunya adalah kita.
Kita mau apa? Mau malu lalu rendah diri, mau menerima dengan terpaksa hingga ragu saat melangkah, atau ikhlas dengan pilihan Allah dan bergerak dengan penuh pesona. Kita yang nentukan.
Kuncinya? Cintai dirimu, rawat ia. Bukan cuma merawat yang tampak di luar, tapi lebih utama merawat yang di dalam; akal dan perasaan. Karena semua hal yang berhubungan dengan fisik, sangat tergantung pada isi akal dan perasaan kita.
Lalu di mana letak 'be positif'?
Apa yang Mom jabarkan diatas, bisa berhasil jika kamu selalu memaksa diri berpikir dan berperasaan positif. Kalau Rasulullah bilang, cari 40 alasan baik, sebelum kamu boleh punya alasan buruk. Dan semua pikiran dan perasaan yang positif, akan terpancar pada rona wajah dan perilakumu.
Mommy pernah nonton sebuah chanel yt, lupa nama chanelnya apa ... mungkin di antara kalian pernah juga lihat videonya. Isinya begini ....
Si pemilik chanel pernah terpilih menjadi salah satu dari 20 orang responden, pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang profesor di sebuah kampus (lupa Mommy nama kampusnya, yang jelas, di Eropa ... atau Amerika, ya? 🤭)
Penelitian itu adalah penelitian eksperimen yang melibatkan 100 orang subjek.
100 orang tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diminta berjanji untuk ikhlas setiap hari memotifasi dirinya dengan kata2 positif:
- alhamdulillah saya masih bangun
- hari ini saya bahagia
- panas matahari yang membakar kulit, merupakan sumber energi bagi makhluk hidup
- hujan telah membuat dunia sejuk
- macet membuat saya bisa lebih lama menikmati perjalanan
- dll
Satu kelompok yang lain diminta berjanji untuk ikhlas setiap hari memotifasi dirinya dengan kata2 negatif:
- saya bangun kepagian/ kesiangan hingga membuat saya tak nyaman
- hari ini saya resah
- panas matahari yang membakar, membuat saya menderita
- hujan membuat becek dan mengotori saya
- macet membuat saya stres dan lelah
- dll
Setelah sebulan penuh, 100 subjek tadi diminta berjalan melewati lorong sepanjang 50mtr, dan 20 orang responden mengamati semua subjek tadi dari balik kaca satu pandang.
Apa yang diamati? 20 orang tersebut diminta menentukan, dari 100 subjek tadi, mana yang merupakan golongan positif, mana yang negatif.
Kalian tahu? Tingkat akurasi pengamatan mendekati 100%.
Apa yang terjadi?
Pikiran dan perasaan yang selama sebulan dimunculkan, mempengaruhi rona wajah dan gesture tubuh. Itulah yang membuat responden bisa tepat memilih mana yang positif, mana yang negatif.
Jadi ... mau seperti apa rona wajah kalian, mau sekeren apa gesture tubuh kalian. Semua berasal dari isi akal dan perasaan kalian. So ... be positif!
Wes yooo, cuma segitu yang bisa Mom share, semoga bermanfaat.
🙏🙏🙏🙏🙏
0 Response to "Cintai Dirimu, dan Jadilah Positif"
Post a Comment