Flash Fiction: Rida

Rida

Seorang pengamen menghampiri sebuah mobil yang berhenti tersebab lampu merah.

"Aku tak mau kalau aku dimadu, pulangkan saja pada orang tuaku." Dia bernyanyi sambil menggoyangkan sebuah krecekan

"Ngedangdut, pengamennya!" kata si sopir kepada orang yang duduk di sebelahnya.

"Iya, mana tampangnya lucu."

Tiba-tiba seorang ibu berteriak dari depan supermarket, persis di sebelah kiri mobil, sambil menunjuk-nunjuk si pengamen.

"Ruuudiii ...!" 

Kedua penumpang mobil kaget, menolehkan kepala pada si ibu, dan ibu masih saja menunjuk-nunjuk si pengamen.

Si pengamen pun terkesiap, matanya membesar. Tanpa butuh waktu lama, si pengamen berlari, menyeberang.

Nahas baginya, sebuah mobil pajero putih persis melintas dan melayangkan tubuh pengamen, kepalanya membentur trotoar, bersimbah darah.

Suasana rusuh seketika, semua orang berlari mendekati tubuh terkapar. Termasuk si ibu yang berteriak.

Mendekati dan memeluknya, sambil berteriak-teriak.

"Rudiii, kenapa harus seperti ini ... huhuhu, anakku, Rudiii."

Pakaian si ibu bersimbah darah.

Orang-orang berbisik ....

"Kasian si Rida, ya."

- Samarinda, 28 Maret 2019 -

0 Response to "Flash Fiction: Rida"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel