Fiksi: Paralayang

#Paralayang

Gedubraaakkk!!!

"Astaghfirullah, Gendis II ... kalo jalan matanya dipake!"

Beberapa pemetik teh menoleh, sebagian tertawa sebagian tersenyum kecil, kemudian meneruskan langkahnya. Hanya ambu yang berhenti lalu membantuku berdiri.

"Ambu mah, Num udah jatuh, sakit, dimarahin lagi ... tuh lecet tuh!" jawabku sambil memamerkan luka gores dengan sedikit darah di balik rok panjangku.

"Lagian, Kamu! Matamu ke mana-mana sih ... segala orang main paralayang dilihatin, gimana nggak jatuh!" jawab Ambu, "ayo atuh segera, matahari makin tinggi, makin panas!"

Kami meneruskan langkah menuju bagian pengumpul teh untuk menimbang dan memperoleh upah petik.

Mataku sesekali masih mencuri lihat ke arah  lokasi olah raga paralayang. Setiap ada pesawat paralayang yang terjun kemudian melayang di atas kebun teh, selalu ada perasaan berdesir yang tak bisa kujelaskan. 

Begitu kuat keinginan melayang bebas. Bagaimana rasanya? Keindahan apa yang akan tersaji di atas ketinggian seperti itu. Merasakan sentuhan angin dingin dan kabut-kabut berisi air, sambil melihat sungai mengalir, jalan berliku dan bentangan kebun teh ... kapan ya?

**********

Hari ini, Ambu mengajak libur memetik teh, karena harus ke rumah paman, yang sedang sakit, di daerah Bogor. Aku diminta menunggu rumah.

'Lumayan, bisa naik ke lokasi paralayang'

Pukul 08.00 ambu dan abah berangkat menggunakan sepeda motor menuju Bogor, dan diam-diam aku pun berangkat menuju lokasi paralayang.

Berdiri di kejauhan, di sekitar warung-warung kecil. Melihat beberapa atlit paralayang menggunakan baju dan alat keselamatan khusus. Ada debar yang tak bisa kuartikan. Entah kali keberapa aku hadir di sini.

'Ah, andai Allah memberiku kesempatan, sekali saja'

Tak sadar kakiku melangkah satu-satu, hingga mendekati tempat awal terbang para atlit. Berdiri terpana memandang ke bawah, memandang hutan, kebun teh, jalan berliku dan aliran sungai ... persis seperti yang ada dalam bayanganku. 

'Pasti lebih indah jika memandangnya dari atas udara.'

Aku ingat pernah merengek pada ambu agar diizinkan terbang tandom, begitu kalau tak salah istilahnya. Karena bukan atlit, maka tidak diperkenankan terbang sendiri, jadi didampingi oleh seorang atlit profesional.

"Harga empat ratus ribu itu sama dengan biaya makan kita sebulan, Num! Jangan macem-macem ah! Itu mainan orang kaya yang bingung uangnya mau diapain!" Begitu dulu Ambu menasehatiku. 

Namun keinginan itu tetap tak bisa kuhilangkan, entahlah mengapa ....

"Permisi, Dek. Peserta terbang tandom ya?"

Tiba-tiba seorang pemuda berwajah teduh telah berdiri di depanku. Kulitnya merah terbakar matahari jam sepuluh. Senyumnya mengembang. 

Hatiku yang sudah berdebar karena keinginan yang menggebu semakin berdetak cepat. Mataku tak lepas dari bola mata hitamnya.

"Permisi sekali lagi. Ade ini peserta terbang tandom ya?"

"Bu-buka-n, Kang," jawabku gugup, salah tingkah. 

"Kalau bukan, tidak boleh berada di lokasi flight plan*, Dek. Bahaya!"

"Saya cuma ... cuma mau lihat apa yang dilihat orang-orang terbang itu, Kang."

"Tapi tetap tidak boleh berdiri di sini! Ayo agak menjauh!" Tiba-tiba tangannya menggamit tanganku, dan menarik perlahan menuju sebuah tempat duduk bambu. 

Duduk dalam kondisi gugup, memandang para peserta terbang tandom yang bersiap-siap ... hatiku berdebar, entah karena keinginan yang sangat atau karena duduk berdampingan dengan seorang atlit paralayang.

"Aku Khairul Fikri ... aku sering lihat Ade, di sini dan sepertinya kita tidak asing ya? Mau ikut belajar?" tanyanya, wajahnya ramah dihias senyum.

"Iya, sepertinya wajah Akang tidak asing. Tapi, tidak ... terima kasih atas tawarannya."

"Kenapa tidak?"

"Tidak punya kemampuan, Kang. Saya mah cuma gadis desa yang bermimpi bisa terbang."

"Bisa, Dek. Ade bisa terbang, mau?"

"Serius, Kang?" Wajahku berpaling, mataku memandang tepat bola hitam matanya. Ada tatapan lembut penuh kepastian di sana.

"Pertemukan aku dengan ayahmu."

"Hah? Untuk apa?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi, kali ini aku terkejut. Apa hubungannya Abah dengan terbang?

"Mau minta izin mengajakmu terbang."

"Janganlah, Kang! Abah tuh galak, apalagi sama lalaki."

"In sya Allah, Akang akan dapatkan izinnya. Boleh siang ini ke rumah?"

"Abah dan Ambu, sedang menjenguk paman di Bogor."

"Kalau gitu, sore saja akang ke rumahmu, ya?"

"Hmmmm, ini Akang serius ya?" Aku masih heran dengan antusiasme Kang Khayr.

"In sya Allah serius. Di mana alamatmu?"

Aku sebutkan sebuah alamat, di sebuah desa kecil di balik bukit tempat lokasi paralayang. Kampung pemetik teh, begitu orang biasa menyebutnya.

**********

Tepat pukul 17.05, Kang Khayr benar-benar berada di depan pintu rumahku. Setengah tak percaya, kupersilahkan beliau masuk dan memanggil Abah untuk menemuinya.

Setelah dipersilahkan masuk.

"Maaf, Bah. Bolehkah kita bicara berdua saja?"

"Oh, silahkan. Hanum ... kamu masuk dulu ya!" Dengan membawa rasa penasaran, kupaksa langkahku masuk ke ruang tengah.

Satu jam kemudian, Abah masuk ke ruang tengah. Wajahnya sumringah sekali.

"Ada apa, Bah?"

"Tidak ada apa-apa. Oiya, khayr sudah pulang, dia akan mengajakmu terbang, besok lusa ... nanti, Abah yang akan mengantarmu ke area."

Ada yang aneh dengan Abah. Mengapa tiba-tiba beliau jadi begitu baik.

**********

Persis jarum pada benda bulat di pergelangan tangan menunjukkan pukul 8.05.

"Sudah siap, Num?"

"Ayo, Bah!"

Setelan kemeja corak bunga berwarna biru dengan jilbab senada dipadu dengan rokna berbahan jeans lembut, menjadi pilihanku.

Aku tak menemukan Ambu di mana pun saat hendak berpamitan.

"Ambu, sudah Abah antarkan lebih dulu tadi," kata Abah seolah mampu membaca fikiranku.

Tidak sampai dua puluh menit, kami sampai ke lokasi paralayang. Debar jantung yang ritme awalnya memang sdh kencang, bertambah kencang. 

Rasanya tak percaya: alam terbuka, hamparan daun teh hijau, dinaungi langit cerah berwarna biru dengan arsiran awan putih ... entah apa yang sudah dikatakan Kang Khayr pada Abah, hingga mampu meluluhkan hatinya.

Perlahan aku mendekati area flight plan, dari arah berlawanan Kang Khayr pun berjalan perlahan mendekatiku, menatap penuh arti. Mengenakan baju berbahan jeans warna biru dipadu dengan celana gunung berwarna dongker. Ah gagah sekali dia.

'Hus, hanum ... kamu mikir apa sih?'

Persis di garis sebelum masuk area flight plan, kami bertemu, berjarak tidak lebih dua meter.

"Hanum! Aku ingin mengajakmu terbang ... bersama paralayang, seperti cita-citamu. Namun aku ingin bukan hanya untuk hari ini, tapi selamanya. 

"Maukah, Hanum menikah denganku?"

Suara Kang Khayr yang lumayan keras membuatku terpaku, rasanya jantung ini berhenti berdebar dan paru-paru berhenti bernapas. Apa ini?

Tepuk tangan riuh dari seluruh atlit paralayang dan seluruh orang yang pagi itu ada, menambah kadar kegugupanku. Perlahan mataku mencari Abah dan Ambu, keduanya tampak berjarak kurang dari sepuluh meter dari tempatku berdiri.

Abah mendekat, membisikkan sesuatu. Ambu tersenyum dan mengangguk.

Kukembalikan wajahku menghadap Kang Khayr, debar itu sudah mulai tenang dan napas ini kembali teratur.

Senyum sumringah dan anggukan kepala mengganti jawabannya, disambut tepukan dan sorak soray seluruh orang yang berada di situ.

Dengan mantap Kang Khayr berjalan, bukan ke arahku tapi ke arah Abah. Disusul empat orang laki-laki yang salah satunya kukenal, Pak mandor perkebunan.

Keduanya berjabat tangan, aku masih terpaku. Apa lagi ini?

Tiba-tiba Abah berkata dengan lantang:

"Ananda Khairul Fikri bin Fulan, saya nikahkan engkau dengan anak saya Hanum binti Fulan dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas seberat dua puluh lima gram, tunai!"

"Saya terima nikahnya Hanum binti Fulan dengan mas kawin tersebut di atas, tunai," tak kalah lantang suara Kang Khayr

Dan semua berteriak
Sah
Sah
Sah

Ya Allah, sebuah pernikahan yang benar-benar diluar dugaanku. Bukit tempat lokasi paralayang ini menjadi saksi.

"Semua orang yang hadir di sini, menjadi saksi pernikahan saya dengan adik kelas saya, Hanum. Semua saya undang untuk jamuan sederhana besok di rumah orang tua saya, Kepala Kecamatan Cisarua," teriakan lantang lanjutan dari Kang Khayr. 

Perlahan tapi pasti langkahnya mendekatiku, mengamit tanganku.

"Hari ini akan kuwujudkan mimpimu, terbang bersama paralayang ... melintasi hamparan kebun teh dan hutan. Melihat jalan raya yang meliuk dan aliran sungai yang jernih." Senyumnya selebar senyumku. 

Kami melangkah ringan, menuju tempat persiapan.

Tiga puluh menit kemudian, aku dalam pelukan kekasih halalku ... sudah melayang di atas hamparan kebun teh, terbang menyentuh angin dan menikmati mimpiku yang menjadi kenyataan.

- LJI, 28 Februari 2019 -

*flight plan: perencanaan jalur penerbangan

0 Response to "Fiksi: Paralayang"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel