Cerita Mini: Selingkuh Hati

#lakuna

Mas Rahman memboyongku ke rumah yang besar dan mewah ini, setahun yang lalu, setelah kami resmi menikah. Rumah ini masih sama ... sepi, tak berubah sejak aku hadir.

Beliau tak pernah membatasi gerakku, tapi apapun yang kulakukan tak mampu mengusir kesepian yang ada. Mas Rahman terlalu sibuk dengan perusahaan-perusahaannya, kadang membuatku merasa terabaikan.

Menunggu kepulangan Mas Rahman adalah keharusan. Membuat akhirnya aku bersahabat dengan kopi dan media sosial. Hanya itu yang mampu membantuku membunuh sepi, mencoba menutup lakuna yang tercipta tanpa sengaja, dan makin lama makin terasa dalam.

Hingga akhirnya menemukan seseorang yang membuatku nyaman dalam chatting dunia maya.

Malam ini, aku masih duduk bersandar, menatap layar monitor. Berharap lampunya menyala. Kulirik kotak kecil penunjuk waktu,  21.58. Dua menit lagi semoga ....

22.00 
Lampu itu menyala, kutunggu sapanya. Semenit dua menit ... tak terbuka juga kotak percakapan di bagian bawah sebelah kanan. 

Ah, kamu mampir ke mana dulu? Mau memulai, gengsi. Hatiku berdebar dan mataku tak hendak beranjak dari sebuah foto di antara jajaran foto yang lampunya menyala, hijau.

(Hai, belum tidur, Dek?)

Mataku berbinar, akhirnya kotak itu terbuka. Mau dijawab langsung, aku takut ketahuan menunggu. Ah ... aku serba salah. 

Akhirnya jari-jariku bermain di atas keyboard.

(Iya ... belum bisa tidur, Bang. Abang baru pulang)

Sebuah pertanyaan basa-basi, karena ini bukanlah chat kami yang pertama, entah sudah yang keberapa.

(Iya, tapi sudah mandi looo, emot senyum, jadi kalau ketemu, Kamu, aku sudah wangi)

(Hahaha, emot tertawa ... memang mau ketemu, Aku?)

(Maulah, Kamu, mau nggak?)

Percakapan tanpa bicara itu terus berlanjut. Saat dimana bibir tak berfungsi. Mata, hati dan jari lebih banyak bekerja.

Kumpulan kata menjadi kalimat, saling melempar aksara. Kadang sekedar membuat tersenyum, kadang membuat tertawa

(Bang, jam 23.50, sudah ya, aku ngantuk)

(Tapi abang masih kangen, Dek)

Tung ....

Spontan mataku melirik, ponsel pintar keluaran terbaru hadiah dari suamiku. Kupandang notifnya.

Kakang Mas

Kubuka pesannya: 
(Kangmas, baru meluncur dari kantor. Kamu, siap-siap ya!)

Kembali kupandang kotak kecil penunjuk waktu, 00.12. Kemudian beralih ke layar monitor.

(Maaf, Bang ... Adek, undur diri ya)

(Baru jam dua belasan, Dek)

(Dek ... kamu masih di situ?)

(Dek, emot sedih)

Keberadaanmu memang maya, namun rasa yang kau tawarkan begitu nyata. Canda, senyum dan tawa ... membuktikan bahwa keberadaanmu sungguh berarti buatku.

Kamu kepingan puzzle terakhir, di sebuah sudut ruang yang terlupa dalam hatiku. Namun aku tak mungkin mengabaikan pemilik kepingan lain, yang telah lebih dulu memberi begitu banyak.

Maafkan, Aku ....

- Garasi TMR, 4 Maret 2019 -

0 Response to "Cerita Mini: Selingkuh Hati"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel