Cerita Mini: Cinta Tanpa Aksara
#afsun
Suasana hening, aku bahkan merasa bisa mendengar degup jantungku sendiri. Menatap penuh pengharapan pada seorang lelaki paruh baya, yang posisinya duduk di depanku.
Di sebelahnya duduk seorang perempuan berwajah sendu, yang sebulan ini namanya mengisi doa-doa shalat istikharahku. Kepalanya tertutup jilbab biru, tertunduk.
"Apa yang membuat Nak Tommy Khong, bersikeras meminang Awy Dewi?"
"Saya serius mencari istri, Pak. Untuk membuktikan kesungguhan itu, saya hadir di sini, menghadap Bapak," jawabku lugas, dengan suara yang dibuat setenang mungkin, padahal dadaku serasa ingin meledak menahan rasa.
"Bapak, tak mampu menghalangi, Nak. Tapi sudahkah kau pikirkan tanggapan orang tuamu terhadap Awy?"
"Saya akan mengenalkan Awy pada mereka, Pak. Saya yakin mereka pun akan melihat afsun pada diri Awy, seperti saya melihatnya."
"Mengapa kamu begitu yakin orang tuamu bisa menerima kondisi Awy?"
"Keluarga kami, bukan keluarga yang memandang kesempurnaan adalah segala-galanya. Saya diajarkan untuk mampu menerima takdir, Pak. Saya yakin keluarga saya bisa menerima takdir Awy."
"Bagaimana, Wi? Bapak serahkan keputusan ini padamu. Jawablah!"
Gadis manis bergamis biru itu mengangkat wajahnya, bola mata hitamnya menatapku. Pandangan yang memanah hatiku berkali-kali. Sekejap saja ... selanjutnya pandangannya beralih.
Menyentuh lengan ayahnya, gadis itu mulai menggerakkan jari-jemarinya.
"Awy bersedia dikenalkan kepada orang tua Bang Tommy. Tapi syaratnya tidak boleh memaksa. Jika orang tuamu menolak Awy, maka harus ikhlas melepaskan Awy, karena buat Awy restu orang tua adalah segala-galanya." Suara Pak Rendy Ramadhan menterjemahkan isyarat Awy.
"In sya Allah, saya terima syaratnya," jawabku tenang.
Hatiku bahagia, kekagumanku bertambah. Semakin berkomitmen untuk memperjuangkan perasaan ini. Yakin, bahwa Awy adalah perempuan yang tepat untuk menjadi ibu dari anak-anakku.
- Samarinda, 8 Maret 2019 -
0 Response to "Cerita Mini: Cinta Tanpa Aksara"
Post a Comment