Cerita Mini: Warna-warni dalam Pandangan Gadisku
#warna
Suasana siang ini panas sekali, ditambah pekerjaan yang menumpuk dan naskah novel dalam file yang harus kuedit, sedangkan limit waktunya makin mendekat. Membuatku jengah.
Pekerjaan yang kuambil ini memang bisa dikerjakan di rumah, tapi kendala tugas ibu rumah tangga terkadang melenakan, hingga tak mampu membagi waktu. Akhirnya memang harus ada yang dikorbankan.
"Ratiiih! Ambilkan buku warna merah di atas meja kerja ibu di kamar!" teriakku pada gadis kecilku semata wayang. Suasana gerah dan perasaan yang mulai jenuh membuatku malas bergerak.
Tak sampai lima menit, bidadari cilik berusia tujuh tahun itu sudah ada di hadapanku. Menyerahkan sebuah buku. Tanpa menoleh kuterima buku itu dan Ratih pun berlalu.
"Ratiiih! Bukan buku yang ini." Aku kembali berteriak saat menyadari buku yang Ratih berikan padaku salah, rasanya panas udara semakin membuat panas hatiku.
"Yang mana, Bu?"
"Yang warna merah, Tih! Cuma satu buku warna merah di meja itu!"
Beberapa jenak, Ratih kembali memberikan sebuah buku. Sengaja kutolehkan wajah agar tidak mengalami kesalahan dua kali.
"Ya Allah, Ratiiih! Ini warna hijau. Ratih sudah kelas dua SD, masa ndak jelas perintah ibu? Ibu, minta ambil buku warna merah! Sana cari lagi!" Sepertinya emosiku sudah sampai ke tenggorokan.
Wajah Ratih mulai mendung.
"Tapi di meja banyak sekali buku, Bu," jawab Ratih lirih, rasanya mendung hatinya makin kelabu.
Aku luluh, tak tega rasanya melihat bidadariku sedih. Kuturunkan emosi dan kupaksakan sebuah senyum menggantung di bibir.
"Iya, Sayang ... di meja memang banyak buku, tapi yang warnanya merah cuma satu. Coba Ratih lihat lagi!"
Ratih berbalik memasuki kamarku, lama tak muncul membuatku curiga. Betulkah tak ada buku berwarna merah, atau aku salah meletakkan?
Ah ... tak mungkin. Buku berwarna merah adalah agenda kerjaku, semua data karya yang harus kuedit dan jadwal limit waktu serta keterangan yang lain, semua ada di situ.
Hampir lima menit berlalu, rasanya lama sekali. Tak sabar menunggu Ratih kembali. Akhirnya, dengan kesal, kulangkahkan kaki menuju kamar.
Di pintu kamar bercat biru itu, tampak bidadari kecilku mematung di sisi meja kerja, menatap tumpukan buku ... dengan tatapan yang tak bisa kupahami.
"Ya Allah, Ratiiih ... kenapa malah bengong? Itu buku merah persis di depanmu!" Suaraku meninggi kembali. Aku tak habis pikir dengan sikap Ratih. Apakah sependek itu ingatannya.
Tubuh Ratih tampak tersentak, kepalanya menoleh ke arahku, wajahnya basah dengan air mata. Aku luluh ....
'Ah, apa yang terjadi dengan anakku?'
Kudekati, kupeluk erat bidadari mungil itu.
"Ratih, lupa permintaan, Ibukah?"
"Ndak, Bu," jawabnya bergetar, rasanya bendungan itu terasa akan meledak, "cuma bingung, buku yang warna merah itu yang mana?"
Perlahan kuambil agendaku, sebuah buku tebal dengan sampul kulit berwarna merah menyala, warna kesukaanku.
"Ini merah, Sayang!"
"Iya, maafkan ya, Bu."
Sebuah rasa heran menyusup ke dalam hati. Ada yang aneh dengan sikap Ratih. Tiba-tiba teringat dengan kejadian delapan tahun yang lalu, saat Mas Ryan, suamiku, membuat undangan kami berwarna coklat. Padahal jelas sekali, aku memintanya memilih warna merah.
Perlahan melepaskan pelukan Ratih, kurengkuh bingkai wajahnya, memberi senyuman termanis ....
"Menurut, Ratih, buku ini warnanya apa?"
Beberapa jenak Ratih terdiam, memandang buku di tanganku. Perlahan diambilnya dan dia perlihatkan padaku.
"Warna coklat."
- tepi jalan poros Palaran, 270219 -
Mohon kritik dan sarannya 🙏🙏🙏
0 Response to "Cerita Mini: Warna-warni dalam Pandangan Gadisku"
Post a Comment