Cerpen: Calon Madu (?)



Berselancar di media sosial, saat ini sepertinya sudah menjadi kebutuhan. Rasanya ada yang kurang jika sehari kita tak menjamahnya.

Seperti yang kulakukan saat ini, memandang layar monitor personal komputerku, membaca satu persatu status teman-teman, yang sebagian besarnya adalah teman di dunia nyata. Bahagia rasanya melihat mereka sehat.

Tiba-tiba di sudut kanan bawah, sebuah kotak percakapan terbuka.

(Assalamualaikum, Ver. Tumben online?)

Kuperhatikan seksama nama dan PP si pemilik akun, seorang perempuan mungil berkulit putih, kakak kelasku di kampus.

(Walaikumsalam. Setiap hari ada aja onlinenya kok, Mbak. Apa kabar?)

(Baik, emot senyum)

(Ver, kamu sekarang, di Samarinda ya? Sejak kapan)

(Iya, Mbak ... sejak 2011)

(Ada kenalan nggak yang bisa dijodohkan sama mbak?)

Waduh, terbelalak mataku. Kami tak bersapa lebih dari sepuluh tahun, tepatnya semenjak aku menikah. Sebegitu jujurnyakah dia padaku?

Otakku kelu tanganku beku, entah harus menulis apa. Lama aku terdiam ....

(Kok diam, kaget ya aku menulis itu?)

(Aku ikhtiyar, Vera! Kamu taukan usiaku berapa ... tiga tahun di atas kamu. Dua tahun lagi aku masuk usia kepala empat, Ver. Aku harus apa?)

Sadar dan khawatir salah sangka, segera kubalas.

(Maaf, Vera, kaget, Mbak. Mbak terlalu to the point, emot senyum)

(Aku tak hendak lagi berbasa-basi. Aku minta tolong pada semua orang yang aku kenal. Aku ingin nikah, Vera!)

(Oiya, Mbak. Nanti, Vera, obrolin sama abang di rumah ya, siapa tau beliau ada kenalan)

(Jadi istri kedua pun, tak papa, Vera!)

(Sabar ya, Mbak. Banyak sabar dan shalat, semoga Allah permudah jodoh mbak)

(Saya tunggu kabarnya ya, Ver!)

(Ya, Mbak)

Percakapan itu terputus, tak ada lagi keinginan untuk berselancar lebih lanjut. Pikiranku menerawang ke masa-masa sepuluh tahun silam ... si mbak adalah salah satu yang tidak mau hadir dalam pernikahanku. 

"Kok bisa, orang sekeren Miko menikah dengan Vera. Seperti tidak ada perempuan lain saja!"

Perkataan itu tak pernah langsung diucapkannya padaku, tapi bahwa yang namanya ucapan tidak menyenangkan, tetap akan sampai ke objek penderita bagaimana pun caranya, dan itulah yang terjadi.

Alhamdulillah, berbekal mental tahan banting, aku tak terlalu menggubris ucapannya. Kusampaikan kepada sang pembawa berita ....

"Tak apa, jodoh Allah yang ngatur. Dia pertemukan orang yang tak disangka-sangka jika itu kehendak-Nya dan Dia pisahkan orang yang tak disangka-sangka jika itu kehendak-Nya."

Konon kabarnya, si mbak punya harapan kepada Miko, orang yang menikahiku sepuluh tahun yang lalu. Sejak itu, terputuslah hubungan komunikasi kami.

Layar monitor masih menyala, tapi tak bergerak. Mataku entah menatap apa, hanya pikiranku yang melayang-layang.

Terkadang kita merasa jumawa saat posisi kita menguntungkan. Kita lupa bahwa Allah Maha Membolak-balik keadaan. Orang yang kita rendahkan saat ini, bisa jadi adalah yang akan menolong kita sepuluh tahun akan datang.

Tiba-tiba sebuah kotak percakapan kedua terbuka.

(Assalamualaikum, Alhamdulillah elo online, Ver)

Kembali kuperhatikan nama dan PP si pemilik akun, sahabat akrab saat di kampus.

(Walaikumsalam, kenape, Lo? Kangen berat keknya sama gue, emot ngeledek)

(Ya elah, kagak ... ngapain!)

(Trus kenapa, kok seneng banget gue online?)

(Inget Mbak Dewi? Kakak kelas kampus ... gue dapat berita dia bakal ngubungin, Lo!)

Ada rasa terkejut dalam diriku, hebatnya orang ini. Dia bisa tau berita apapun seputar kehidupan teman-teman kampus.

(Kalau ngubungin juga nggak papa, emang masalah?)

(Kalau dia ngubungin buat mohon jadi madu, Lo ... itu masalah bukan?)

"Astaghfirullah," ucapku lirih.

- Samarinda, 24 Februari 2019 -

0 Response to "Cerpen: Calon Madu (?)"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel