Base on True Story: Akibat Pergaulan Bebas


PENYESALAN

"Tolong Sekar, Bu! Huhuhu ... tolonglah, Bu!" suaranya bercampur isak, di atas bahuku yang ikut tergoncang.

Udara dingin dan bau obat, mendominasi penciumanku. Memeluk tubuh telanjang berbalut selimut kamar ICU. Bergelang selang infus serta selang oksigen yang masih menempel di hidungnya. Hampir saja dunia kehilangannya.

Tiba-tiba tubuh itu lemas dan bertumpu seluruhnya ke badanku.

"Sus, pasiennya pingsan!" seruku kepada beberapa perawat yang berjaga di ruangan.

"Silahkan keluar dulu ya, Bu," ujar salah seorang dari mereka.

Aku melangkah, menanggalkan jas khusus lalu meninggalkan ruang steril bersuhu rendah tersebut.

Membuka pintu, langsung kutemukan wajah-wajah cemas. Tanpa semangat, sekedar berbasa-basi kutegur sepasang orang tua yang sedang menunggu.

"Sabar ya, Bu ... Pak. Saya mohon izin pulang."

"Tak bisakah Sekar mendapat keringanan, Bu? UN hanya tinggal dua bulan." Wajah perempuan paruh baya itu terbalut kesedihan yang teramat sangat.

"Ibu, sudah berdiskusi sendiri tadi dengan Kepala Sekolah. Saya, tidak punya wewenang, Bu. Mohon maaf. Saya pamit nggeh, Bu ... Pak."

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

**********

Tiga jam sebelumnya ....

Seorang gadis cantik bermuka pucat berdiri di depan ruang kerjaku.

"Ibu Ratih, panggil saya?" Suaranya bergetar seperti menahan sesuatu. Wajahnya putih pucat dengan bibir kelu berwarna merah kebiruan.

Berseragam putih putih dengn kaos kaki putih yang menonjolkan bulir betisnya yang seksi.

"Duduk!" perintahku.

Perlahan berjalan, tampak terseok, jelas sekali menyembunyikan sesuatu.

"Istirahat kedua ke mana?"

"Ada, Bu."

"Sekar, Ibu ke kelasmu! Semua temanmu tidak tau keberadaanmu!" Suaraku meninggi.

Wajah di hadapanku makin pucat, bibirnya bergetar dan mulai terdengar isak tertahan.

"Kamu, keluar sekolah ya? Jujur, Ibu punya saksi. Atau hukumanmu tambah berat."

"Maafkan, Sekar, Bu ... huhuhu, maafkan." Kepala itu makin tertunduk, bahunya terguncang menahan isak yang makin terdengar.

"Ini surat untuk orang tuamu, besok jam 9 ibu tunggu di ruang ini. Sekarang silahkan kembali ke kelasmu!" perintahku datar. 

Tubuh semampai tapi berisi khas anak ABG zaman sekarang, bergerak bertumpu meja dan kursi. Tangisnya masih terdengar. Perlahan berjalan menuju pintu.

Dan saat itulah terlihat darah segar mengotori rok putihnya, aliran itu pun tampak samar terlihat menuruni betis. Terkejut bukan kepalang, reflek mulutku berteriak ....

"Sekaaar! Kamu kenapa? Kamu berdarah!" 

Sekar terpana, perlahan membalikkan badannya ke arahku, namun belum sempurna, tiba-tiba badannya luruh ke lantai.

Panik, kuteriakkan semua orang yang lalu lalang di depan ruang BP ini. Dalam waktu sepuluh menit, tubuh Sekar sudah berada di ruang UKS dan langsung dilarikan dengan mobil dinas sekolah ke rumah sakit terdekat.

**********

"Pendarahan hebat akibat abortus!" 

Informasi yang benar-benar membuatku hilang akal. Air mata ini tak berhenti mengalir. Bagaimana mungkin ... seorang Sekar, anak manis yang tak banyak ulah. Apa yang terjadi?

Siapa yang harus disalahkan? Orang tuanya yang lugu? Anaknya yang cantik tapi kurang pergaulan? Lingkungan yang tak bersahabat? Atau ... jangan-jangan kami, para pendidik yang kurang peka?

- Samarinda, 15 Februari 2019 -

SAVE CHILDREN FROM SEX ABUSE AND FREE SEX

0 Response to "Base on True Story: Akibat Pergaulan Bebas"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel