Cerita Pendek: Pernikahan
YANG KESEMBILAN
Setelah hampir satu jam duduk di depan cermin, akhirnya selesai juga wajahku dirias. Keluar kamar menuju pelaminan, telah berdiri sosok gagah yang lima jam lalu menghalalkanku dengan syahadah.
Kusunggingkan selarik senyum, tapi wajah itu tampak datar.
'Wah, apa yang salah dari dandananku, ya?'
Mendekat dan akhirnya berdiri bersisian, matanya lekat menatapku, membuat risih.
"Apa sih, Bang?"
"Apanya yang apa?"
"Kok, Abang menatap kaya gitu?"
Bukannya menjawab, dia malah mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Mbak Ayu, ada tissue basah?" katanya memanggil tukang rias.
"Ada Mas ... sebentar saya ambilkan."
Tak lama selembar tissue basah sudah tergenggam.
Lembut bahuku ditarik hingga badan menghadap ke arahnya. Dipegangnya dagu, kemudian mengusap bibir merah jambuku dengan selembar tissue basah.
'Astaghfirullah, ini laki konyol amat ya'
"Aku ga suka, dandanannya terlalu menor," ucapnya.
Pandanganku menyapu barisan tamu, sebagiannya memandang kami sambil tersenyum simpul. Ya Allah, malunya.
**********
Lagu bertema pernikahan mengalun riang dari grup nasyid yang tampil di panggung. Sesekali lagu pop yang liriknya digubah dengan lirik lucu, membuat para tamu tersenyum, mungkin membuat mereka teringat masa-masa awal menikah.
Duduk di pelaminan berdua, sudah seperti kenalan lama. Tak ada jarak antara aku dan Abang, sebutanku untuknya.
"Jadi, Ade ini perempuan kesembilan yang taaruf sama Abang?"
"Hehehe, iya ... dua sebelumnya orang Padang juga."
"Kok pantang menyerah amat sih, Bang?"
"Harus! Ganjarannya setengah agama, gimana aku ga pantang menyerah!" jawabnya simpel.
Aku menutup mulut menahan tawa, mendengar jawaban dan melihat raut lucu wajahnya. Ternyata orang lempeng ini bisa lucu juga.
"Ada yang aku mau, perempuannya ga mau. Ada yang perempuannya mau, aku ga mau. Makanya jadi banyak begitu," jawabnya dengan bibir tersenyum, "tapi yang paling membuat sakit hati itu yang terakhir, aku sampai disuruh ngerjain soal!"
"Hah, iyakah? Soal apa?"
"Macam-macam, ada lima, tentang ekonomi dunia, tentang emansipasi wanita, dan lain-lain."
"Abang jawab?"
"Jawablah, aku merasa tertantang. Sampai ambil referensi dari berbagai buku."
"Lalu?" tanyaku antusias.
"Katanya dia menarik kembali niatnya, karena ingin meneruskan sekolah."
"Lah kalo mau nerusin sekolah kenapa mau diajak taarufan?"
"Alasan sebenarnya mah bukan itu, ada orang lain yang lebih baik dari aku. Tapi biarlah, berarti bukan jodoh, karena ternyata jodohku itu kamu," bisiknya sambil menggenggam erat tanganku.
Kupersembahkan senyum manis setulus mungkin, "Alhamdulillah, Ade bersyukur Abang pantang menyerah."
"Kenapa kamu yang bersyukur?"
"Kalau Abang menyerah di yang kedelapan, maka Ade akan menjomblo seumur hidup, hehehe," jawabku kemudian terkekeh, beliau pun tertawa.
Kemudian meletakkan bibirnya ke telingaku.
"Kalau yang kesembilan menolak juga, Aku sudah bercita-cita mau melamar Desi Ratnasari."
Meledaklah tawa kami berdua, dan sama-sama menutup mulut saat menatap muka heran para tamu.
- Samarinda, 15 Mei 2019 -
0 Response to "Cerita Pendek: Pernikahan"
Post a Comment