Cerita Pendek: Museum
WISATA MUSEUM
"Fiyuuuhhh, akhirnya sampe jugaaa!" jeritan tertahan putra tengahku, Mark Andes, sambil menjatuhkan dirinya di trotoar. Membuka tas dan mengambil sebotol tumbler, menenggak isinya setengah.
Aku tersenyum melihat anak-anakku terduduk di trotoar. Membuka minumnya masing-masing. Dehidrasi yang mereka alami, tampak dari wajahnya yang mengkilap terbasuh keringat, membulir di sekujur dahi dan mulai menetes di pipi.
"Siap masuk?" tanya Kak Rendy Ramadhan pada anak-anaknya yang tampak kelelahan.
"Huuu, Daddy ... sabar napa!" Si Sulung Rizaul Kaffi terdengar emosi, "itu kenapa, Abang, ga suka tinggal di Jakarta. Jarak segitu aja, laamanyaa! Macet, desak-desakan di busway, hedeeh!"
"Kalau di Samarinda, mana mau kalian jalan kaki dan naik angkot, seperti tadi," ujarku menahan senyum, melihat ketiga jagoanku terkapar.
"Memang Mommy tega nyuruh kami naik angkot? Trus mobil mau diapakan?" Kali ini suara sewot si bungsu, Iblies Vcc. Seperti merasa dilecehkan oleh Mommynya, karena wajahku yang memang sedang menunjukkan ekspresi meledek.
"Eits, ingat pesan Daddy! Kalian harus survive* di mana pun. Harus siap naik angkot, busway, kereta, berdesak-desakan, bahkan berjalan kaki. Laki-laki tak boleh banyak mengeluh, lihat Mom kalian, masih bisa senyum ... padahal kejadian yang dialami tidak jauh beda dengan kalian!"
"Aaahh, Mom-kan lahir di Jakarta, biasa macet biasa jalan kaki," kata Rizaul membela diri.
"Karena hidup tak selalu di atas, Jagoan-jagoanku!" jawabku sambil mencubit gemas hidung mancung si sulung.
"Tapi, Mom--." Baru saja Mark membuka mulut ....
"Tidak ada tapi!" Kak Ren memutus ucapan anak tengahnya. Lalu menggandengku dan mulai melangkah, berjalan menuju gerbang Museum Gajah, lokasi wisata kami hari ini.
"Aaahhh, Daddyyy ...!" Suara tiga jagoan
itu hendak protes. Namun akhirnya sadar Daddy-nya tak bisa di protes, ketiganya langsung bangun, berlari menyusul kami.
**********
Hanya dengan harga karcis lima ribu rupiah per orang, kami sudah bisa menikmati koleksi Museum Gajah.
Ketiga jagoanku terpana melihat kebersihan museum ini, hawa di dalam pun terasa sejuk.
"Mom, beda banget sama museum di Samarinda, ya!" bisik Mark di telingaku.
Mengingat perkataan tengahku itu, muncul rasa prihatin di dalam hati. Begitu banyak tempat bersejarah dan wisata di Samarinda, namun belum dikelola dengan profesional.
Museum yang ada, berdebu dan pengap. Padahal di dalamnya berisi barang-barang berharga peninggalan nenek moyang. Menurutku, benda-benda tersebut tidak bisa dinilai dengan uang, karena unik dan usianya yang sudah berabad-abad.
Mataku mulai mengamati isi museum, tampak ketiga jagoanku menikmati wisata mereka kali ini, Kak Ren dengan sabar menjawab semua pertanyaan jagoan-jagoannya, terutama si bungsu, Vc yang masih TK dan belum bisa membaca, namun antusias menanyakan semua hal yang dilihatnya.
Museum Nasional atau disebut juga Museum Gajah, karena di halaman depannya terdapat patung gajah berukuran besar, memiliki bangunan bergaya eropa. Dengan ukuran yang sangat luas. Menurut informasi yang kami dapatkan, memiliki lebih dari 160.000 koleksi benda-benda yang berhubungan dengan sejarah Indonesia.
Sumber koleksi banyak berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda dan pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi* Indonesia di museum ini cukup lengkap.
Koleksi yang paling menarik adalah patung Bhairawa. Patung yang tertinggi di Museum Nasional ini (414 cm) merupakan manifestasi dari Dewa Lokeswara atau Awalokiteswara, yang merupakan perwujudan Boddhisatwa (pancaran Buddha) di Bumi, ditemukan di Padang Roco, Sumatra Barat ini berasal dari abad ke 13 - 14.
Tak terasa dua jam kami berkeliling, kaki mulai terasa lelah dan perut mulai menjerit minta diisi.
"Mommy, Vc, lapar!"
"Iya, Sayang! Kak, cukup ya, sekarang kita ke Monas, yuk!" ucapku sambil menggamit lengan suamiku.
"Dimana Monas, Mom?" tanya Rizaul
"Di depan museum ini."
"Wah dekat dong, ngapain kita kesana?" Mark tampak antusias.
"Di Monas juga ada museum, trus kita bisa naik ke atas Monas yang tingginya lebih dari 100 meter, menikmati pemandangan kota Jakarta dari atas."
"Waaahh, seru tuh!" jerit Rizaul.
"Abang, ga boleh teriak-teriak." Vc mengingatkan abangnya.
"Sebelumnya, kita santai-santai sambil makan siang dulu ya di Taman Monas, di bawah pohon rindang. Mom sudah bawa bekal."
"Aseeeekkk." Jagoan-jagoan itu membentuk paduan suara.
Tak sampai sepuluh menit kami sudah berada lagi di luar museum, di sambut terik sang bintang siang yang persis berada di tengah langit.
"Mom, katanya Monas di depan museum ini," tanya Rizaul.
"Iya memang, itu yang kalian lihat adalah pagar pembatas trotoar dengan taman yang mengelilingi Monas," jawabku.
"Trus pintunya mana, Mom?" kata Mark.
"Kamu lihat patung kereta kuda itu?" tanya Kak Ren pada anak-anaknya.
"Lihat," sahut Vc
"Nah, pintunya persis di depan itu."
"Haaahh, jauh amaat, Daad!" teriak ketiganya serempak.
Kak Ren tersenyum tak peduli, kemudian merangkul pundakku mengajak melangkah, meninggalkan ketiga pemuda kecil itu melongo.
"Moommyy, Daddyyy ...!"
- Loa Janan Ilir, 30 April 2019 -
note
survive: mampu bertahan
etnografi: deskripsi tentang kebudayaan suku-suku bangsa
sumber info: wikipedia
0 Response to "Cerita Pendek: Museum"
Post a Comment