Dongeng Rekayasa (2)
PUTRI PUTIH SALJU
Hari ini, Putri Cherika Nayyara Putih Salju berulang tahun yang ke duabelas. Wajahnya yang cantik makin cerah, pipinya bersemu merah, tampak bahagia mendapatkan banyak ucapan selamat dan hadiah dari seluruh anggota keluarga kerajaan.
Walau diasuh oleh ibu tiri, Putri tak kehilangan kebahagiaan, karena perlakuan yang baik dari sang ibu tiri.
Kebiasaan aneh sang ibu tiri adalah setiap sore selalu berdiri di depan cermin ajaib dan bertanya ....
"Hai cermin ajaib, siapakah perempuan yang paling cantik di kerajaan ini?" Cermin ajaib selalu menjawab, "Engkaulah yang paling cantik, Ratuku."
Sore ini, kembali sang Ratu berdiri di depan cermin ajaibnya dan bertanya ....
"Hai cermin ajaib, siapakah perempuan yang paling cantik di kerajaan ini?" Cermin ajaib menjawab, "Engkau tetap cantik, Ratuku. Namun ada yang lebih cantik, Putri Cherika Putih Salju."
Sang Ratu memandang lama ke arah cermin, kemudian berteriak memanggil dayang. Tergopoh seorang dayang masuk ke dalam kamar ratu.
"Ada yang bisa saya bantu, Ratuku?"
"Panggilkan penggawa bernama Yudi Ahsan!"
Tidak sampai sepuluh menit, Penggawa Yudi sudah tiba di depan sang Ratu.
"Ada yang bisa saya bantu, Ratuku?"
"Bawa putri ke tengah hutan, di sana ada rumah para kurcaci, tinggalkan dia di sana! Pastikan dia tak bisa pulang!"
"Tapi, Ratu--."
"Tidak ada tapi, kerjakan saja perintahku!"
"Baik, Ratuku."
**********
"Loh, kenapa kita bisa sampai di sini, ya, Om?"
"Entahlah, mungkin kita terlalu asyik bermain sehingga tak sadar telah masuk ke tengah hutan," jelas Yudi pura-pura tak paham.
Senja makin menua, matahari mulai beranjak ke peraduannya dan angin pun mulai terasa dingin. Putih Salju mulai merasakan ketakutan, dadanya berdebar dan napasnya mulai berat. Tangannya tak lepas memegang erat tangan Penggawa Yudi.
"Jadi, bagaimana, Om. Kita harus apa?"
"Kita harus terus berjalan, sampai menemukan rumah yang bisa kita tumpangi."
Mereka berdua terus berjalan, namun cahaya matahari yang makin menipis membuat jarak pandang makin pendek. Berkali-kali Putih Salju terjatuh, kakinya mulai lecet dan bajunya sobek tersangkut ranting.
Dari jauh tampak setitik cahaya, memberi harapan pada Putih Salju.
"Sepertinya itu ada rumah, Om!"
"Ayo, segera kita ke sana!"
Rumah tersebut begitu mungil, dengan banyak jendela di bagian bawah mau pun atasnya.
Tok ... tok ... tok ....
Tak lama, pintu terbuka, seorang laki-laki paruh baya dengan tinggi yang tidak normal berdiri di belakang pintu.
"Ada yang bisa saya bantu?" sapanya ramah
"Saya Penggawa Yudi, bersama Putri Mahkota, kemalaman di hutan, apakah kami bisa menginap di rumahmu?"
Wajah itu tampak terkejut, gayanya lucu sekali, pundaknya terangkat, matanya melotot dan tangan kanannya menutup mulutnya yang menganga.
"Ooo, silahkan, Tuan. Maaf tempat ini tak seindah istana. Silahkan, Tuan Putri."
**********
Sinar merah fajar mulai tersingkir oleh cahaya terang matahari. Biasnya menelusup masuk ke jendela-jendela rumah kurcaci. Menebar kehangatan ke seluruh sudut rumah.
"Ooomm, oommm yudiii!" Suara Putih Salju memecah sepi pagi. Mengagetkan semua kurcaci, yang langsung terlompat dari tempat tidurnya masing-masing.
"Ada apa, Putri?" tanya kurcaci tertua
"Om Yudi, hilaaangg! Huuuaaa ...!" jerit Putih Salju, posisinya terduduk di lantai rumah, sambil menghentak-hentakkan kaki ke kiri dan ke kanan.
Kurcaci terpendek mendekati, kemudian mengelus pundak Putih Salju, "Sabar, Tuan Putri. Semoga pihak kerajaan cepat sadar dan mengirim utusan ke sini."
Cukup lama para kurcaci membujuk putri agar bersabar. Akhirnya putri tertidur setelah lelah menangis hampir satu jam.
**********
Delapan tahun kemudian ....
Pangeran Mark Andes, Putra Mahkota yang sangat senang berburu. Seorang pribadi yang mahir berkuda dan memanah, kebanggaan rakyat Kerajaan Magenta.
"Halooo, apakah di sini ada oraaang?" teriakan pangeran meramaikan sore di depan rumah kurcaci.
Putri Cherika Putih Salju yang sedang bercanda riang sambil membuat roti bersama tujuh kurcaci, langsung terdiam, hampir tak pernah kedatangan tamu, kecuali binatang-binatang hutan.
Mereka saling berpandangan.
"Siapa itu, ya?" Kurcaci paling kurus angkat bicara.
"A-appa it-tu su-sua-ra ma-manus-sia b-ba-baik?" Kurcaci gagap nampak ketakutan, pikirannya dipenuhi dengan cerita nenek sihir dan para penjahat.
"Dari pada kita ribut di sini, ayo kita buka saja!" ajak kurcaci tertua yang selalu paling bijak, "kamu yang buka, ya, Tuan Putri!"
"Halooo, apakah rumah ini berpenghuniii?" Kembali Pangeran berteriak.
Perlahan gerendel pintu bergerak dan pintu terbuka kecil, muncul wajah cantik nan mulus dari sebalik pintu.
Mata pangeran langsung terfokus, netra mereka bertemu. Sang pangeran terpana dengan pemandangan luar biasa di hadapannya.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya sang putri.
Pangeran masih terdiam, kaku. Terpesona dengan kecantikan putri.
"Woooiii, anda mau apaaa?" Tiba-tiba suara kurcaci paling gemuk terdengar, kepalanya muncul di posisi bawah pintu.
Pangeran tersadar.
"Eh, oh ... maaf, eh ... saya bersama empat pengawal mau numpang menginap, kami kemalaman setelah berburu." Pangeran bermohon sambil menangkupkan dua tangan di dadanya, namun matanya tak lepas dari wajah putri, putri merasa jengah lalu menunduk.
Pintu terbuka lebar, kurcaci tertua muncul.
"Silahkan, tapi kami hanya memberi tempat di ruang depan, jika anda bersedia."
"Di mana saja, yang penting bisa berteduh, langit tanpa bintang tanda sebentar lagi akan hujan," sahut pangeran.
Selanjutnya, pangeran dan para pengawal membantu putri dan kurcaci membuat roti untuk makan malam. Mereka.saling bercerita, tertawa dan bercanda.
**********
Setelah dua hari menginap, pangeran, tuan putri dan para kurcaci makin akrab. Bahkan pangeran sudah tau tentang kisah tersesatnya putri.
Pagi ini, pangeran berniat kembali ke Kerajaan Magenta.
"Kurcaci tertua, terima kasih atas keramahanmu dan adik-adikmu, telah menerima kami dengan sangat baik, memberi tempat berteduh dan menjamu dengan makanan lezat.
"Saya hendak mohon diri, tapi kalau boleh, izinkan saya membawa tuan putri untuk di kembalikan kepada orang tuanya di Kerajaan Jingga." Panjang lebar pangeran bicara.
Para kurcaci kasak kusuk, beberapa tidak setuju, sedangkan putri memilih diam, bingung antara rindu dengan orang tua dan tidak tega meninggalkan para kurcaci yang telah membersamainya selama delapan tahun.
"Saatnya melepas tuan putri, Adik-adikku. Ingat dulu kita pernah berdoa agar segera ada utusan kerajaan yang mencari tuan putri. Mungkin saat inilah doa kita dikabulkan." Kembali kurcaci tertua berkata bijak.
Akhirnya siang itu menjadi saat perpisahan yang teramat sedih bagi putri dan para kurcaci. Mereka menangis, wajahnya basah dengan air mata.
"Putri, jangan lupakan aku yaa ...!" isak kurcaci terkecil, badannya bergoncang karena tangis, tangan tak berhenti-henti mengusah wajah membuang air mata.
"Tak mungkin, suatu saat aku kembali," hibur putri.
Berangkatlah rombongan pangeran dengan membawa Putri Cherika Putih Salju, diiringi isak tangis para kurcaci.
**********
Setelah menempuh perjalanan hampir satu hari, rombongan sampai di Kerajaan Jingga. Pangeran singgah untuk menyerahkan putri ke orang tuanya.
"Anakku Pangeran Mark, apa kabarmu?" Ratu menyambut suka cita, "bagaimana tugasmu?"
"Aku berhasil menyelesaikan perintah, Bunda. Sudah kubawa kembali putri tirimu sekaligus calon istriku."
Putri Cherika Putih Salju terpana, tidak paham dengan pembicaraan kedua orang dihadapannya.
- Rumah Cinta GTS, 1 Mei 2019 -
0 Response to "Dongeng Rekayasa (2)"
Post a Comment