Cerita Mini: Pejuang Cinta


Pejuang Cinta

Setiap melewati desa Kampung Baru sekitar pukul 08.00 - 08.30. Aku selalu bertemu dengan seorang bapak paruh baya, berseragam biru dan mengenakan helm proyek berwarna putih. Beliau mengendarai sepeda motor melintasi arah yang berbeda.

Tidak ada yang istimewa dari sosok si bapak. Yang membuatnya menarik adalah, ia menggendong seorang perempuan tua yang terlihat renta. 

Posisi menggendong pun unik, bukan di belakang tapi di depan, seperti menggendong bayi. Bisa dibayangkan, tangan kanan memegang stang motor dan tangan kiri memeluk bayi dewasa, motor pun melaju perlahan.

**********

Hari ini kali kesekian aku melihat si bapak. Luar biasa pengabdiannya pada orangtua. Sebuah rasa membuncah dalam hatiku.

Menepikan kendaraan, meraih ponsel. Kutuliskan sebuah postingan dalam status facebook-ku hari ini. Berharap ada informasi yang kudapatkan.

**********

Sampai di kantor, kuhempaskan tubuh di kursi kerja. Mengendarai motor selama hampir satu jam, lumayan membuat badan kaku. 

Meraih ponsel, ada penasaran yang harus kutuntaskan. Mataku terpaku pada sebuah komentar dari seseorang yang tidak kukenal.

(Itu istrinya mbak, beliau memang sedang sakit. Tidak bisa bonceng di belakang. Kalau pun terpaksa di belakang biasanya diikat pake selendang)

(Pekerjaan bpk itu di bengkel bubut ujung kampung. Di rumah ga ada orang, jadi selalu dibawa kerja sama Pak Agus. Nanti jelang maghrib, mereka baru pulang)

(Si ibu sakit-sakitan semenjak anak perempuan satu-satunya meninggal beberapa tahun yang lalu)

'Wah, istrinya? Luar biasa'

Ada haru menyeruak, menghadirkan aliran sesak dalam dada yang mendorong menetesnya bulir air mata. Perlahan tanganku menyapu pipi.

Kemudian mulai menggoreskan aksara.

(Subhanallah ... ternyata ada juga yang mengenal si bapak, makasih infonya ya mbak)

(Sampaikan maaf saya, soalnya saya pikir itu ibunya. Sampaikan salam hormat pada si bapak, hebatnya pembuktian cinta)

Tak sabar rasanya membaca balasan sang komentator. Beberapa menit hadirlah notif yang kutunggu-tunggu.

(Iya, semenjak sakit-sakitan, istri Pak Agus terlihat jauh lebih sepuh dari usianya. Kebetulan saya tinggal dekat rumah beliau)

(Sempat saya tanyakan. Katanya, beliau menikahi ibu dengan dua kalimat syahadat. Maka lahir batin adalah tanggung jawabnya, sampai Allah memutuskan berakhir tanggung jawab itu)

(Insyaalloh nanti sy sampaikan salam dari mbak Veradina Rahmawati ya)

Ada yang berdesir, ternyata kesetiaan cinta akan selalu ada, di setiap zamannya.

- Samarinda, 2 April 2019 -

(Vedira Amien)

Setor ya Mak Yanti Anandya

0 Response to "Cerita Mini: Pejuang Cinta"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel