Cerita Mini: Kehilangan


Kau Pergi dalam Pelukanku

Memandang wajah yang terlelap di kursi sebelah. Raut itu kini tirus, pucat, walau tak mampu menutupi ketampanannya.

Ada iba, menelusup ke dalam setiap pembuluh darahku. Melenyapkan semua dendam yang pernah dia hadirkan. Itu pun jika aku tak mau mengakui, bahwa ini adalah cinta.

Menghentikan mobil di parkiran rumah sakit, kuusap lembut pipinya.

"Mas, bangun ... sudah sampai."

Netranya mengerjap, mengedip-ngedip. Perlahan tubuhnya bergerak.

"Maaf, Mas ketiduran. Tidak temani kamu nyetir."

"Iya, nggak papa, Mas. Lelah?"

"Sedikit." 

Aku tau dia berbohong.

********************

Tak menyangka, tubuh segar yang dulu biasa bergerak lincah ke sana ke mari, tiba-tiba lunglai tak berdaya. Ternyata, hanya sebegitu kekuatan manusia menghadapi takdir.

Saat tiba-tiba tubuh tegap itu sering menggigil di tengah panasnya cuaca, kemudian kehilangan selera makan dan menurun berat badannya secara drastis. Tak berdaya, bahkan sekadar menegakkan tubuh untuk duduk di peraduan.

"Dek, maaf jika Mas pernah menyakitimu."

Kalimat itu yang berkali-kali terucap dari mulutnya.

'Ah ... sakit itu memang pernah hadir, namun dengan ikhlas mencoba melupakan'

Sebatas pikiran, tak mampu terucap.

"Lupakanlah, Mas!" ucapku mencoba menetralisir hatinya.

Ada rasa bersalah yang mendalam pada pijar matanya.

"Bagaimana, Mas bisa sebegitu tega menuduhmu selingkuh, padahal saat inilah yang tepat kau meninggalkan Mas, tapi tak kaulakukan." 

Jika sudah mengingat itu, maka air matanya tak berhenti mengalir. Sambil menangkup tanganku dan menciumnya berkali-kali, bibirnya tak henti mengucapkan kalimat, "Maafkan, Aku."

**********

Setelah dua bulan observasi, bolak-balik ke rumah sakit, hingga kadang jenuh menguasai. Terdeteksilah penyebab sakitnya, kanker kelenjar getah bening. 

Sayang kami terlambat, kanker itu sudah tervonis stadium empat, menggerogoti sebagian besar kelenjar getah bening di bagian leher. Cepat kami memutuskan menjalankan semua proses yang ditawarkan tim dokter rumah sakit.

Pasca operasi, ini adalah kemoterapi ke empat, dari delapan tahap yang disarankan dokter.

Tubuhnya lemah tak berdaya setelah muntah berkali-kali. Biasanya setelah ini, tubuhnya terserang kejang. Aku hanya mencoba untuk selalu berada di sampingnya. Menggenggam tangannya, memeluk tubuhnya atau mengusap punggung sambil berbisik, "Sabar ya, Mas. Yang kuat ... Allah bersama hamba-Nya yang sabar."

Tapi kali ini, dia kehilangan kesadaran. Tubuhnya berpacu dengan waktu. Para suster cekatan membawa ke ruang ICU dan memasangkan berbagai selang dan kabel. Aku hanya mampu memandang diam, di balik kaca ruang ICU.

Pukul 03.25 dini hari saat seseorang menepuk pelan bahuku, membuat kembali ke alam sadar.

"Ibu, istrinya Pak Khayrul?"

"Iya, Pak."

"Dipanggil ke ruang ICU, Bu."

"Oh, iya ... makasih, Pak."

Lima menit aku sudah berada di samping pembaringannya. Ternyata dia tersadar dan meminta suster memanggilku.

"Mas, sudah sadar, alhamdulillah." Tak terkira rasa syukurku. Melihat wajahnya yang mulai berseri.

"Iya, kangen sama kamu," jawabnya sambil tersenyum.

"Hedeh, sakit aja bisa gombal, Mas."

"Aku ga gombal, aku beneran kangen sama kamu. Bisa bantu aku duduk?"

Sekeliling hening, dua suster jaga di pojok pun tampak terkantuk-kantuk.

Dalam posisi duduk, dengan masih berkalung selang oksigen dan dada yang tertempel beberapa kabel. Dia memandangku tak berkedip.

"Boleh, Aku, memelukmu?"

Senyum termanis kuberikan, sebelum akhirnya kami memagut menjadi satu. Sebuah pelukan terhangat yang pernah ia hadirkan. 

Tiba-tiba, dia terbatuk-batuk hebat. Kulepaskan pelukan memandang wajahnya yang memerah. Tanganku memencet tombol emergency di atas tempat tidur.

"Peluk," ucapnya lirih disela-sela batuk. Air mataku mengalir tak terkendali. Kurengkuh tubuhnya, ada sesak yang tak mampu keluar, membelenggu, menyebabkan nyeri yang teramat sangat di ulu hatiku.

Suster yang datang tak mampu melakukan apa-apa, diam terpaku menyaksikan. Batuk mulai menghilang. Entah apa yang tersirat dalam kepalaku, tiba-tiba mulutku bergumam.

"Laa ilaaha illallah, muhammadarrasulullah"

Lirih kudengar mulutnya berbisik kalimat yang sama, masih dalam dekapanku. Tiba-tiba tersentak, dan lemas.

Rasa nyeri itu makin menusuk, sebuah rasa kehilangan yang teramat sangat, dengan kepahaman, bahwa dalam beberapa jenak ke depan, aku takkan pernah melihat wajahnya lagi, untuk selamanya.

Air mataku makin deras.

- Samarinda, 4 April 2019 -

0 Response to "Cerita Mini: Kehilangan"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel