Tentang Hutang
Dialog Hati dan Logika
Ep. Tukang Utang
Hati terenyuh mendengar cerita Jumanten, yang hadir di rumahnya sepagi ini. Padahal embun saja masih enggan menguap, masih mager berleha-leha di atas daun. Matahari pun baru mengintip, sedikit mengutus sinarnya yang belum terlalu terang.
"Jangan percaya begitu saja sama ceritanya, Ti! Utang-utang yang kemarin, memang sudah lunas?" Logika hadir mengingatkan Hati.
"Hmm, belum sii ... tapi kasihan, dia butuh sekali tampaknya." Hati memandang Bu Jumanten dengan tatapan iba.
"Siapa manusia yang ga butuh uang. Emang kamu ga butuh, sampe tiap dia minjem, selalu kamu pinjemin."
"Ish, kamu tahu ... pahala memberi hutang itu lebih besar dari pada sedekah."
Mata Logika membulat lalu berkata, "Kalau gitu, jangan ribut kalau orang belum sanggup membayarnya. Ini kamu kan engak! Semua orang datang berhutang kamu kasih ... kalau mereka tidak tepat janji, kamu ghibahin. Hancur sudah semua pahalamu!" Logika mulai geram dengan sikap Hati.
"Yaa, kalau namanya janji mah beda lagi. Utang adalah utang, itu tetap menjadi hakku," jelas Hati dengan suara perlahan, lalu melanjutkan, "masa masih berhutang sudah posting-posting foto makan di restoran, beli baju baru ... ya kutagih, lah."
"Nah, kalau tahu dia begitu, kenapa kamu berikan lagi berikan lagi? Harusnya kamu sudah mampu memilah, mana yang pantas diberi mana yang tidak," ucap Logika.
"Aku nggak enak nolaknya." Akhirnya Hati mengakui kelemahannya.
"Jadi ini tentang iba, pahala yang besar, atau ketidakmampuanmu berkata tidak?" tanya Logika.
"Entahlah ...."
- Cengkareng, 30 Juli 2021 -
(Vera Dina Rahmawati)
0 Response to "Tentang Hutang"
Post a Comment