Dongeng Rekayasa



PUTRI (TAK BISA) TIDUR

Raja Yoga Sultan Basa NanMulie dan Ratu Sofia Hidayati, tampak duduk termenung di balkon lantai dua, Istana Pujangga. Wajah keduanya muram, mereka sedang mengingat kejadian tujuh belas tahun yang silam, saat Putri Roel dilahirkan.

Seorang nenek sihir bernama Siti Nur Q yang marah karena terlupa di undang saat aqiqahan Putri, kemudian mengeluarkan sumpah bahwa sang putri akan terkena kutukan di hari kelahirannya yang ketujuh belas.

"Apa yang harus kita lakukan, Rajanda?" Wajah ratu pucat, tak mampu sembunyikan cemas. Tangan saling meremas mencoba menyalurkan gelisah.

"Kita sudah menghancurkan semua mesin jahit yang ada di seluruh pelosok kerajaan. Dan untuk saat ini, tampaknya tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, Ratunda." Raja menunduk, mengusap wajah, pasrah.

Kutukan itu adalah di hari ulang tahun ke tujuh belas, jari putri akan tertusuk jarum dari sebuah mesin jahit yang berada di sekitar istana, tapi raja dan ratu tidak pernah tau apa akibatnya.

**********

Jelang sore, Putri Roel tampak gelisah, berkali-kali duduk dan berdiri. Berjalan mondar mandir di sekitar kamar. Sesekali memandang keluar melalui jendela besar di tengah kamar. 

Putri merasa serba salah, hatinya sesak tanpa tau apa sebabnya. Pikirannya kosong, seolah-olah ada suara yang mengajaknya berjalan. 

Menelusuri selasar belakang istana, sampai pada tangga batu melingkar, meniti anak tangga demi anak tangga, terus berputar, hingga Putri Roel terpaku pada sebuah pintu. Perlahan gerendel digerakkan, dan tenyata tak terkunci. 

Tampaklah sebuah ruang dalam menara,  berbentuk lingkaran, dengan jendela kecil agak ke atas mendekati langit-langit. Di ujung ruangan, sebuah mesin jahit tua, menarik perhatian Putri.

Satu-satu kakinya melangkah, matanya terpaku menatap mesin jahit tua, yang seumur hidup tak pernah dilihatnya. Jemari lentiknya, menyentuh dan mengelus bingkai mesin jahit. Menelusuri satu-satu bagiannya.

"Aaww ...!" teriak Putri, cepat ditariknya jemari dan tampak darah segar muncul dari bekas tusukkan jarum jahit, putri jatuh terduduk. 

**********

Sepertinya kutukan nenek sihir tidak berlaku, Putri Roel tidak mengalami kejadian aneh apa pun sampai tengah malam. 

Raja memerintahkan kamar putri dijaga, tak terjadi apapun terhadap putri. Putri terjaga sampai pagi, terlalu takut terhadap apa yang akan menimpanya.

Bersyukur seluruh kerajaan, Putri Roel tidak mengalami apa pun.

**********

Hari demi hari berlalu, wajah Putri Roel makin tampak kuyu. Wajahnya pucat, kantung matanya melebar dan menghitam, berhari-hari Putri Roel tak mampu memejamkan mata, putri lupa cara tidur!

Raja mulai memahami makna kutukan, Putri Roel dikutuk tak bisa tidur, hingga badannya kurus kering, wajahnya pucat dan kehabisan tenaga.

**********

Sebulan sudah Putri Roel tak memejamkan mata, kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Hampir semua tabib dipanggil untuk membantu menyembuhkan, tapi tak satu pun berhasil.

Penasehat menyampaikan pada raja, agar Putri Roel dicarikan pemuda yang bisa menerima kondisi apa adanya. Berharap dengan itu, penyakit tidak dapat tidurnya bisa terobati.

Namun, dalam kondisi yang memprihatinkan, tidak satu pun pangeran atau bangsawan yang mau menikahi sang putri, hingga akhirnya hadir seorang hulubalang, salah seorang penjaga kerajaan yang selama ini ditugaskan menjaga kamar tuan putri.

"Jika, Tuanku, mengizinkan. Saya bersedia menikahi, Putri," jelasnya pelan, penuh khawatir akan murkanya raja.

Tak disangka Raja menyetujui pernikahan Putri Roel dan hulubalang Yudi Ahsan. 

Akhirnya Putri Roel Faizah menikah dengan hulu balang Yudi Ahsan. Putri sembuh dari penyakitnya dan mereka pun hidup bahagia selamanya

- Samarinda, 15 April 2019 -

**********

Saat author bertanya pada hulubalang Yudi, apa rahasia kesembuhan Putri Roel. Hulubalang Yudi menjawab ....

"Cinta sejati bisa mengalahkan segalanya dan pelukan hangat dari orang yang mencintaimu, adalah obat paling mujarab memyembuhkan semua penyakitmu."

#eeeeaaaaaaa

0 Response to "Dongeng Rekayasa"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel