Cerita Pendek: Saat Derajat Terjerat

#nasihat

ALLAH YANG MENGANGKAT DERAJAT

"Assalamualaikum!" Suara berat milik Rizaul Kaffi.

"Walaikumsalam, ya Allah, Kaaf! Kamu kenapa?" kata Ummi Edyra Pratama pada anak gantengnya semata wayang.

Kaffi melempar tasnya sembarangan ke arah meja tamu, kemudian menghempaskan badan di atas kursi bambu, yang bergerak seperti mau patah menahan beban badan bongsornya.

Wajah Kaffi tak karuan, di mata kirinya ada bulatan hitam sebesar kepalan tangan. Sudut bibirnya pecah dihiasi darah yang mengering, dahi dan pipi dipenuhi pasir. 

Seragam putihnya berubah coklat, dengan sobekan di sekitar dada seperti efek ditarik paksa. Sedangkan celana birunya sobek di bagian lutut.

Edyra duduk di hadapan, dengan lembut bertanya, "Berantem lagi? Kapan kapoknya, sih?"

"Ummi, kalau hanya mendengar nama Kaffi dihina, masih bisa tutup kuping! Tapi kalau sudah bawa-bawa Ummi, Kaaf nggak terima!"

"Siapa? Mark Andes lagikah?" 

"Jangan mentang-mentang anak Pak Lurah Arie Singawidjaya, dia bisa menghina orang kecil seenaknya!"

"Trus kamu mau apa, Kaaf?" tanya Ummi lembut, "kamu hancurkan dia, tak kan memberi perubahan apa pun padamu!"

"Setidak-tidaknya dia tau berhadapan sama siapa, Mi." Suara Kaffi tegas. Terbayang tubuh Mark tergolek tak berdaya, setelah bogem mentahnya berkali-kali mendarat di wajah dan tubuhnya.

"Lalu kamu berhadapan dengan aparat hukum? Itu yang kamu harapkan? Lalu, Ummi mau kau titipkan pada siapa?" Suara lembut Ummi Edyra, dibarengi genangan yang mulai menerobos membasahi pipinya.

"Kaaf, bukan seperti itu melawan kedzoliman. Saat kau didzolimi, sesungguhnya tak ada sekat di antara doamu dan Allah. Berdoalah yang banyak, berdoalah yang baik! Untuk Ummi, untuk almarhum Abi, untuk masa depanmu.

"Balaslah dengan berbuat baik, karena kebaikan itu menular dan akan kembali kepada pelakunya.

"Balaslah dengan belajar yang benar, menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain. Jika itu terjadi, maka orang akan menyayangimu. Saat itulah sesungguhnya orang yang menghinamu sudah mengalami kekalahan."

Wajah Kaffi tertunduk, tangannya memainkan jari, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Ummi tercintanya.

Edyra melangkah kemudian duduk di samping Kaffi. Lembut diusapnya bahu.

"Berjanjilah Kaaf, Jadilah pribadi pejuang! Allah yang akan mengangkat derajat seseorang, jadi pantaskanlah dirimu agar Allah berkenan mengangkat derajatmu!" 

"Iya, Mi," lirih suara Kaffi hampir tak terdengar. Penyesalan menelusup ke dalam hatinya. Nasihat Ummi telah berhasil menuntun egonya yang sempat tak terkendali.

Hening ... kedua ibu anak larut dalam pikirannya masing-masing. Tiba-tiba ....

"Hai, Bajingan Kaffi, keluar kamu!" Suara seorang lelaki paruh baya dengan pakaian serba hitam dan rambut panjang, menyentak!

- Samarinda, 22 April 2019, 00.45 wita -

0 Response to "Cerita Pendek: Saat Derajat Terjerat"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel