Cerita Pendek: Kaulah Bintangku (Part. 2)


Kamulah Bintangku

Aku berdiri di depan pintu kamar. Menyaksikan sekeliling. Setelah acara makan malam tadi, adik-adik sudah masuk kamar, tersisa daddy dan mommy yang masih ngobrol di ruang keluarga.

Sesekali terdengar suara tawa Mommy. Beliau memang ekspresif, dibanding Daddy yang lebih tenang. Namun, mungkin itu yang membuat mereka selalu tampak romantis.

Melongok ke bawah dari balkon lantai dua, ternyata masih ada si usil Jo di sana, meletakkan kepalanya di pangkuan Mommy sambil otak-atik ponsel. 

Aku harus bicara sekarang, mumpung sepi.

Perlahan kuatur langkah menuruni tangga. Melangkah mendekati kedua orangtuaku tersayang.

"Daddy, Mommy, Awy, mau bicara," ucapku pelan

Daddy memandang penuh tanda tanya, dahinya mengernyit tapi ada senyum di bibirnya. Sedangkan Mommy, memandangku penuh arti.

"Mau ngomong apa, Sayangnya Daddy?"

"Itu, si pentol korek usir dulu!"

Sandy Jo tampak tak terima dengan ucapanku, badannya tegak.

"Apa sih, Kak Awy. Ganggu aja!"

"Biarin! Sana ... sana!"

Jo tampak enggan, malah bermaksud kembali tidur di pangkuan Mommy. Tapi tangan Mommy menahan punggungnya.

"Sudah sana! Kamu ke kamar!" kata Mommy

"Aaahhh, Mommy ...." Jo tampak tak terima.

"Jo, ayo hargai Kakakmu," tegas Daddy akhirnya.

Jo bergerak malas, menyeret langkahnya, begitu melewatiku ....

"Kak Awy, harganya berapa?" bisiknya di telinga, kemudian berlari menjauh.

Reflek melempar pulpen yang sejak tadi kupegang.

"Jooo ...!" teriakku.

Terasa ada yang memegang kepala, reflek kutolehkan wajah. Nampak Mommy sedang mengerling lucu.

"Jo, Mom!"

"Anak kecil diladeni."

"Duduk sini! Ada apa?" perintah Daddy.

Mengambil posisi duduk di sofa samping Daddy, kepalaku malah tertunduk, bingung mau mulai dari mana.

Daddy menyenderkan badannya, hingga Mommy masih bisa melihatku.

"Ada apa, My Lovewy?" 

Kalau Mommy sudah menyebutkan panggilan kesayangannya itu, rasanya lepas semua beban.

Akhirnya mengalir cerita tentang pertemuan dengan Rafif. Daddy dan Mommy mendengar serius. Kemudian ....

"Jadi, Rafif serius denganmu?" tanya Daddy.

"Awy sudah sampaikan, Awy tidak berniat pacaran."

"Awy, bisa menerima Rafif?" tanya Mommy.

"Awy ndak mau macam-macam, Mom. Cukup bisa memperlakukan Awy dan keluarga dengan baik serta membimbing Awy menuju syurga."

"Alhamdulillah ... akhirnya anak sulung Mommy menemukan nahkodanya, Barakallah ya, Sayang." Mommy mendekat dan memelukku. Mencium kening dan kedua pipi ... kalau sudah begini, dunia rasanya damai.

Daddy memandang kami dengan senyum.

"Bilang sama Rafif, sebelum dia ke rumah, suruh telepon Daddy, ya!"

********************

Hari ini tepat tiga pekan setelah aku menyampaikan pesan Daddy kepada Rafif dan itu adalah terakhir kami bertukar informasi. 

Aku tak berani bertanya pada Daddy, apakah Rafif telah menghubunginya. Begitu juga pada Rafif, ada keengganan besar yang tak mampu kulampaui. 

Puisi Rafif masih kusimpan ... kadang kubaca jika tak mampu lagi menghilangkan rasa gundah. Saat melihatnya online, ada keinginan mengirim pesan, namun selalu urung.

Mengingat peristiwa mengecewakan saat masa-masa SMU, teringat kembali wajah primadona SMU kami, Wiwi Wahyuningsih,  yang akhirnya membuatku mundur pelan-pelan dari persahabatan dengan Rafif.

Dicap sebagai cewek genius, aku tidak banyak dekat dengan laki-laki. Memilih berlama-lama di perpustakaan dan ruang klub science. Hanya Rafif yang dekat. Kami sering ikut berbagai lomba mewakili sekolah.

'Ikhlaskan, Awy! Jika dulu kamu bisa melepaskannya, maka sekarang pun pasti bisa.'

Dalam posisi terbaring, kutarik napas panjang lalu membuangnya perlahan, berharap sesak dada ini ikut luruh. Mataku menatap langit-langit kamar, tiba-tiba ada hangat yang mengalir darinya.

********************

Hari ini matahari terik sekali, sinarnya menyengat meninggalkan kering di tanah dan tenggorokanku.

Sampai di rumah, nampak ada yang berbeda. Mommy tampak sibuk di dapur ditemani Mbok Minah dan kedua adik kembarku, tumben mereka bisa akur.

"Alhamdulillah, sudah pulang, Wy. Segera siap-siap ya!" Mommy bicara tanpa menghentikan kegiatannya.

Aku terpana, ada apakah ini. Si kembar tampak senyum-senyum, mencurigakan.

"Ada apa, Mom?"

"Sudah, Kak Awy ... mandi sana!" Suara Whitney Allison Stone. Adikku yang paling acuh pun hari ini berbeda.

"Ada apa, Mom?" ulangku.

Mommy menghentikan aktifitasnya, kemudian mendekat, membisikan sesuatu. Mataku membulat dan tanpa sadar, bibir membentuk bulan sabit tertidur.

"Sudah sana mandi!" Kali ini suara si ceria NisaBi.

********************

Sejak siang mamak Yoga Sultan dan istrinya ibu Morning-dew dan om Arie Singawidjaya, kakak dan adik kandung Mommy, sudah sampai di rumah.

Waktu maghrib sudah berlalu, kami berkumpul di ruang tamu. Mommy mengatakan keluarga Rafif akan sampai kira-kira pukul tujuh. 

Persis lima menit sebelum pukul tujuh, dua mobil memasuki halaman rumah. Jantungku berdegup, tanpa irama.

Semua berkumpul di ruang tamu, Rafif tampak bersama kedua orangtuanya. Beberapa om dan tantenya, juga adik perempuan Rafif, Roel Faizah yang tampak menggendong anak. Sepertinya aku pernah melihat anak itu.

"Ulin Taslim, duduk sama ummi yang tenang ya!"

Wah, anak yang pernah menabrakku di planetarium, tanpa sadar bibirku tersenyum, anak gempal inilah yang mempertemukan aku dan Rafif.

Acara berjalan lancar, sampai kemudian ucapan Daddy ....

"Saya sudah sampaikan ke Rafif, Jika hanya datang untuk melamar, saya tidak bersedia menerima. Saya menantang Rafif untuk akad malam ini juga dan Rafif menerima. Apakah Bapak dan Ibu, sudah tau tentang hal ini?"

Informasi itu mengagetkanku, mataku membulat mulut ternganga ... kucari-cari wajah Mommy, mengapa biasa saja. Degup jantung makin tak karuan, udara yang masuk ke paru-paru pun makin terasa berkurang. Aku nanar. Akhirnya mencoba pasrah.

Beberapa jenak kemudian.

"Ananda Hasyman Rafif bin Fulan, saya nikahkan ananda dengan anak saya Awy Dewi binti Rendy Ramadhan dengan mas kawin berupa perhiasan emas seberat dua puluh lima gram, tunai!" Hentakan tangan Daddy, menyentak juga hatiku.

"Saya terima nikahnya, Awy Dewi binti Rendy Ramadhan, dengan mas kawin tersebut, tunai!"

Sah

Sah

Sah

"Barakallah, My Lovewy." Mommy memelukku erat, ada isak haru yang terdengar, bersamaan dengan menetesnya air mataku.

- Samarinda, 6 April 2019 -

0 Response to "Cerita Pendek: Kaulah Bintangku (Part. 2)"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel