Cerita Mini: Rahasia Ayah
#rahasia
RAHASIA AYAH
Kubuka pintu gudang, hawa pengap menyergap, gelap. Tangan meraba saklar, klik ... ruangan menjadi terang tapi tidak mengurangi terhisapnya udara penuh debu.
Masuk sambil menutup mulut dan hidung dengan untaian jilbab, mencoba mengurangi kuantitas debu yang mendesak masuk ke dalam paru. Bergegas mendekati tumpukan buku bekas di pojok ruangan, tangan mulai mencari dan memilih, beberapa buah buku penting untuk persiapan UN SMU.
Tak sengaja, sebuah agenda cokelat menyembul dari tumpukan buku-buku tua, karena mengganggu, kutarik agar tak menghalangi pencarianku, sebuah lipatan kertas terjatuh dari dalamnya.
Tanpa pikiran macam-macam kuambil dan kubuka lipatan kertas tersebut. Isinya membuatku terpana.
********************
Benda bulat di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi biasanya kalau malam minggu seperti ini, ayah sering duduk di teras sekadar santai memandang langit.
"Yah ...." sapaku pelan.
"Hmmm?" jawabnya sambil tetap bersender di kepala kursi, menengadah.
"Ayah, sehat?" Ah, jadi malu sendiri mendengar pertanyaanku.
"Hah?" Wajahnya beralih menatapku, "ada apa nih? Kok aneh?"
"Ada yang ayah mau ceritakan padaku?"
Dalam keremangan yang ayah ciptakan dengan mematikan lampu teras, berharap pada sinar purnama dan bias lampu jalan yang persis tegak di depan rumah kami, dapat kulihat ekspresi wajah herannya.
"Memang kamu mau ayah cerita apa?" Tangannya mengelus lembut pucuk kepalaku yang tertutup jilbab.
"Tentang ... kerja di manakah ayah sekarang?"
Ayah menegang, ditarik tubuhnya menjauhiku. Sekilas tampak masih memandang sebelum akhirnya kembali menengadah memandang bulan.
"Seorang ayah adalah tulang punggung keluarga, Anakku! Dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan istri dan anak-anaknya!"
"Apakah ini ada hubungannya dengan kondisi tangan dan kaki ayah yang pecah-pecah dan melepuh?" Suaraku mulai bergetar, sekuat tenaga menahan jatuhnya air mata.
"Buat laki-laki, tak penting raganya dekat pada kematian, demi memberi kehidupan pada orang-orang yang disayanginya." Suara itu begitu tenang.
Aku yang kemudian tak mampu menahan bendungan netra, jatuhnya tak lagi satu-satu tapi mulai mengalir seperti sungai.
"Terima kasih, Ayah. Aku janji akan belajar rajin, meraih cita-cita dan mengangkat derajat ayah."
"Ayah, menunggu saat itu, Nak. Buktikan!"
Badanku bergerak memeluk tubuhnya. Ternyata tanpa kusadari tubuh itu makin kurus. Air mata membasahi bahunya. Terisak.
- Danau GTS, 14 Maret 2019 -"l
0 Response to "Cerita Mini: Rahasia Ayah"
Post a Comment