Bijaklah dalam Bermedia Sosial
Ruang Seminar Sajak Senja Regional Kalimantan
Ahad, 11 Desember 2022, pk 20.00 WITA
Pertama, ingin mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada pihak admin Sajak Senja regional Kalimantan, yang telah mempercayakan materi ini. Kemudian, terima kasih juga kepada seluruh peserta seminar, yang sudah berkenan hadir menyimak malam ini.
Kalian keren! Berkumpul untuk memberi dan mendapatkan kebaikan. Dan, sesungguhnya inilah salah satu fungsi positif sosial media.
Sebelum masuk materi, kita kenalan dulu, yaaa ... mungkin di antara teman2 ada yang tidak mengenal saya 🙏
Nama Vera Dina Rahmawati, Ummi dari tiga putri; pertama semester tiga fak hukum Universitas Mulawarman Samarinda, putri kedua kelas sepuluh di MAN Model Samarinda, dan si Bungsu adalah siswa kelas empat di HSG Khairu Ummah Samarinda. Dan, Mommy dari ribuan anak senja, yang senangnya bucin sama bacain puisi-puisi galau.
Profesi utama sebagai IRT, selain itu bekerja di keuangan koperasi, trainer di sebuah lembaga manajemen, dan konsultan kurikulum pendidikan. Sampai saat ini juga sedang berusaha menyelesaikan skripsi yang tertunda, di Fak Psikologi Univ Azzahra.
Cuma punya satu Abang Yayank, soulmate sedunia sesyurga, berprofesi sebagai lawyer. Saat ini lebih fokus menjadi pendukung cita-cita anak-anak. Bisa berinteraksi di WA 081398584477, atau FB, IG, Tiktok, Twiter dengan inisial "Veradina Rahmawati".
Okeh ....
Lanjut kita masuk kepada materi yang dipercaya panitia seminar kepada Mommy, yaitu *"Bijaklah dalam Bermedia Sosial"*.
Clue yang ditetapkan panitia:
*Karena banyak orang yang menggunakan media dengan cara yang salah. Seperti; memamerkan segala sesuatu yang ada, menghujat tanpa ada tujuan yang jelas, membikin suatu omongan jahat dalam status mereka untuk jatuhnya seseorang, dll.*
Hasil penelitian yang diangkat oleh sebuah situs bernama IndonesiaBaik.id:
Pada tahun 2017, pengguna media sosial memiliki angka yang sangat signifikan yaitu 92,82%. Jika dinyatakan sebagai angka, maka sekitar 257 juta dari 277 juta masyarakat Indonesia adalah pengguna media sosial. Dengan berbagai macam jenis media (WA, FB, Instagram, Tiktok, Twiter, dll).
Jadi bisa dikatakan, hampir seluruh orang di negara ini, sudah terhubung di dunia maya.
Kemudian kita bicara tentang kategori pengguna media sosial. Ada tiga yang kita temukan:
1. Yang medsosnya terhubung dengan hanya circle-nya di duta
2. Yang membuat circle baru, dan tak sama sekali bersinggungan dengan duta
3. Yang menggabungkan keduanya
Untuk type 1 dan 3, karena teman-teman online atau sebagian FL-nya adalah juga teman-teman yang bertemu atau pernah bertemu dalam keseharian, maka bisa dipastikan jika apa yang dimunculkan di media sosial adalah juga karakter yang akan ditemui dalam kehidupannya sehari-hari.
Dalam arti, orang-orang seperti ini tidak mungkin berbeda terlalu jauh dari apa adanya dia. Jika dalam kehidupannya memiliki karakter humble, maka dalam bermedsos pun pasti cenderung humble dan senang berteman.
Yang membahayakan adalah pengguna medsos karakter nomor dua, saat tak seorang pun dari FL-nya paham bagaimana kehidupan dutanya. Orang-orang seperti inilah yang kemudian bebas menentukan "mau jadi apa", bahkan hingga menimbulkan kerugian bagi orang lain.
Untuk yang berada dalam satu komunitas hobbi, atau profesi, atau satu bidang tertentu. Contohnya kita, yang saat ini sedang berada dalam sebuah komunitas literasi. Dunia literasi itu besar, selain grup atau circle kita, banyak bertebaran grup dan circle-circke literasi yang lain. Dan, pasti kita banyak menemukan akun tanpa identitas.
Akun tanpa identitas, adalah akun dengan nama tidak biasa, tidak memberi banyak info tentang kehidupan dunia nyatanya, tidak pernah diketahui wajah atau perawakanya. Nah, hati-hati, lah!
Jangan pernah berprasangka buruk, tapi kita wajib waspada. Kita berteman baik, tapi tidak kehilangan kehati-hatian. Kita bisa bergaul dengan akrab di dunia tulisan, tapi kita harus menjaga saat ada permintaan hubungan yang lebih jauh, misalnya jadi teman dekat, partner bisnis, dan semacamnya.
Kita kembali ke judul "Bijaklah dalam Bermedia Sosial", maka ini adalah seruan untuk kita sebagai pengguna aktif media sosial.
Bagaimana media sosial benar difungsikan sebagai sarana menjalin silaturahmi, berdiskusi tentang berbagai hal yang sedang fyp, mencari ilmu, dll. Penggunaan media sosial, jika sudah dikaitkan dengan fungsi positif, pasti akan dijalankan juga dengan sikap-sikap yang positif.
Bagaimana bersikap positif dalam bermodsos?
1. Beri informasi tentang kita, karena setiap nama dalam FL punya hak mengenal kita secara jelas, walau hanya permukaan. Jika salah satu fungsi sosmed untuk silaturahmi, maka sepantasnyalah kita munculkan data diri.
Pengguna sosmed yang tidak menunjukkan data diri, biasanya memiliki hal atau niat-niat khusus dalam bersosmed.
2. Tidak memaksa orang lain menerima permintaan pertemanan kita, karena setiap orang berhak atas circle-nya masing-masing. Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan, tiap orang berhak memilih siapa yang akan dijadikan teman
3. Memberi komentar yang baik, dengan kalimat yang sopan. Bahasa menunjukkan akhlaq, baik lisan maupun tulisan.
4. Menyaring informasi, menghindari akun-akun provokatif, negatif, dan tidak mudah terhasut berita-berita negatif, serta tidak mengangkat tema-tema yang bisa menimbulkan perdebatan di media sosial
5. Niat untuk memanfaatkan media sosial secara maksimal untuk hal-hal yang positif saja
Kemudian, kita back to clue yang diminta panitia, yaaa ....
Jika kita telaah clue yang diberikan panitia:
"Banyak orang yang menggunakan media dengan cara yang salah. Seperti; memamerkan segala sesuatu yang ada, menghujat tanpa ada tujuan yang jelas, membikin suatu omongan jahat dalam status mereka untuk jatuhnya seseorang, dll."
Jelas, kita mengupayakan untuk tidak menjadi orang yang disebutkan dalam statemen itu.
Namun apa jadinya jika kita berada dalam posisi netizen, yang membaca tulisan seperti itu?
Bukankah kita juga harus jadi netizen yang bijak?
Yap!
Menjadi pengguna sosmed yang bijak, bukan hanya saat kita menulis atau memposting sesuatu, tapi juga saat kita membaca atau melihat sesuatu. Jangan menjadi netizen yang emosional, atau bahkan berkomentar tanpa kontrol.
Bagaimana menjadi netizen yang bijak?
Diambil dari sebuah artikel di MediaIndonesia.com
1. Gunakan bahasa yang sopan
Mengingatkan kembali bahwa bahasa menunjukan akhlaq. Hanya orang yang memiliki akhlaq baik, yang mampu menata kalimat-kalimatnya
2. Hindari informasi yang sensitif (SARA)
Bukan berarti tidak boleh bicara tentang suku, agama, ras dan antar golongan, tapi mampu mengemas tulisannya menjadi satu informasi yang berisi ilmu atau wawasan, tanpa menimbulkan sakit hati atau ketersinggungan dari satu pihak tertentu
3. Hargai hasil karya orang lain (dengan mencantumkan sumber)
Selalu, ya! Karena setiap naskah atau postingan itu, selalu dikerjakan dengan pemikiran yang tidak mudah, maka hargailah!
4. Berhati-hati dalam meneruskan informasi (cek sebelum share)
Pastikan hanya meneruskan informasi yang berasal dari sumber yang jelas. Misalnya kondisi gempa kemarin, banyak foto dan video yang berseliweran. Jika kita sembarangan share, bukan menjadi informasi malah bisa menjadi penyebab keributan
5. Meminimalisir informasi pribadi.
Kita tidak bisa memastikan, bahwa yang membaca postingan kita, adalah orang baik. Berbagai macam orang terhubung di sosmed, macam-macam juga niatnya. Tak menutup kemungkinan orang yang berniat jahat pun ada
Okeh, mungkin itu yang bisa dipaparkan malam ini. Jika ada manfaanya, semoga jadi amal jariyah, jika ada yang salah ... mohon dimaafkan seikhlas-ikhlasnya.
Terima kasih atas waktu dan kesempatannya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
0 Response to "Bijaklah dalam Bermedia Sosial"
Post a Comment