Saat Remaja Mampu Cerdas dalam Bergaul
Seminar 1# Anniv SS Riau
27 Januari 2022
Pkl. 20.30 Wita
Assalamualaikum, jumpa lagi dengan Mommy-nya anak Senja. Kalau kamu tergabung dalam komunitas literasi Sajak Senja, fix ... artinya kamu anak Mommy. Hehehe
Tinggal di Samarinda, punya tiga putri kandung. Saat ini sedang berusaha menyelesaikan S1-nya di jurusan psikologi. Punya beberapa buka antologi, tapi belum berani punya novel ... karena, azamnya mau nyelesaikan skripsi dulu baru boleh ngelirik novel. Uluh ....
Kali ini Mom diminta bahas tema "Remaja yang Cerdas dalam Pergaulan". Seperti biasa, Mom pengen utak-atik judul.
Apakah ini soal remaja cerdas - bergaul? Atau remaja - bergaul cerdas. Rasanya semua remaja butuh bergaul, dan cerdas selain terhubung oleh otak, terhubung juga oleh hati.
Jadi, Mom ambil judul "Remaja, yang Mampu Bergaul Cerdas".
Apa tujuan pembahasannya? Mengarahkan remaja, untuk mampu memilih teman, lingkungan pergaulan, dan berani caw dari pergaulan toxic.
Remaja awal (usia 13-15), remaja tengah (16-18), dan remaja akhir (18-21), sama2 memiliki karakter galau. Wajar, karena masa ini adalah masa peralihan dari usia kanak-kanak ke usia dewasa.
Usia remaja adalah usia yang sudah punya keinginan sendiri, tapi masih bergantung pada orangtua untuk memenuhi keinginan tersebut.
Adalah masa di mana seseorang sudah merasa besar, tapi masih selalu diarahkan, diawasi, diperintah, dan di-di lainnya oleh orang tua. Mengapa? Yaaa karena masih bergantung secara ekonomi, masih tinggal di rumah orangtua, dan masih makan dari hasil keringat orangtua.
Remaja dan orangtua itu, hampir tidak pernah tidak berkonflik. Orangtua yang merasa lebih tahu yang terbaik untuk anaknya, berhadapan dengan remaja yang merasa lebih tahu dunianya. Atau bisa jadi, orangtua yang menyerahkan semua ke remajanya karena menganggap sudah besar, berhadapan dengan remaja yang merasa masih butuh pendampingan dan nasihat.
Intinya, di mana pun remaja berposisi, dia tetap akan merasa kurang, merasa tidak sesuai. Yang orangtuanya perhatian dianggap mengekang, yang orangtuanya percaya, dianggap mengabaikan ... itulah remaja.
Lalu muncullah devent pada diri remaja. Pertahanan yang berbisik kalo, "Gue bukan anak kecil. Gue ga layak diperlakukan kek gini." Kemudian memilih untuk mencari lingkungan yang lebih kondusif dan sesuai dengan keinginannya.
Yang merasa kurang perhatian mencari lingkungan yang membuat dia diperhatikan, yang merasa dikekang mencari lingkungan yang bisa memberi dia kebebasan.
Bolehkah? Boleh, koo. Silakan aja. Karena salah dua tugas perkembangan remaja adalah mencapai kebebasan emosional dari orang dewasa dan mampu membina hubungan dengan anggota kelompok terutama yang berlainan jenis.
Untuk mencapai tugas2nya itu, remaja memang harus bergaul. Memiliki lingkungan pertemanannya sendiri. Kemudian belajar mengerti orang lain, berkomunikasi, menjalin hubungan, dan mengatasi emosi dalam hubungannya dengan orang lain tersebut.
Nah, kaitannya dengan lingkungan pergaulan inilah, remaja harus cerdas. Tidak hanya memilih lingkungan yang bisa memberikan kepuasan, tapi mampu juga memberi nilai positif bagi perkembangan mental, tubuh dan pikirannya.
Apa yang harus dilakukan, dan bagaimana cara memilihnya?
1. Ikhlas
Apa pun yang terjadi di rumah, ikhlaskan dulu. Mau seperti apa pun posisimu di rumah; sebagai anak yang kelewat dikekang, sebagai anak yang merasa diabaikan, sebagai anak yang di nomor duakan ... IKHLASKAN! Semua ga kelewat dari takdir Tuhan.
2. Cari lingkungan yang "sama" dengan kamu dan patuh aturan. Sama sekolah, sama hobi, sama lingkungan rumah. Menjagamu dari kondisi-kondisi provokatif atau dominan, atau hal-hal negatif lain.
Contoh
Satu sekolah: kegiatan ekskul, Pramuka, OSIS
Satu hobi: club' futsal, komunitas gowes, grup literasi
Satu lingkungan rumah: remaja masjid, karang taruna
3. Dalam pergaulan; ada teman, ada sahabat, ada wali. Yakinkan kamu memilih sahabat yang seimbang denganmu. Bagaimana mengukurnya?
- Mau cerita tentang dirinya dan mau mendengarkan ceritamu
- Memberi sebanyak yang kamu beri
- Tidak ragu menolong atau memberi nasihat, sebagaimana yang kamu lakukan juga
- Mau datang ke rumahmu dan mengajakmu mengunjungi rumahnya
4. Hindari teman toxic. Seperti apa itu?
- Hanya mau didengar
- Sering minta, tapi jarang memberi
- Mendominasi, dan tidak meminta pendapatmu
- Memuji/ mencelamu berlebihan
- Tidak peduli dengan kedatanganmu, tapi mendekat jika butuh sesuatu
Jangan ragu untuk keluar dari lingkungan pertemanan toxic. Buang pikiran kamu ga punya teman, atau ga ada yang mau nerima kamu. Pada hakikatnya, sejahat2nya manusia, mereka mencari teman yang baik. Jika kamu bisa jadi teman yang baik, maka kamu bisa masuk ke lingkungan mana pun
5. Tak mudah baper, tersinggung, ngambeg, dan yang sebangsanya. Jika lingkunganmu baik, teman2mu positif, memberi manfaat untuk hidupmu ... pertahankan! Jangan keluar cuma karena beda pendapat, atau tersinggung karena pendapatmu tak didengar. Perbanyak sabar, mudahlah mengalah, dan yakinkan kepada teman2mu, kalau kamu adalah teman yang baik
Ok, itu yang bisa Mom sampaikan. Semoga bermanfaat, yaaa ....
0 Response to "Saat Remaja Mampu Cerdas dalam Bergaul"
Post a Comment