Cara Sederhana Mengatasi Trauma

Assalamualaikum, Honey Bunny Sweety. 

Jumpa lagi dengan Umminya tiga mutiara, dan Mommynya ribuan anak senja. Lahiran Jakarta, lalu memilih membangun kehidupan di Samarinda. Jangan tanya soal usia, karena Mom ga suka dianggap tua. Hmmm ... kamu bisa menyebutnyaaaa, lebih dewasa dan lebih bijaksana. Uhuy!

Senang bercanda dan tertawa, hobby traveling dan membaca, juga menulis banyak kata cinta, eaaakkksss. Paling suka, nyomblangin jomlo yang merana, biar hidupnya indah dan banyak warna. Hahaha.

Skip, udah ngegombalnya, ya! 😍

Thanks kepada semua jajaran Admin SS Bandung Raya, udah kasih Mom kepercayaan. Thanks juga buat teman-teman yang sudah menyisihkan waktunya untuk hadir di sini. Semoga apa yang kita lakukan saat ini, menjadi jalan dipermudahnya kita menemukan kebaikan.

Hari ini Mom dikasih kepercayaan untuk membahas judul "Cara Sederhana Mengatasi Trauma". 

Serius Mom ada cara sederhananya? 

Sebenarnya tak semudah itu juga. .. tergantung type kepribadian, dalamnya trauma, keinginan diri untuk sembuh dan kondisi lingkungan di sekitar.

Tapi Mommy tetap lebih percaya, bahwa hidup kita adalah milik kita. Kita yang atur mau jadi apa, karena doa dan ikhtiyar adalah hak kita, maka Allah akan mengijabahnya lewat perantaraan doa-doa kita.

Satu lagi ... seberapa besar keyakinan kita, bahwa perubahan dalam hidup, tidak akan pernah terjadi kecuali dengan upaya kita sendiri. Lalu, sudah seberapa keras kita mengupayakan perubahan itu? Percayalah, bahwa Allah akan mengubah nasib kita, kalau kita berusaha mengubahnya (QS Ar Ra'd: 11)

Kita bicara dulu soal trauma. Apa itu trauma?

Dalam kamus psikologi Caplin, trauma adalah luka, baik yang bersifat fisik maupun psikhis

Menurut KBBI Daring Kemendikbud, trauma adalah (1) keadaaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani (2) luka pada tubuh

Menurut American Psychological Association, trauma adalah respon emosional yang diberikan oleh seseorang atas kejadian buruk seperti bencana alam, kecelakaan, atau pun kekerasan seksual. Seseorang dapat mengalami trauma karena kejadian yang mengancam dan berbahaya, secara fisik maupun psikhis.

Jadi trauma itu apa?

Kita simpulkan aja dari beberapa keterangan di atas, yaa ....

Trauma adalah respon yang muncul akibat adanya luka fisik ataupun psikhis, yang disebabkan oleh terlibatnya subjek pada sebuah kejadian yang membahayakan atau mengancam dirinya.

Ada 4 type trauma:
1. Trauma akut: terjadi akibat satu kejadian traumatik (contoh kecelakaan)
2. Trauma kronis: terjadi akibat kejadian traumatik yang berulang-ulang (contoh buliying, kdrt)
3. Trauma kompleks: terjadi akibat beberapa kejadian traumatis yang berbeda (contoh anak dengan kekerasan rumah tangga, yang melihat ibunya mati dipukul ayah)
4. Trauma sekunder: terjadi akibat berada dekat dengan subjek yang mengalami trauma (contoh suster yang menangani pasien trauma) *

*Aidohealth, Kementerian Kesehatan RI

Apakah semua orang punya trauma? Yang pasti semua orang pernah luka. 

Apakah itu bisa menjadikan trauma? Bisa saja, tapi tidak ada yang bisa menghakimi, karena ringan sedang atau beratnya trauma hanya si penderita yang tahu.

Bahkan jatuh dari motor tanpa lecet pun bisa membuat trauma, hingga si pelaku tidak mau lagi naik motor. Karena setiap berada di atas motor, tubuhnya gemetar, keringat dingin dan napasnya sesak. Lalu apakah kita yang berkali-kali jauh dari motor tanpa trauma sedikit pun boleh mentertawakan mereka? 

Tidak sama sekali!

Karena basic manusia tetaplah Allah ciptakan berbeda.

Kita pun tidak bisa mengatakan seseorang yang mengalami gempa bumi, rumahnya rubuh, beberapa tetangganya meninggal dan dia masih bisa tersenyum ... tidak trauma. Bisa jadi di dalam dirinya sedang berperang mengatasi trauma. Hanya dia menutupinya dari orang luar. Maka bijaklah menyikapinya.

Jadi sikap kita jika berhadapan dengan penderita trauma adalah:
- berempati
- mengerti
- membantu, jika perlu

Lalu bagaimana jika kita yang trauma?

Kembali Mom ingatkan, bahwa mengatasi trauma sampai tak tersisa tergantung dari type kepribadian, dalamnya trauma, keinginan diri untuk sembuh dan kondisi lingkungan di sekitar.

Namun, sebagai P3T--Pertolongan Pertama Pada Trauma, kita bisa melakukan beberapa hal, atau bisa kita bantu penderita trauma dengan melakukan beberapa hal:

1. Yakin

Bahwa tidak satu pun yang menimpa kita di luar dari kuasa Allah. Apa yang ditetapkan untuk kita, maka itu akan mendatangi kita tanpa halangan.

Sudah berusaha hati-hati di jalan, mematuhi semua peraturan, tidak melanggar apapun ... saat Allah menetapkan kita harus kecelakaan (na'dzubillah tsumma na'udzubillah), maka kita tak punya daya menolaknya.

Pernah dengar pepatah "Pengalaman adalah Guru yang Paling Baik"? 

Maka yakinlah, bahwa semua yang kita alami ada hikmahnya. Entah untuk kita atau untuk orang lain yang melihat/ mengetahui. Ikhlaskan semua kejadian buruk, makin waspada untuk menghindarinya, belajar mencari hikmahnya dan makin kuat untuk menghadapi tantangannya.

So, jadikan penyebab traumamu sebagai guru terbaik. Agar kamu makin jeli menghindari penyebab kejadian buruk, makin paham bagaimana menyiapkan diri, dan bisa juga untuk membantu orang lain meenghindari kejadian buruk.

2. Keluarkan

Apapun yang kamu rasakan, keluarkanlah!

Ceritakan pada orang yang bisa kamu percaya, minta tolong dia memotivasimu, memberi masukan, dll. Kalau butuh tenaga ahli, jangan malu untuk mencari, karena hidupmu terus berjalan dan kamu harus mempersipkannya untuk kondisi masa depan yang lebih menantang.

Jika tak mampu cerita, tulis! Tulis apapun yang kamu rasakan. Tuliskan apapun yang terpikir oleh otakmu, tak perlu diedit. Tuliskan apa adanya. Lalu baca berulang-ulang hingga rusuh hatimu mereda.

Jika kamu takut tulisanmu dibaca orang, robek sampai menjadi serpihan kecil. Lalu buang ke tempat sampah.

Ingat, menulis adalah salah satu terapi hati. Mungkin di awal kita sulit memulai, tapi jika kita sudah menggunakan cara ini berkali-kali, kita akan semakin mudah mengungkapkan. Menulis juga sarana mengeksplorasi isi pikiran dan perasaan terdalam, dan bisa meringankan hal-hal traumatis yang pernah dialami.

3. Self Hypnosis dan Afirmasi 

Pernah dengan terapi self hypnosis? 

Menghipnotis diri sendiri, atau mensugesti pikiran sendiri dengan afirmasi-afirmasi positif yang menguatkan kita. Tidak ada efek samping, justru menghindarkan kita dari over thinking, ketakutan, atau perasaan negatif lainnya.

"Saya sehat."
"Saya tidak apa-apa."
"Saya berani menghadapi ...."
"Saya mau mencoba ...."

Untuk self hypnosis butuh waktu-waktu tertentu, dengan tempat yang tenang, dan tubuh yang relaks. Bisa dilakukan saat habis sholat atau ibadah, mau tidur, atau moment lain yang kita ciptakan. Untuk lebih menguatkan dan memberi efek maksimal, sertakan Allah dalam self hypnosis kita. Sandarkan semua pikiran positif kita pada kehendak-Nya.

Untuk afirmasi, tidak butuh tempat atau waktu khusus, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Teruslah manfaat pikiran bawah sadar kita, untuk memberikan pesan positif kepada otak, hati dan tubuh kita. Untuk kaum muslim, bisa ditambah dengan kalimat istighfar dan kalimat tahmid lainnya.

4. Hadapi

Lari dari masalah tidak akan membuat kita sehat, apalagi sembuh. Mengobati luka, harus berhadapan dengan lukanya, mengobati trauma harus berani berhadapan dengan penyebab traumanya. Mengatasi rasa takut yang ada, lalu memaksa diri beradaptasi dengan itu.

Misalnya trauma pada ruang gelap. Maka perlahan dan bertahap, memaksa diri berada di ruang dengan pencahayaan yang sedikit demi dikurangi, terus hingga benar-benar tak ada cahaya. Setiap tahapan butuh usaha kuat dan energi yang besar, maka penderita trauma harus mampu membuat pikiran, hati dan tubuhnya relaks dengan menggunakan point no. 3.

Untuk beberapa kondisi, tentu tidak mungkin menghadapi kondisi real penyebab trauma, seperti trauma akibat bencana alam, akibat kekerasan, dll. Makna dari "berani menghadapi" berarti, mencoba, mengupayakan, berusaha mengingat/ membayangkan kembali apa yang pernah dialami. 

Lalu apa yang dilakukan?

Mencoba menerima apa yang telah terjadi, ikhlas tanpa batas. Lalu berdamai dengan memori yang terlanjur masuk ke dalam laci otak kita. Ingatan itu ada, tapi kita usahakan untuk tidak mengganggu hidup, tidak menghalangi upaya kita meningkatkan kualitas diri kita. **

** Alodokter - Kementrian Kesehatan RI

Apa yang Mom paparkan di atas, adalah upaya paling ringan dan paling mungkin kita lakukan. Namun, jika kamu merasa tidak mampu, jangan dipaksa! Sayangi dirimu, berarti dia butuh tenaga ahli untuk membantu. 

Datangilah para psikolog atau psikhiater, untuk membantumu keluar dari kondisi negatif yang membelenggu. Jangan karena soal uang kalian bertahan. Saat ini, psikolog sudah bisa diakses di RSJ kota atau kabupaten, gratis pake BPJS!

Okeh, yaaa ....

Demikian yang bisa Mom berikan, semoga bermanfaat. Kalau ada yang salah, Mom minta maaf dam mohon ampun pada Allah.

Billahi tawfikwalhidayah
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


 

0 Response to "Cara Sederhana Mengatasi Trauma"

Post a Comment

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel