Cerita Pendek: Mahar
MAHAR
Tuuliluut
Tuuliluut
Ponsel bergetar, melirik sedikit, sebuah nomor yang kukenal walau belum tersimpan. Nomor seseorang yang dua pekan lagi akan menghalalkanku.
Tak ada rasa merah jambu menerima panggilan itu, perasaan ini datar saja. Sebuah penghormatan besar untuknya yang berhasil dengan sukses meminang gadis galak macam aku.
"Assalamualaikum," sapaku datar.
"Walaikumsalam, maaf mengganggu. Mau bertanya soal mahar. Kamu mau apa?" tanyanya.
Aku termenung, duduk di depan TV yang ribut sendiri. Kukecilkan volumenya dengan remote.
Sebagian penghuni rumah pergi menghadiri undangan, tersisa aku dan kakak yang asyik dengan novelnya di ruang depan.
"Haloo, masih adakan?" Suara lelaki itu mengagetkanku, "jadi mau mahar apa?"
"Hmmm, aku punya keinginan, semoga tidak memberatkan."
"Selama aku sanggup, insya Allah kupenuhi."
"Aku minta dua saja, murah tapi tak mudah."
"Ok, aku dengarkan," jawabnya.
"Yang pertama sabar, bisakah?" ucapku lalu menyengaja diam.
Hening.
Suara detak jam terdengar kencang, seolah menemani kami. Perbincangan jelang pernikahan yang jauh dari kesan romantis. Jangankan bicara tentang bulan madu, berhubungan dengan ponsel saja, jarang.
"Hhh," embusan napasnya terdengar. "Okelah," lanjutnya.
"Yakin? Seumur hidup, loo," ujarku mencoba santai.
"Insya Allah," jawabnya tegas. "Yang kedua apa?"
Mendengar ketegasannya, tersungging selarik senyum di bibirku.
"Yang kedua, cincin emas. Terserah bentuk, berat dan harga, intinya tidak memberatkan."
"Diukir namakah?"
"Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat cincin dari perak dan diukir. Kemudian Beliau bersabda: Sesungguhnya aku membuat cincin dari perak, dan aku ukir Muhammad Rasulullah. Karena itu, jangan ada seorangpun yang mengukir dengan tulisan seperti ini. Hadist riwayat Bukhari nomor 5877," jawabku sok tau, padahal baru baca postingannya mbak Sofia Hidayati di grup KPFI, tadi pagi.
"Oo, ok ... thanks juga sudah kasih ilmu," suaranya mulai terdengar biasa, dan larik senyumku makin melengkung.
"Your welcome."
"Soal cincin, kamu jalan aja sama mamaku, ya! Silahkan pilih yang kamu mau."
"Hah? Sama Mamamu?" teriakku tak sadar. Runtuh seketika pertahanan jaim ini.
"Iya, memang mau kalau jalan sama aku?"
Jiah, bisa juga makhluk ini menggoda. Namun tak kujawab, lama ... sepertinya berhasil membuat dia salah tingkah.
"Maaf, ga serius ... bercanda aja, kok!" Suaranya memelas. Huh emang enak kukerjai! Aku masih tersenyum dalam diam.
"Maaf, ya. Sudah itu aja kok yang mau kutanyakan. Terima kasih, Assalamualaikum." Ponsel pun ditutup.
Senyumku makin lebar, disebabkan oleh rasa senang dapat membuat makhluk itu salah tingkah.
Aku kembali termenung, menatap layar kaca yang terus saja menayangkan gambar-gambar yang tidak sepenuhnya aku mengerti, kemudian ingat pertanyaan seorang teman ....
"Kamu menerima pinangan dia? Tanpa cinta? Sedikit pun? Kok bisa?"
"Bisalah! Pernikahan tak melulu tersebab cinta! Lebih butuh komitmen, saling menghargai dan keinginan memberi," jawabku sok diplomatis. Namun, aku yakin sekali dengan jawabanku.
Tung
Bunyi pesan WA membuyarkan lamunan. Mengambil ponsel dan membukanya, sebuah pesan dari nomor yang barusan menelponku.
(Maaf, aku cuma bercanda. Jangan marah, yaa)
Hahaha ... dan pecahlah tawaku, sendirian.
- Samarinda, 7 Mei 2019 -
0 Response to "Cerita Pendek: Mahar"
Post a Comment